Resensi Buku
Perang Di Mata Anak-anak
Jum'at, 28 Maret 2008 - 17:26 wib
Arpan Rachman - Okezone
"Selalu ada jalan kembali untuk berbuat kebaikan."
NASIHAT itu memutar rekaman memori di benak Amir. Yang mengingat kesetiaan Hassan, pelayan berbibir sumbing, mengejarkan layang-layang untuknya. "Untukmu, keseribu kalinya," begitulah Hassan berkata setiap kali mengerjakan sesuatu bagi Amir, tuannya.
Mereka berdua bocah nakal yang tinggal di sebuah rumah mewah dalam kawasan distrik mentereng Wazir Akbar Khan di sebelah utara Kabul, Ibu Kota Afganistan. Di tengah kecamuk negeri pasir yang mulai bergolak dari kekuasaan monarki menjelang pendudukan asing dan revolusi Islam fanatik, Hassan dan Amir berpisah.
Aku telah menjahati Hassan hari itu, mempermainkannya, kalau dia mau mengunyah tanah untuk membuktikan kesetiaannya padaku. Sekarang akulah yang berada di bawah mikroskop, akulah yang harus membuktikan kesetiaanku. Aku pantas menerimanya. (halaman 588)
Dua puluh enam tahun setelah perpisahan, Amir mengenang Hassan dengan perasaan bersalah. Ia akhirnya tahu pelayan itu bukan sekadar hamba sahaya bagi keluarganya. Seorang teman lama bernama Rahim Khan memberitahu segala rahasia.
Amir terpukul oleh kenyataan yang terpaksa dia pikul. Ia harus pergi ke Afganistan demi menyelamatkan Sohrab, anak Hassan. Melintasi Celah Khyber yang ganas, kota-kota yang luluh-lantak diporandakan perang, dan bertarung merebut kembali nama baiknya.
Berliani M Nugrahani dari Qanita nyaris sempurna menerjemahkan novel The Kite Runner karya fisikawan Khaled Hosseini. Novel ini diklaim sebagai cerita Afganistan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Dirangkai pilu oleh seorang pengarang kejutan yang mengikuti kursus menulis di San Francisco Writer Workshop.
Hanya terjadi di satu tempat, terjemahan bahasa Indonesianya yang keliru, sangat kecil, berupa sepatah kalimat pendek di halaman 437. Tepatnya, notasi di paragraf keempat pada halaman itu tertulis: Amir kembali membunyikan klakson. Padahal lanjutannya: Farid duduk di balik kemudinya sambil merokok. Tentu saja, logikanya, yang bisa membunyikan klakson hanya sopir yang duduk di balik kemudi sambil merokok. Diketahui dari adegan tersebut, Amir adalah tokoh utama (yang membahasakan dirinya sebagai "aku") yang saat itu berada di tepi jalan. Sedangkan Farid, sopir Land Cruiser bobrok yang disewa Amir, memintanya cepat pergi dari sana.
Di luar kekeliruan kecilnya, The Kite Runner diterjemahkan sangat baik. Nuansa kisah dipaparkan secara ironi sebagai perspektif cerita yang dipilih Khaled Hosseini. Seperti dalam karya-karya sastra lainnya, ironi banyak menjebak dalam lubang-lubang plot kalau tak mampu ditampilkan dengan pilihan kata yang lugas. Bila tidak cepat tanggap kesan yang timbul ditekan kuat oleh (pengarang) penerjemahnya akan "menghambarkan" gaya bukan "menggaraminya". Lantaran ironi bisa tergelincir jadi sinisme.
Giliran negatifnya, hal itu dapat membuat pembaca menjauhi novel ini setelah kalimat pertama selesai. Namun jalinan rasio penyampai adegan memicu candu perasaan ikut hanyut merasuk kuat ke dalamnya, jika tidak berhenti sebelum kalimat terakhir. Ironis juga, sebenarnya.
Kisah ironi dari dua bocah juara layang-layang ini secara fantastik memiliki 98 ribu entry di situs data internet. Buah kekejaman perang dilihat dari mata seorang anak berusia 12 tahun. Sejarah yang menghanyutkan sebuah negeri pasir....
*) cari "The Kite Runner+Khaled Hosseini" di www.google.com
Judul : The Kite Runner
Karya : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M Nugrahani
Penerbit (edisi Indonesia): Qanita
Cetakan : II, April 2006
Ukuran : 17,5 centimeter
Tebal : xiv+618 halaman
ISBN : 979-3269-46-4
(tty)
NASIHAT itu memutar rekaman memori di benak Amir. Yang mengingat kesetiaan Hassan, pelayan berbibir sumbing, mengejarkan layang-layang untuknya. "Untukmu, keseribu kalinya," begitulah Hassan berkata setiap kali mengerjakan sesuatu bagi Amir, tuannya.
