Karir dan kepribadian
Potensi Perselingkuhan Atasan dan Bawahan
Senin, 26 Mei 2008 - 17:13 wib
Chaerunnisa - Okezone
Foto : Corbis
TERNYATA tindakan perselingkuhan yang terjadi dalam hubungan rekan sekantor maupun atasan dan bawahan sering timbul karena diawali dari saling mengutarakan curahan hati atau "curhat".
Kenyataan tersebut kemudian berbuntut dari perasaan nyaman untuk saling mencurahkan perasaan dan isi hati. Lama kelamaan, hal itu menjadi biasa dan semakin memantapkan jalan menuju perselingkuhan.
Karena timbulnya perasaan tiada hari yang indah tanpanya, sementara Dia bukanlah istri Anda. Akhirnya hubungan Anda telah berubah menjadi ?perselingkuhan emosional' yang penuh risiko.
Risiko itu datang saat Anda mulai membagi keintiman emosional yang semula hanya dibagi kepada istri. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakseimbangan dan keretakan pernikahan. Lantas, untuk menghindari hal tersebut langkah apa saja yang harus ditempuh?
Mengenai hal itu, psikolog Bondan Seno Prasetyadi memaparkan beberapa langkah yang dapat ditempuh. Dijelaskan oleh alumnus Universitas Gunadharma ini ialah selalu mengingatkan diri sendiri mengenai hal mendasar dari hubungan kerja yaitu profesionalitas.
"Kalau kita bekerja, maka harus selalu komitmen dengan pekerjaan yang dijalani. Artinya, kita bebas berinteraksi dengan siapa pun, tapi tidak pernah menceritakan masalah pribadi. Karena sekali kita membuka diri, maka akan terbuka peluang untuk terjadinya perselingkuhan," kata Bondan saat dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Senin (26/5/2008).
Karena alasan tersebut, sambungnya, maka Anda selaku atasan harus memiliki komitmen teguh untuk selalu bersikap dan berkata hanya sebatas profesional, demikian pula sebaliknya.
"Perselingkuhan terjadi bukan hanya dengan cara bersetubuh, tapi perselingkuhan perasaan (hati) pun sudah menjadi bagian. Celah perselingkuhan tersebut dapat dimulai dengan cara mengajak makan dan bercerita mengenai urusan pribadi yang dilakukan secara continues," jelas konsultan untuk SDM di beberapa perusahaan itu.
Nah, saat Anda berada dalam kondisi demikian, maka langkah yang paling tepat untuk dilakukan ialah segera ahli atau pakarnya. Bila berhubungan dengan medis dan kejiwaan, maka dapat datang ke psikiater, kalau hanya berhubungan dengan psikis bisa datang ke psikologi. Tapi kalau sudah menyangkut masalah kerohanian, maka datanglah ke ustad, pastor, atau pendeta.
"Bila tidak siap mendatangi para pakar, maka tak ada salahnya mengikuti langkah lain yaitu dengan membuat diari pribadi. Baik itu dituliskan dalam sebuah buku maupun diceritakan langsung pada istri atau keluarga terdekat," terang staf pengajar di Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu.
Meski beberapa langkah di atas dapat ditempuh untuk menghindari perselingkuhan, bukan berarti Anda harus menjadi atasan yang kaku. Karena itu, masih menurut Bondan, saling curhat mengenai pekerjaan sah-sah saja dilakukan.
"Asalkan konteksnya tak berubah menjadi curhat pribadi, maka saling membicarakan masalah pekerjaan boleh saja dilakukan antara atasan dan bawahan," pungkasnya. (nsa)
Baca Juga:
BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 12:10
Kiat Praktis Peroleh Pekerjaan Impian -
Senin, 06/10/2008 12:10
Mengembalikan Semangat Kerja yang Sempat Padam -
Selasa, 30/09/2008 11:09
Bersaing Sehat di Lingkungan Kerja -
Minggu, 28/09/2008 15:09
Tip Praktis untuk Memperbaiki Kepribadian -
Rabu, 24/09/2008 16:09
Maknai Libur Lebaran Bagi Pekerja