Travel
National Museum of Singapore, Jauh dari Kesan Usang
Minggu, 11 Mei 2008 - 10:10 wib
Foto : Corbis
Usia Gedung NSM memang sudah mencapai 120 tahun, tetapi keadaan bangunan berwarna putih tersebut mulus terawat. Sewaktu datang, kami disambut Assistant Manager Marcoms NMS Samantha Liew Suyi, pemandu kami selama di tempat yang berada di 93 Stamford Road ini.
Gadis berpenampilan modis ini saya taksir masih berumur tidak lebih dari 25 tahun. Rupanya, staf museum di sini didominasi kalangan muda. Berbeda dengan kondisi di Indonesia. Kalangan muda cenderung malas untuk mengunjungi museum, terlebih lagi mendedikasikan diri untuk bekerja di sana.
Menurut Samantha, lantai dua museum tersebut, biasa disewakan untuk perhelatan acara seperti resepsi pernikahan atau gathering. Gedung yang masih menyimpan sisi aura kolonial ini menjadi daya tarik pasangan untuk mengadakan resepsi pernikahan. Untuk pre-wedding biasanya pasangan selalu meminta foto di lantai dua karena di lantai ini bagian atasnya beratapkan kaca.
Dari dalam bisa terlihat Rotunda Dome (Kubah Rotunda) berdiri megah menampakkan keanggunannya, yang sekaligus menjadi ikon museum ini. Kami lalu memasuki sebuah ruangan. Sebelum masuk kami diberikan alat berupa head set, dengan berbagai tombol dilengkapi layar bernama companion, yang dikalungkan di leher.
Kemudian kami diminta menyusuri jalan melingkar yang menurun. Pada awalnya saya bingung kegunaannya. Bukankah ada pemandu? Rupanya Samantha tidak ikut. Alih-alih ditemani pemandu, saya ditemani suara ramah pria dari companion begitu dihidupkan. Pilihan bahasa cukup beragam, Inggris, Mandarin, Melayu, dan Jepang. Saya memilih bahasa Inggris, lebih mudah dimengerti ketimbang Melayu.
Menariknya si pria akan menerangkan berbagai macam informasi sesuai highlight yang kita lihat. Dilantai tersebar nomor-nomor yang menjadi petunjuk informasi. Misalnya, ketika akan memasuki sebuah ruangan, di lantai terdapat angka 3, maka tinggal memencet tombol angka 3 dan berkeliling melihat foto-foto atau benda lain. Perhentian pertama adalah Singapore 360 derajat.
Pengunjung bagaikan dikelilingi 360 derajat layar raksasa, mempertontonkan aktivitas penduduk Singapura yang multikultural. Pertunjukan selama enam menit ini yang diulang-ulang ini tidak tampak monoton. Karena, satu monitor menggambarkan aktivitas penduduk yang berbeda. Efek musik yang dimotori musisi Rusia Vladimir Martynov's sebagai soundtrack terasa hidup dan menggugah hati.
Sama halnya ketika menyaksikan foto-foto sewaktu perang dunia kedua, penduduk kurus kering menderita kelaparan, orang yang tergolek terluka tersebar di sepanjang jalan, dan bangkai manusia bertebaran di penjuru kota, akibat penyerangan tentara Jepang.
Sungguh baru kali ini saya mengunjungi museum dan trenyuh. Hanya dengan membayar USD10, dan menikmati semua pengalaman unik itu.
Tak hanya melancong museum, rombongan pun diajak bersafari malam. Menyusuri kebun binatang pada malam hari merupakan pengalaman baru. Terbayang di benak aktivitas para hewan pada malam hari. Apakah mereka akan seramah pada siang hari ketika pengunjung datang berkunjung atau malah justru tidak ambil pusing dengan kehadiran orang-orang yang datang.
Night Safari Singapore merupakan program kebun binatang Singapura yang berlokasi di Mandai Lake Road. Cara kebun binatang ini menghidupkan nuansa malam cukup unik. Penerangan dibuat seminim mungkin, sebagai gantinya obor-obor ditaruh di sepanjang jalan sebagai petunjuk jalan.
Untuk tiket masuk pengunjung dewasa dikenakan biaya USD22, sedangkan anak-anak sebesar USD11. Begitu masuk pengunjung disuguhi atraksi Bornean Tribal. Beberapa pria dengan kostum suku pedalaman melakukan berbagai aksi menarik, seperti menari, akrobatik, dan yang paling ekstrem menelan api kemudian menyemburkannya kembali.
Untuk menyusuri keseluruhan wilayah safari malam seluas 40 hektar ini, disediakan sebuah bus. Namun, alangkah kagetnya saya ketika melihat kendaraan yang akan membawa pengunjung tersebut. Tram atau semacam bus gandeng terbuka. Tentunya aspek keamanan sudah dipikirkan dengan matang oleh pihak pengelola. Jadilah kami menyusuri jalan sepanjang 3,2 km.
