Resensi Buku
Kesaksian Pilu dari Pendekar Kaumnya
Jum'at, 25 Januari 2008 - 17:56 wib
Arpan Rachman - Okezone
BERAPA orang di antara kita yang tahu benar apa yang sesungguhnya terjadi pada huru-hara politik tahun 1965?
Saya hanya mempunyai satu keinginan sebelum saya mati. Yaitu... bertemu keluarga jenderal-jenderal itu. Saya mau menceritakan kepada mereka, saya bukan pembunuh jenderal apalagi penyayat-nyayat penis mereka... (halaman 73).
Benarkah para aktivis perempuan dari Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) eksekutor kematian enam jenderal dan seorang perwira menengah di Lubang Buaya pada lembar sejarah yang paling hitam bagi Republik ini?
Buku "Suara Perempuan Korban Tragedi '65" memberikan sebuah jawab tunggal. Dan jawab itu, adalah bukan. Sangat mungkin dan tentunya boleh diperdebatkan jika ada bukti "lain" yang berbeda dari apa yang diketahui dari buku ini.
Tapi kenyataan yang disajikan Ita F Nadia sukar dielakkan sebagai buah pahit kedigjayaan represi rezim Orde Baru.
Para perempuan yang ditangkapi sejak 1965, kemudian bersaksi dalam buku ini demi "meluruskan sejarah", telah terbungkam lebih 40 tahun. Ternyata kebanyakan berpendidikan sebagai guru atau berprofesi tak langsung sebagai tenaga pengajar yang mendedahkan pentingnya keterampilan dan pengetahuan bagi sesama kaumnya untuk hidup sejajar dengan laki-laki. Mereka merupakan lirik lagu: pendekar kaumnya untuk merdeka.
Gerwani menjadi korban politik patriarki seorang juru selamat bangsa yang muncul kemudian. Kemunculannya tidak cemerlang laksana bintang, justru masih diliputi seribu tanda tanya, lebih-lebih ketika sebuah zaman baru yang menggilas eranya, kini terbit seperti matahari pagi.
***
Dokumentasi bagaimanapun selalu menumbuhkan sejumput daya pikat karena dikerjakan melalui prinsip-prinsip ketelitian yang khas. Lantaran di situ termuat pula aspek otentisitas (kemurnian) yang belum pernah ada sebelumnya, maka dokumen jadi sesuatu yang penting dan berharga. Apalagi jika bilangan kerja dokumenter yang bersumber dari apa dan siapa yang disebut "tangan pertama". Karena itu, lantas banyak orang bernafsu besar menjadi kolektor ingatan.
Tanpa nafsu besar itu, bahkan cenderung dingin -sesuai latar belakang pendidikan kebelandaannya yang bertumpu demi membagikan kemashlahatan ilmu pengetahuan- sepuluh perempuan berkisah dan Ita menulis testimoni bahwa para korban mengalami penyiksaan luar biasa oleh tentara Indonesia.
Penulis buku ini sendiri tak lain seorang aktivis perempuan terkemuka yang banyak bersuara kritikal di khasanah perjuangan perempuan kontemporer Tanah Air. Testamen yang disarikannya menjadi dokumen berbentuk sebuah buku, adalah jawaban penuh semangat yang menyibak rahasia kabut kelam tentang salah satu tragedi besar yang pernah terjadi atas bangsa ini.
Tiap lembar halaman dari 188 tebalnya isi buku ini memuat kesaksian sejati yang sarat berderainya titik air mata kesedihan bagi penindasan yang dialami para korban. Jadinya, oral history dari Ibu Yanti dan kawan-kawan, semacam cemeti bagi hati kita yang rawan terhadap tendens atas korupnya sebilah kekuasaan.
Judul: Suara Perempuan Korban Tragedi ?~65
Oleh: Ita F Nadia
Pengantar: Prof Dr Saskia E Wieringa
Isi: 188 halaman
Ukuran: 15x23cm
Cetakan: III, 2008
ISBN: 979-23-9982-0
Penerbit: Galangpress, Yogyakarta
(tty)
Saya hanya mempunyai satu keinginan sebelum saya mati. Yaitu... bertemu keluarga jenderal-jenderal itu. Saya mau menceritakan kepada mereka, saya bukan pembunuh jenderal apalagi penyayat-nyayat penis mereka... (halaman 73).
