Karir dan kepribadian
Saat Rasa Itu Hilang
Minggu, 11 Mei 2008 - 17:56 wib
Chaerunnisa - Okezone
Foto : Corbis
Menjawab persoalan tersebut, ternyata ada banyak faktor yang menyebabkan turunnya selera terhadap pasangan. Adapun pemicu utama yang banyak memengaruhi kondisi tersebut ialah rutinitas dari kedua pasangan tersebut. Mengenai hal itu, Zoya Dianaesthika Jusung, M. Psi, dari Lembaga Penelitian Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengungkapkan cara pandangnya.
"Kalau berbicara mengenai excitment sebenarnya kembali pada rutinitas awal, jadi kembali pada berapa lama hubungan tersebut berlangsung. Ada yang berapa tahun atau hanya beberapa bulan sudah merasa biasa dan menjadi normal schedullle yang akhirnya memberikan perasaan itu," kata Zoya saat dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Minggu (11/5/2008).
Meskipun dalam persiapan pra nikah meminta bantuan even organizer (EO), lanjut Zoya, tapi hal tersebut relatif lebih signifikan. "Jadi kalau excitmentnya menurun bukan karena rasa memilikinya, tapi kembali ke rutinitas awal," beber wanita cantik ini mantap.
Menurutnya, hal itu berlandaskan pada tahapan yang harus dilalui oleh calon pengantin. Yaitu passion, intimacy dan compatibility. Jadi, semua tahapan itu akan dialami dan dihadapi oleh semua pasangan yang akan menuju jenjang pernikahan.
"Institusi itu ada atau tidak atau aspek-aspek tersebut ada atau tidak kembali pada masing-masing pasangan. Jadi, pada tahapan itu harus melalui masa passion terlebih dahulu, baru intimacy dan compatibility," jelas Zoya panjang lebar.
Sedangkan anggapan bahwa munculnya ketidakpuasan atau kekecewaan menjadi salah satu penyebab menurunnya gairah terhadap pasangan, dibantah oleh Zoya. Menurutnya, faktor lain yang akan membuat orang bosan terhadap pasangannya karena adanya kohabitasi.
Misalnya kenapa orang Belanda tidak menikah tapi tinggal bersama ada tujuannya yaitu agar mereka mendapat uang dari pemerintah. Jadi ada banyak alasan mengapa pasangan tersebut tidak menikah dan melakukan kohabitasi.
"Teknik percobaan sebelum menikah dapat dilakukan. Tapi hal itu kembali lagi pada masing-masing orangnya dengan teknik kohabitasi tersebut. Karena ada orang yang melakukan teknik kohabitasi tersebut dan tidak dapat mempertahankan hubungan mereka. Jadi ketika telah memutuskannya, harus ada usaha ekstra ketat daripada pra nikah," tukasnya. (nsa)
Baca Juga:
Konsultasi dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd
Air Seni Bercampur dengan Sperma, Wajarkah?
Saya pria usia 36 tahun sudah menikah dan memiliki satu orang anak dan sedang mengusahakan untuk mendapat momongan lagi. Tapi saat saya mengeluarkan air seni dibarengi dengan keluarnya sperma, wajarkah? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 12:10
Kiat Praktis Peroleh Pekerjaan Impian -
Senin, 06/10/2008 12:10
Mengembalikan Semangat Kerja yang Sempat Padam -
Selasa, 30/09/2008 11:09
Bersaing Sehat di Lingkungan Kerja -
Minggu, 28/09/2008 15:09
Tip Praktis untuk Memperbaiki Kepribadian -
Rabu, 24/09/2008 16:09
Maknai Libur Lebaran Bagi Pekerja