Sayangnya, selama perjalanan dan hingga keluar dari area kebun binatang, pengunjung tidak diperbolehkan menghidupkan blitz kamera. Khawatir kilatan lampu blitz akan mengganggu para hewan malam tersebut atau nocturnal. Pengunjung pun diminta untuk merendahkan suara demi kenyamanan "tuan rumah" tersebut.
Dari kegelapan malam yang hanya diterangi dengan penerangan seadanya, saya melihat si raja hutan tengah beristirahat. Namun, matanya tetap awas mencermati orang-orang yang sedang melihatnya. Bayangkan sensasi berjarak hanya beberapa meter dari kucing besar buas tersebut tanpa ada pagar yang membatasi, layaknya di kebun binatang lain.
Membicarakan Singapura memang tak ada habisnya. Negara kecil ini begitu pandai mengemas destinasi mereka untuk mendatangkan devisa dari para wisatawan.
Belum lama ini Singapura mengadakan lomba esai bertajuk Your Singapore Experience. Kontes tersebut merupakan ajang berbagi pengalaman menarik selama berkunjung ke Singapura. Willy Lesmana merupakan salah satu pemenang dari Indonesia yang beruntung mendapatkan hadiah berlibur ke Singapura selama dua minggu.
Daya tarik negara berlambang Merlion itu mulai terasa saat menjejakkan kaki di Bandara Changi. Kunjungan ini merupakan undangan dari Singapore Tourism berkaitan dengan lomba tersebut. Suhu yang 32 derajat tak ubahnya dengan iklim di Jakarta, tapi keramahan sopir yang menjemput rombongan kami menjadi penyejuk cuaca panas itu.
Senyum ramah Raja, pria keturunan India yang akan menjadi pengantar kami menjelajahi Singapura terasa menyejukkan. "Singapore is a fine and fine city," ujarnya membuka pembicaraan dalam logat Indianya. Negara ini memang ramah, tetapi tidak segan memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar aturan.
Raja pun menunjuk beberapa kamera pengawas di kanan-kiri jalan, yang senantiasa menguntit pengendara mobil yang lalu lalang. Seakan siap memberikan sanksi kepada siapa pun yang mengebut saat berkendara. Raja juga mengklaim, jalanan di Singapura aman sekalipun pada malam hari. "Tidak perlu takut," ujarnya.
Memang, angka kriminal di kota ini memang terendah dibandingkan kota lain seperti Osaka, Tokyo, Hong Kong, dan Sydney. Kondisi tersebut juga yang membuat Larry Medina yang berkebangsaan Amerika, pindah kewarganegaraan. "Singapura memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus.
Di samping itu, kota ini lebih aman dibandingkan Amerika," tutur Larry ketika ditemui di National Parks. Membuktikan pernyataan Raja dan Larry. Pulang berbelanja dari Bugis Junction sekira pukul 22.00 waktu setempat, Jalan Bugis menuju hotel di daerah Stamford Road ditempuh dengan jalan kaki.
Di suatu tempat memang ditemui beberapa anak muda yang asyik nongkrong. Namun, ketika bertanya arah, mereka menunjukkan dengan sopan. Selebihnya meski jalanan sudah sepi, tidak ada rasa ketakutan yang menyergap.
Semakin malam Singapura justru kian ramai. Ada beberapa tempat nongkrong yang asyik sambil menyantap makanan, yang justru buka pada malam hari. Di antaranya Jalan Kayu yang menyajikan makanan khas India dengan menu spesial roti prata yang disantap dengan kari. (sindo//nsa)
Baca Juga:
Konsultasi Rudy Hadisuwarno
Tampil Keren di Kantor dengan Rambut Ikal
Mas Rudy Hadisuwarno, perkenalkan saya Mahell Sozu, 21, dan sudah bekerja. Setiap kali saya berangkat ke kantor, saya selalu kesulitan menata rambut. Adakah solusi? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Sabtu, 19/07/2008 12:07
Menikmati Modernitas & Keasrian Freiburg -
Sabtu, 12/07/2008 13:07
Eksotisme Carinthia -
Minggu, 06/07/2008 15:07
Pasuruan 'The City of Mountain' -
Sabtu, 05/07/2008 14:07
Enjoy Hokkaido -
Sabtu, 28/06/2008 15:06
Surga Unggas Asia Tenggara -
Rabu, 25/06/2008 16:06
Membuat Persiapan Matang Sebelum & Saat Berlibur -
Sabtu, 21/06/2008 11:06
Menyingkap Tabir Masa Lalu di Berliner Mauer -
Sabtu, 14/06/2008 13:06
Kyoto, Pusat Budaya Jepang