Benarkah para aktivis perempuan dari Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) eksekutor kematian enam jenderal dan seorang perwira menengah di Lubang Buaya pada lembar sejarah yang paling hitam bagi Republik ini?
Buku "Suara Perempuan Korban Tragedi '65" memberikan sebuah jawab tunggal. Dan jawab itu, adalah bukan. Sangat mungkin dan tentunya boleh diperdebatkan jika ada bukti "lain" yang berbeda dari apa yang diketahui dari buku ini.
Tapi kenyataan yang disajikan Ita F Nadia sukar dielakkan sebagai buah pahit kedigjayaan represi rezim Orde Baru.
Para perempuan yang ditangkapi sejak 1965, kemudian bersaksi dalam buku ini demi "meluruskan sejarah", telah terbungkam lebih 40 tahun. Ternyata kebanyakan berpendidikan sebagai guru atau berprofesi tak langsung sebagai tenaga pengajar yang mendedahkan pentingnya keterampilan dan pengetahuan bagi sesama kaumnya untuk hidup sejajar dengan laki-laki. Mereka merupakan lirik lagu: pendekar kaumnya untuk merdeka.
Gerwani menjadi korban politik patriarki seorang juru selamat bangsa yang muncul kemudian. Kemunculannya tidak cemerlang laksana bintang, justru masih diliputi seribu tanda tanya, lebih-lebih ketika sebuah zaman baru yang menggilas eranya, kini terbit seperti matahari pagi.
***
Dokumentasi bagaimanapun selalu menumbuhkan sejumput daya pikat karena dikerjakan melalui prinsip-prinsip ketelitian yang khas. Lantaran di situ termuat pula aspek otentisitas (kemurnian) yang belum pernah ada sebelumnya, maka dokumen jadi sesuatu yang penting dan berharga. Apalagi jika bilangan kerja dokumenter yang bersumber dari apa dan siapa yang disebut "tangan pertama". Karena itu, lantas banyak orang bernafsu besar menjadi kolektor ingatan.
Tanpa nafsu besar itu, bahkan cenderung dingin -sesuai latar belakang pendidikan kebelandaannya yang bertumpu demi membagikan kemashlahatan ilmu pengetahuan- sepuluh perempuan berkisah dan Ita menulis testimoni bahwa para korban mengalami penyiksaan luar biasa oleh tentara Indonesia.
Penulis buku ini sendiri tak lain seorang aktivis perempuan terkemuka yang banyak bersuara kritikal di khasanah perjuangan perempuan kontemporer Tanah Air. Testamen yang disarikannya menjadi dokumen berbentuk sebuah buku, adalah jawaban penuh semangat yang menyibak rahasia kabut kelam tentang salah satu tragedi besar yang pernah terjadi atas bangsa ini.
Tiap lembar halaman dari 188 tebalnya isi buku ini memuat kesaksian sejati yang sarat berderainya titik air mata kesedihan bagi penindasan yang dialami para korban. Jadinya, oral history dari Ibu Yanti dan kawan-kawan, semacam cemeti bagi hati kita yang rawan terhadap tendens atas korupnya sebilah kekuasaan.
Judul: Suara Perempuan Korban Tragedi ?~65
Oleh: Ita F Nadia
Pengantar: Prof Dr Saskia E Wieringa
Isi: 188 halaman
Ukuran: 15x23cm
Cetakan: III, 2008
ISBN: 979-23-9982-0
Penerbit: Galangpress, Yogyakarta
Baca Juga:
Konsultasi Rudy Hadisuwarno
Tampil Keren di Kantor dengan Rambut Ikal
Mas Rudy Hadisuwarno, perkenalkan saya Mahell Sozu, 21, dan sudah bekerja. Setiap kali saya berangkat ke kantor, saya selalu kesulitan menata rambut. Adakah solusi? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Senin, 04/08/2008 11:08
Untukmu, Bron -
Minggu, 20/07/2008 14:07
Ya Salam..., Almustafa! -
Selasa, 01/07/2008 10:07
Nisbinya Jatidiri Buruh Perempuan -
Selasa, 10/06/2008 15:06
Ya Nasib...., Sayap-sayap Patah -
Senin, 19/05/2008 02:05
Pengkhianatan, Kematian, dan Pengampunan -
Jum'at, 11/04/2008 15:04
Beauty for Killing -
Senin, 07/04/2008 16:04
Rumah Iklan -
Jum'at, 28/03/2008 17:03
Perang Di Mata Anak-anak
