o1 o2

Fashion


Paradise Biyan Wanaatmadja

Kamis, 29 Mei 2008 - 15:20 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Tuty Ocktaviany - Okezone
Koleksi Biyan Wanaatmadja (Foto: Andikey Kristianto/ Okezone)

SOSOK Biyan Wanaatmadja memang tidak berubah, meski kariernya sebagai perancang telah memasuki usia 25 tahun. Perubahan yang lebih menonjol hanyalah pada desain busananya yang semakin matang dan enak dipandang.

Seakan ingin menunjukkan eksistensinya sebagai perancang yang sukses, Biyan pun menggelar peragaan busana koleksi utamanya BIYAN yang begitu apik dan spektakuler. Tak tanggung-tanggung, Biyan mengerahkan segenap energi yang dimiliki untuk membuat 100 set baju untuk dipresentasikan oleh 32 model pilihan.

Tak hanya itu saja, Biyan yang dikenal sebagai konseptor mode hebat di Tanah Air mampu membuat sebuah pertunjukan yang membuat kedua bola mata seluruh pengunjung yang datang enggan berpaling dari setiap koleksi yang dipamerkan.

"Di acara ini Biyan terlihat ingin menunjukkan kepiawaiannya dalam menggunting pakaian dan tetap menampilkan sesuatu yang sangat-sangat baru," tutur Chossy Latu ditemui okezone seusai pergelaran busana.

Menurutnya lagi, usia 25 tahun ini cukup menjelaskan konsistensi Biyan dalam berkarya dan tidak lompat-lompat. "Biasanya jika desainer belum matang kelihatan hari ini berbeda dengan hari esok. Saya tidak melihat pada karya Biyan. Meski ada koleksi baru, tapi desain yang ditampilkan tetap mempunyai ciri khas Biyan," imbuh Chossy yang mengaku begitu dekat secara pribadi dengan Biyan.

Biyan memang selalu bersemangat dan mencurahkan dedikasinya dengan segenap hati dalam setiap persiapan koleksi terbarunya. Namun presentasi tahunan kali ini membuatnya lebih antusias karena ia terinspirasi dan mendedikasikan karyanya untuk Tanah Air Indonesia. Tanah Air tempatnya dilahirkan, dibesarkan, ditempa pengalaman dan prestasinya diapresiasi.

"Indonesia dalam pandangan saya mengandung unsur tradisi, budaya, dan gaya hidup namun tak lepas dari aspek global, urban, dan kekinian. Saya sebut Nusantara kontemporer, suatu konsep kreatif atas esensi Indonesia sebagai negara yang berwawasan Bhineka Tunggal Ika dan memiliki landasan pemikiran progresif terhadap kebaruan dan globalisasi," tutur desainer ramah ini.

Tidak heran bila dalam berbagai elemen karya terbarunya bisa ditemui berbagai aspek seni, budaya, dan gaya hidup khas Indonesia. Misalnya memori tentang semangat suku primitif di pedalaman Irian Jaya, kehidupan floral dan fauna di pedalaman hutan Kalimantan atau refleksi warna air laut di perairan Sumba.

"Saat masih kecil, ketika melakukan perjalanan dan melewati berbagai desa dan kota saya ingat seringkali melihat banyak wanita memakai kemben, kain, atau membawa jinjingan. Ada pula yang memakai samping dan dijadikan gendongan atau melihat petani memakai celana bersiluet longgar. Banyak sekali warna-warna tanah dan alam semesta ini," kata Biyan panjang lebar.

Tidak hanya itu, pemilik label Studio 133 ini juga menangkap Indonesia sebagai bangsa multikultural yang terbuka terhadap persilangan budaya. Misalnya saat penduduk Indonesia berinteraksi dengan saudagar Arab dan Timur Tengah. Ketika bangsa-bangsa Eropa mendominasi Asia, termasuk Indonesia pada masa kejayaan kolonialisme, hingga pengaruh budaya negeri Sakura saat pemerintah Jepang menduduki Indonesia. "Namun yang terpenting ialah bagaimana membuat pembaruan agar hasilnya relevan dengan gaya hidup urban," imbuhnya.

Reinterpretasi rekaman pengalamannya tersebut memang banyak diterjemahkan menjadi berbagai elemen busana. Di antaranya menggunakan pola adaptasi dari teknik memakai baju kurung, baju bodo, dan dipadu baju kimono. Permainan volume, draping, atau teknik plintir yang disuguhkan menjadi istimewa karena prosesnya dipetakan langsung pada tubuh wanita asli, untuk kemudian disesuaikan menjadi suatu pola dan acuan dalam teknik penjahitan. Permainan motif dan proporsi juga dipentingkan, misalnya pengolahan secara khusus motif ikat, corak-corak floral, hingga motif burung bangau. Biyan tak segan menabrak warna, menyilangkan motif atau bermain patchwork.

"Pengaruh unsur tribe, alam tropis dan kultur justru banyak menghasilkan aplikasi detail berwarna terang, seperti oranye dan merah. Hasil akhirnya, selain chunky, playfull dan naif, juga terkesan rich dan glamour," ujar Biyan.

"Saat bereksperimen, kami melalui berbagai tahapan dan proses. Kami harus kompromi dan menyesuaikan dengan karakter bahan, yang di sisi lain justru menghasilkan karya kontradiktif dan modern," tambah desainer yang kali ini banyak memainkan kain berbagai motif dan multitekstur.

Presentasi koleksi tentang Indonesia versi Biyan ini ibarat rancangan kolase berbasis kolektivitas memorinya selama ini, baik sebagai individu maupun desainer. Biyan sadar betul bahwa dalam merekam memori masa silam, ia tidak bisa menggunakan pola pikir masyarakat saat itu. Ia juga memikirkan konsumen yang datang dari berbagai generasi, multiprofesi, kepribadian yang variatif hingga diferensiasi gaya hidup urban saat ini.

Selain diwujudkan ke dalam puluhan elemen busana beresensi Indonesia, rupanya Biyan juga merealisasikan idenya ke dalam sebuah presentasi yang ia sebut "Paradise". Biyan menerjemahkannya ke dalam tatanan dekorasi yang mengadaptasi hutan tropis. Sebuah destinasi hijau, meneduhkan dan sarat inspirasi.

Pola pemikiran positifnya juga tak hanya berwujud dalam fantasi kreatif. Melalui momen tersebut, Biyan mencoba menggali pemikiran positif secara nyata dengan mengajak para undangan untuk bersama-sama mengumpulkan dana hibah seni khusus untuk perempuan di bidang tari kepada Yayasan Kelola. Sebuah yayasan bereputasi yang dikenal luas karena dukungannya terhadap kegiatan keanekaragaman seni dan budaya di Tanah Air. "Semoga apa yang kami presentasikan ini mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia," pungkas Biyan.
(tty)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com 
Share
o1 o2