Resensi Buku

Beauty for Killing

Jum'at, 11 April 2008 - 15:59 wib

Chaerunnisa - Okezone


DALAM novel Beauty For Killing menceritakan hubungan lima sahabat yang hampir terancam bubar karena terperangkap mencintai seorang pria yang sama. Pertikaian hati nurani, dendam, amarah dan pelarian cinta mulai dari Barcelona, Paris, Milan, Sydney, New Zealand, Singapura, Bangkok hingga New York ini selalu dekat dengan kehidupan high quality jomblo pada umumnya yang takut berkomitmen.

Mereka terkait dalam penculikan putri seorang konglomerat yang menggemparkan Singapura dan pembantaian sadis seleb Gay oleh seorang homophobia. Kisah tragis para sosialista, fashionista, pebisnis, model, seniman film dan agency advertising, serta kaum metroseksual yang glamor dan penuh kepalsuan.

Mereka adalah pribadi-pribadi tegas saat di meja tugas, namun rapuh saat sendiri. Tak hanya itu saja, mereka juga pribadi yang dikucilkan (seperti pada beberapa tokoh gay atau lesbi) dan yang pasti jauh jodoh. Susahnya mencari jodoh merupakan bagian kepedihan para young urban yang memasuki usia di atas 30 tahun. Sebuah parabel yang sering terjadi di kota-kota besar tentang jomblo, karir, ketidakbebasan, ketidakpastian, dan kebuasan.

Gemerlap kehidupan para singel kaum jet set Jakarta dan Singapura yang penuh kilauan berlian, bergelimangan barang-barang branded desainer kelas dunia, club superhip di antara kemewahan aroma wine vintage dan symbolic beraura selebritas dunia, digambarkan dalam bahasa ringan, penuh nyata dan inspiring oleh Fradhyt Fahrenheit, penulis bestseller novel "Beauty for Sale".

Novel kedua Fradhyt ini, dikemas apik dengan mengombinasikan "realitas" para sosialista Jakarta yang rutin dengan beberapa kejadian yang mengejutkan hingga menghentak imajinasi pembaca. Cerita dalam fiksi ini memiliki fokus dan suasana yang enak diikuti, mengharukan, penuh misteri, namun dapat pula membuat pembaca tertawa atau menertawakan dirinya sendiri.

Novel situasi ini menceritakan kehidupan para urban jet set dengan kehadiran beberapa tokoh lain yang sebelumnya menjadi sebuah sosok yang tak dikenal (seperti tokoh Yemmi yang miskin namun jago oral job, dan tokoh Chekov yang homophobia) tapi tak terlupakan.

Ada suspense sejak saat pembaca dibawa mengikuti perjalanan penculikan gadis seorang konglomerat yang belum diketahui ke mana dan harus berbuat apa. Selain itu, akhir tragedi penculikan sahabat mereka yang benar-benar tak terduga. Komposisi jalan cerita "Beauty for killing" ini sengaja dibangun melalui "juxtaposition" dan montase tapi efeknya tidak menyebabkan menjadi cerita horor pembunuhan.

"Beauty For Killing" adalah fiksi topikal atau novel "situasi" yang ditulis dengan niat untuk ikut bicara dalam persoalan sosial yang sedang hangat dalam setting internasional. Khususnya kaum young urban yang sekarang penuh kompetisi dan intrik dalam pekerjaan maupun urusan mencari jodoh.

Novel ini merupakan potret bersahaja tentang persahabatan yang terjebak rutinitas dan terasa makin membosankan karena tak kunjung mendapatkan pasangan hidup. Sebuah deskripsi dengan perbandingan yang plastis dan orisinal, serta tak mengada-ada. Penuh berbagai konflik dan masalah yang akrab dengan latar belakang kehidupan para eksekutif muda saat ini.

Beberapa tokoh yang sangat kontras, sedikit demi sedikit akan melibatkan pembaca dalam suatu kompetisi kehidupan yang penuh pertentangan. Sebuah alternatif bacaan yang serius namun cair melalui dialog lepas maupun provokasi kecil-kecilan dalam bahasa gaul.

Semuanya menjadikan novel ini sebuah komposisi "situasi" untuk bekal menambah wawasan tentang kehidupan kelas atas yang dielaborasi dengan simbol-simbol hedonis yang mewah, lengkap dan orisinil. Tentunya, akhir kisah dengan kejutan yang menjotos secara telak. Kisah dalam novel ini sangat padu dan menggugah seperti sirkuit. Memorable!

Judul : Beauty for Killing

Karya : Fradhyt Fahrenheit

Penerbit : FoU Media Publisher

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : xxviii+361 halaman (nsa)

Baca Juga:

Konsultasi Rudy Hadisuwarno

Konsultasi Rudy Hadisuwarno

Tampil Keren di Kantor dengan Rambut Ikal

Mas Rudy Hadisuwarno, perkenalkan saya Mahell Sozu, 21, dan sudah bekerja. Setiap kali saya berangkat ke kantor, saya selalu kesulitan menata rambut. Adakah solusi? Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»