PERUBAHAN tren yang datang dan pergi semakin cepat bergulir. Terlebih lagi dalam industri mode dan gaya hidup yang seringkali dijadikan tolok ukur.
Berbicara mengenai tren yang sedang dan akan digandrungi di masa datang, Irma Hardisurya, Color & Image Consultant "Color Style" memaparkannya dalam acara talk show bertema New Era in Fashion and Lifestyle Industry yang diadakan di Mal Kelapa Gading, belum lama ini.
Menurutnya, internet sudah menjadi ajang pertarungan dalam industri mode. Sehingga dalam transaksi melalui website, sebelum berbelanja, konsumen bisa membandingkan barang dan harga lewat riset secara online. Walau pada akhirnya konsumen bisa saja berbelanja di toko.
"Dari industri massal hingga ke barang mewah, pasar yang naik daun sekarang dan kedepan adalah BRIC (Brazil, Russia, India, dan China). Desainer mode sudah banyak yang berminat berbisnis ke sana. Tahun-tahun belakangan ini, kota-kota besar di Barat dibanjiri orang-orang berdompet tebal dari BRIC," ungkapnya.
Dijelaskan oleh pemilik "Rumah Rona Gaya" ini, Brazil memiliki semangat konsumerisme tinggi dengan pasar domestik kuat untuk mode. Mereka asyik menyelenggarakan fashion events dan gandrung produk bermerek. Rusia, daya beli terbesar besar, namun potensi yang ada terutama untuk high risk fashion label tetap tak terbendung.
India, sebut Irma, merupakan potensi terbesar dengan pesatnya peningkatan kesejahteraan, terutama populasi muda usia dan berduit. Dan China, kemakmuran di kota-kota besarnya menciptakan kelas menengah baru yang memiliki banyak uang untuk dibelanjakan, terutama untuk brand internasional yang terus berlomba memasuki pasar mereka.
Menanggapi hal itu, desainer Taruna K Kusmayadi kepada okezone mengatakan, market dan ekonomi serta pasar sedang concern dengan BRIC countries yaitu Brazil, Rusia, India, dan China.
"Banyak orang kaya baru dari negara-negara tersebut. Kalau di India terkenal dengan silocon valuenya, Rusia minyaknya, Brazil dari minyak dan perkebunan pertaniannya, kalau China label ekspensi dan intensif. Selain itu, orang kaya baru dan generasi barunya banyak berasal dari negara-negara tersebut," papar pria yang akrab disapa Nuna ini.
Sementara itu, masih menurut Irma, era konsumen saat ini adalah kupu-kupu atau butterfly consumen. Artinya, konsumen sekarang tidak lagi loyal pada brand, tetapi lebih suka coba sana sini , icip-icip sini.
"Konsumen kupu-kupu ini mengubah cara pemasaran dan ritel produk mewah di abad ke-21. Mereka menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi seperti produk fesyen, kendaraan, perhiasan, dan kecantikan," kata alumni ITB jurusan seni lukis ini.
Ditambahkan olehnya, mereka cerdas, terpelajar dan banyak tahu, lebih percaya info dari mulut ke mulut daripada sumber terpercaya. Mereka berbelanja lebih karena keinginan (want) daripada kebutuhan (need).
"Saat ini tidak banyak konsumen yang setia dengan merek, hanya dua persen. Konsumen itu sekarang seperti kupu-kupu, ada harga dan kualitas bagus dan gampang didapat. Konsumen maunya sekarang yang bargain, bargain, bargain (menawar, menawar dan menawar) dengan harga dan kualitas murah," terang Nuna yang juga konsultan rubrik fesyen di okezone ini.
Tak hanya itu saja, konsep hijau yang semakin marak membuat jutaan konsumen turut "menghijaukan" hidup dan status mereka dalam atmosfer lingkungan atau eco-sfer. Hal ini ditunjang pula dengan semakin banyaknya perusahaan yang peduli dan serius berpikir dan berkonsep "hijau".
Ternyata, dalam pelaksanaannya, wabah go green tak hanya berimbas pada pilihan warna tapi juga bahan yang digunakan. Bahan katun sekarang ini (kecuali organik) sering dianggap tidak ramah lingkungan karena pemakaian pestisida di perkebunan kapas.
Menurut Irma, kini sedang dikembangkan beberapa serat alami eco-friendly antara lain terbuat dari bahan dasar bambu (bamboo silk), jagung (corn silk atau corn fiber), kedelai (soy fiber), dan hemp. Sekarang masih langka dan harganya pun masih tinggi, tapi diprediksi akan menjadi bahan masa depan yang harganya akan turun.
Selain perubahan global dalam industri fesyen dan lifestyle serta pergeseran perilaku konsumen, tren warna dari tahun ke tahun terus berubah. Karena warna merupakan cara tercepat, termurah dan paling kelihatan untuk membedakan suatu produk dengan produk pesaing.
Berdasarkan tren terkini, pendiri Promo Studio dan staf pengajar di Futura Fashion ini, warna terbagi menjadi tiga pendapat dari para pakar. Berdasarkan pendapat Pantone, blue iris (campuran biru dan ungu) menjadi tren warna 2008 untuk insdustri desain. Warna biru tinta, hijau dan ungu, dipadu merah, ungu, dan lila merupakan warna untuk berbagai jenis bahan dan busana, bahkan sepatu dan tas.
Caus (Color Association of The United States) berpendapat lain. Mereka menetapkan warna bamboo (hijau mengandung unsur kuning) mewakili hasrat akan perubahan sosial ke lingkungan yang lebih bersih. Di saat-saat tidak menentu sekarang ini, hijau merupakan warna mantap dan memiliki kekuatan, di samping tren sadar lingkungan terus berlanjut.
Sementara color market group, mengklaim bahwa tren warna 2008 seputar hijau, cokelat, nada bebatuan, netral, atau warna menatari pagi. Selain pengaruh berbagai budaya pun tak ketinggalan warna-warni eksotis India, budaya Hispanik (Meksiko, Amerika Tengah atau Karibia dan Amerika Selatan) yang kaya akan palet hangat dan hidup serta warna-warna aksen "pop rocks" yang serba kuat.
(nsa)
Trend
Tren Industri Fesyen dan Gaya Hidup 2008
Jum'at, 23 Mei 2008 - 18:40 wib
Berita Lain
-
Selasa, 02/12/2008 18:12
Zenergetics, Tren Rambut 2009 Rudy Hadisuwarno -
Selasa, 02/12/2008 18:12
Poppy Dharsono Rilis Buku 'Redefining Heritage' -
Selasa, 02/12/2008 16:12
Karl Lagerfeld Rilis Film Chanel -
Selasa, 02/12/2008 15:12
'Redefining Heritage' ala Poppy Dharsono -
Selasa, 02/12/2008 15:12
Kado Natal Rahasia Victoria Beckham -
Selasa, 02/12/2008 13:12
Busana Musim Dingin ala Nicky Hambleton -
Selasa, 02/12/2008 12:12
Geri Halliwell Unjuk Bokong di Acara Anak -
Selasa, 02/12/2008 11:12
Model India, Potensi Baru Dunia Mode