Mereka berdua bocah nakal yang tinggal di sebuah rumah mewah dalam kawasan distrik mentereng Wazir Akbar Khan di sebelah utara Kabul, Ibu Kota Afganistan. Di tengah kecamuk negeri pasir yang mulai bergolak dari kekuasaan monarki menjelang pendudukan asing dan revolusi Islam fanatik, Hassan dan Amir berpisah.
Aku telah menjahati Hassan hari itu, mempermainkannya, kalau dia mau mengunyah tanah untuk membuktikan kesetiaannya padaku. Sekarang akulah yang berada di bawah mikroskop, akulah yang harus membuktikan kesetiaanku. Aku pantas menerimanya. (halaman 588)
Dua puluh enam tahun setelah perpisahan, Amir mengenang Hassan dengan perasaan bersalah. Ia akhirnya tahu pelayan itu bukan sekadar hamba sahaya bagi keluarganya. Seorang teman lama bernama Rahim Khan memberitahu segala rahasia.
Amir terpukul oleh kenyataan yang terpaksa dia pikul. Ia harus pergi ke Afganistan demi menyelamatkan Sohrab, anak Hassan. Melintasi Celah Khyber yang ganas, kota-kota yang luluh-lantak diporandakan perang, dan bertarung merebut kembali nama baiknya.
Berliani M Nugrahani dari Qanita nyaris sempurna menerjemahkan novel The Kite Runner karya fisikawan Khaled Hosseini. Novel ini diklaim sebagai cerita Afganistan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Dirangkai pilu oleh seorang pengarang kejutan yang mengikuti kursus menulis di San Francisco Writer Workshop.
Hanya terjadi di satu tempat, terjemahan bahasa Indonesianya yang keliru, sangat kecil, berupa sepatah kalimat pendek di halaman 437. Tepatnya, notasi di paragraf keempat pada halaman itu tertulis: Amir kembali membunyikan klakson. Padahal lanjutannya: Farid duduk di balik kemudinya sambil merokok. Tentu saja, logikanya, yang bisa membunyikan klakson hanya sopir yang duduk di balik kemudi sambil merokok. Diketahui dari adegan tersebut, Amir adalah tokoh utama (yang membahasakan dirinya sebagai "aku") yang saat itu berada di tepi jalan. Sedangkan Farid, sopir Land Cruiser bobrok yang disewa Amir, memintanya cepat pergi dari sana.
Di luar kekeliruan kecilnya, The Kite Runner diterjemahkan sangat baik. Nuansa kisah dipaparkan secara ironi sebagai perspektif cerita yang dipilih Khaled Hosseini. Seperti dalam karya-karya sastra lainnya, ironi banyak menjebak dalam lubang-lubang plot kalau tak mampu ditampilkan dengan pilihan kata yang lugas. Bila tidak cepat tanggap kesan yang timbul ditekan kuat oleh (pengarang) penerjemahnya akan "menghambarkan" gaya bukan "menggaraminya". Lantaran ironi bisa tergelincir jadi sinisme.
Giliran negatifnya, hal itu dapat membuat pembaca menjauhi novel ini setelah kalimat pertama selesai. Namun jalinan rasio penyampai adegan memicu candu perasaan ikut hanyut merasuk kuat ke dalamnya, jika tidak berhenti sebelum kalimat terakhir. Ironis juga, sebenarnya.
Kisah ironi dari dua bocah juara layang-layang ini secara fantastik memiliki 98 ribu entry di situs data internet. Buah kekejaman perang dilihat dari mata seorang anak berusia 12 tahun. Sejarah yang menghanyutkan sebuah negeri pasir....
*) cari "The Kite Runner+Khaled Hosseini" di www.google.com
Judul : The Kite Runner
Karya : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M Nugrahani
Penerbit (edisi Indonesia): Qanita
Cetakan : II, April 2006
Ukuran : 17,5 centimeter
Tebal : xiv+618 halaman
ISBN : 979-3269-46-4
Baca Juga:
Konsultasi Lianny Hendranata
Membersihkan Aura, Perlukah Keterampilan Khusus?
Salam kenal ibu Lianny Hendranata, saya ingin menanyakan apakah semua orang punya energi aura? Dan bagaimana dengan orang yang sudah meninggal, apakah masih memiliki energi aura? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 15:10
The Vendetta, Pembunuhan Para Mantan Agen CIA -
Jum'at, 26/09/2008 11:09
The Missing, Kisah 2 Psikopat Pemuja Wanita -
Senin, 04/08/2008 11:08
Untukmu, Bron -
Minggu, 20/07/2008 14:07
Ya Salam..., Almustafa! -
Selasa, 01/07/2008 10:07
Nisbinya Jatidiri Buruh Perempuan -
Selasa, 10/06/2008 15:06
Ya Nasib...., Sayap-sayap Patah -
Senin, 19/05/2008 02:05
Pengkhianatan, Kematian, dan Pengampunan -
Jum'at, 11/04/2008 15:04
Beauty for Killing