Resensi Buku

Rumah Iklan

Senin, 7 April 2008 - 16:42 wib

Chaerunnisa - Okezone



SEJARAH periklanan Indonesia di tanah air begitu memiliki pengaruh yang kuat hingga mampu mendorong orang untuk konsumtif dan bahkan, pada akhirnya, membentuk gaya hidup seseorang.

Dalam upaya membeberkan dunia periklanan tersebut, dalam buku "Rumah Iklan" yang terdiri dari VIII Bab ini tersaji beberapa perusahaan yang menjadi perintis di bidang ini dan memunculkan asosiasi-asosiasi periklanan. Perusahaan perintis itu antara lain Lintas, A de la mar, Aneta, Globe, IRAB dan Preciosa. Hampir semua perusahaan ini dipimpin orang Belanda.

Dalam Bab I, digambarkan bagaimana gerobak sapi yang bergerak kesana kemari sebagai medium iklan yang cukup efektif. Orang periklanan menempelkan iklan produk mereka di sisi kanan kiri gerobak sapi itu pada tahun 1930-an.

Buku ini kian lengkap karena si penulis juga menyisipkan penggalan informasi tentang sejarah periklanan dunia dari zaman Yunani, Romawi, sampai akhir abad ke-19 di Amerika Serikat dan menaruhnya dalam konteks ke Indonesiaan.

Pada Bab ke II, menggambarkan awal berdirinya Matari (30 Januari 1971) seiring dengan awal kebangkitan periklanan modern di Indonesia pada tahun 1970-an berbarengan dengan masuknya perusahaan-perusahaan multinasional seiring kebijakan baru mengenai Penanaman Modal Asing.

Tumbuh pesatnya perusahaan periklanan memunculkan kebutuhan akan standar dan etika periklanan yang pada akhirnya mendorong beberapa perusahaan periklanan membentuk asosiasi. Bagian ini secara khusus disajikan dalam Bab III.

Sementara itu, Bab IV membahas perbedaan mindset antara perusahaan periklanan dan pemerintah mengenai seluk beluk periklanan dan upaya-upaya untuk menjembataninya. Pada bab yang sama, menyinggung mulai maraknya iklan radio yang ditangani secara kurang profesional.

Dalam bab ini disinggung peran penting Matari dalam meletakkan fondasi yang berguna bagi perkembangan iklan radio di tahun-tahun selanjutnya. Beberapa hal yang digagas Matari antara lain sistem rating dan monitoring iklan.

Di kemudian hari, Matari juga membangun image melalui iklan layanan masyarakat yang cerdas dan tepat sasaran (pada Bab V). Meski beberapa kali berurusan dengan pemerintah karena materi iklan layanan masyarakat yang dinilai sensitif, langkah Matari ini nantinya justru merupakan awal hubungan mesra Matari dengan pemerintah khususnya dalam iklan kampanye kesehatan dan lingkungan hidup.

Pada Bab VI dan bab selanjutnya mengulas meningkatnya kebutuhan akan orang periklanan yang lebih profesional, tumbuhnya iklan televisi dan kemungkinan ranah iklan di masa depan. Tentunya, pada masing-masing bab dilengkapi pula dengan informasi-informasi tambahan yang membuat pembaca makin memahami industri periklanan khususnya di tanah air.

Secara umum, buku yang ditulis oleh Bondan Winarno - wartawan senior dan mantan praktisi periklanan yang sekarang lebih dikenal sebagai pakar kuliner- itu menggambarkan perkembangan industri periklanan di tanah air. Tak ketinggalan, sosok Ken Sudarto yang mengharubiru dunia periklanan melalui Matari, perusahaan yang dia dirikan bersama sahabatnya Paul Karmadi.

Selain dikenal ulet dalam mengembangkan usaha khususnya melalui investasi dalam sumber daya manusia (SDM), sosok Ken Sudarto juga dikenal gigih dalam memperjuangkan berdirinya Yayasan Pariwara Sosial untuk mendukung iklan layanan masyarakat.

Buku ini tidak secara kaku membagi bab per bab berdasarkan waktu, tetapi lebih berdasarkan tema. Dengan begitu, Bondan leluasa menyelipkan informasi yang terkait satu sama lain meski terpisah jarak waktu puluhan tahun.

Buku ini sarat informasi yang berguna bagi mahasiswa, jurnalis dan masyarakat umum, khususnya mereka yang tertarik mendalami industri periklanan atau sekedar mengenang bentuk dan catchphrase iklan-iklan djadoel (djaman doeloe).

Dilengkapi beberapa foto dan contoh iklan masa lalu, buku ini informatif sekaligus menghibur.


Judul : "Rumah Iklan"

Karya : Bondan Winarno

Penerbit : Kompas

Cetakan : I, Maret 2008

Ukuran : 14,85 cm x 21 cm

Tebal : xxviii+268 halaman

ISBN : 978-979-709-349-5 (nsa)

Baca Juga:

Konsultasi Lianny Hendranata

Konsultasi Lianny Hendranata

Membersihkan Aura, Perlukah Keterampilan Khusus?

Salam kenal ibu Lianny Hendranata, saya ingin menanyakan apakah semua orang punya energi aura? Dan bagaimana dengan orang yang sudah meninggal, apakah masih memiliki energi aura? Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»