Fashion
Harmoni Dayak Lia Kusumaningdiah
Jum'at, 30 Mei 2008 - 14:35 wib
Foto: Yulianto/Sindo
TERINSPIRASI eksotisme budaya Kalimantan, Lia Kusumaningdiah merangkum keindahan warna, motif, serta budaya suku Dayak dalam kemasan busana muslim siap pakai.
Hutan Borneo menyimpan sejuta keindahan di balik hijau rimbun pepohonan. Pesona warna, harmoni, serta tradisi masyarakat yang hidup di dalamnya menggugah Lia Kusumaningdiah untuk menghadirkannya dalam bentuk busana. Mengangkat etnis Dayak, desainer asal Jawa Timur ini mencoba menampilkan sisi lain eksotisme budaya Tanah Air yang begitu beragam.
Tema "Dayak in Harmony" pun diketengahkan Lia sebagai cerminan keterpikatannya akan eksotisme Kalimantan. Dengan pahatan, motif dekoratif, serta penggunaan warna tegas, Lia seolah menyajikan kekayaan budaya di atas catwalk Jakarta Fashion & Food Festival 2008.
"Saya terinspirasi oleh keindahan Kalimantan. Di sana begitu kaya dengan berbagai nuansa dan warna," sebut Lia. Dia lantas menuangkannya dalam wujud corak atraktif diatas material lembut yang semakin menonjolkan tekstur ornamen etnik kreasinya.
Bahan yang digunakan Lia antara lain thomsonsilk, thai silk, chiffon silk, polyester, tenun, serta lurik. "Semua dipadupadankan sehingga membentuk sebuah sebuah harmoni yang elegan sekaligus glamor," terang desainer yang bernaung di bawah Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini.
Lia sengaja memakai tenun sebagai media karena potensi kain tersebut dirasakan belum dimaksimalkan. Ia juga melihat, selain sebagai bagian dari berbusana di beberapa daerah, kain tenun menunjukkan sebagai nilai status seseorang dalam masyarakat.
Dengan sentuhan teknik lukis, motif Dayak yang disuguhkan Lia tam- pil begitu cantik. Apalagi diperkaya dengan aplikasi embroidery juga taburan payet dan kristal swarovski untuk kesan yang lebih mewah. Adapun untuk pemilihan warna koleksinya, Lia banyak menggunakan palet keemasan yang diaplikasikan bersama warna alam. "Saya memilihnya karena semua warna tersebut menambah kesan elegan, etnik, serta eksotik," tuturnya.
Di atas catwalk, harmoni yang dipersembahkan Lia memang terasa kental. Teknik lapis alias multilayer yang digunakannya semakin menambah kesan apik pemilihan bahan dan warna. Nuansa keemasan dipasangkan dengan hijau, jingga, cokelat, serta krem, menghasilkan rangkaian busana yang simpel dan wearable.
Kesan sederhana dan simpel menjadi ciri khas busana muslim Lia. Model yang ditawarkannya cukup simpel dengan permainan warna polos alias one tone color. Kalaupun ada lebih dari dua warna yang dipakai, itu hanya pada potongan potongan yang berbeda seperti baju utama dan baju luarnya.
Pemilihan warna monoton bukan tanpa alasan. Dengan tone senada yang dia gunakan, Lia justru merasa lebih bebas berekspresi dengan aksesori dan detail yang ditampilkannya. Menurutnya, hal itu akan memudahkan dalam padu padan berbusana.
Rumit, rupanya tidak ada dalam kamus Lia. Hal itu terlihat dari penggunaan motif yang ditempatkan secara terstruktur. Rapi tertata tanpa kesan ruwet. Secara sistematis, Lia menempatkan detail satu per satu. Terkadang di daerah leher dan bahu, lainnya di lengan, maupun di ujung busana. Di beberapa koleksi, celana juga mendapatkan perhatian yang tidak jauh berbeda. Motif ukir Dayak dalam palet keemasan menjadi ornamen dekoratif yang mempertegas citra etnik yang ingin ditampilkannya.
Adapun untuk menghadirkan nuansa feminin, Lia tidak ketinggalan menyisipkan beberapa aksen manis, seperti ruffles, frills, plisket, serta kerut. Aksen-aksen tersebut diletakkan di beberapa bagian strategis, yakni kerah, bahu, dan lengan. Sesekali aksen dropwaist hadir untuk memberikan siluet ramping pada penggunanya.
Citra glamor juga diperlihatkan lewat potongan-potongan busana simpel, namun elegan. Cape, cropped jacket, overcoat, serta ruffled blazer tampil memesona dalam cutting dinamis.
Rancangan busana muslim Lia yang memiliki sentuhan art deco ini ditargetkan bagi muslimah bergaya dinamis. "Saya membuatnya untuk mereka yang berusia 25 tahun ke atas dan memiliki kepribadian mandiri dan praktis. Busana ini juga mudah di-mix and match dengan celana, rok, atau kain dengan aksesori scarf," ungkapnya.
(sindo//tty)
Hutan Borneo menyimpan sejuta keindahan di balik hijau rimbun pepohonan. Pesona warna, harmoni, serta tradisi masyarakat yang hidup di dalamnya menggugah Lia Kusumaningdiah untuk menghadirkannya dalam bentuk busana. Mengangkat etnis Dayak, desainer asal Jawa Timur ini mencoba menampilkan sisi lain eksotisme budaya Tanah Air yang begitu beragam.
Tema "Dayak in Harmony" pun diketengahkan Lia sebagai cerminan keterpikatannya akan eksotisme Kalimantan. Dengan pahatan, motif dekoratif, serta penggunaan warna tegas, Lia seolah menyajikan kekayaan budaya di atas catwalk Jakarta Fashion & Food Festival 2008.
"Saya terinspirasi oleh keindahan Kalimantan. Di sana begitu kaya dengan berbagai nuansa dan warna," sebut Lia. Dia lantas menuangkannya dalam wujud corak atraktif diatas material lembut yang semakin menonjolkan tekstur ornamen etnik kreasinya.
Bahan yang digunakan Lia antara lain thomsonsilk, thai silk, chiffon silk, polyester, tenun, serta lurik. "Semua dipadupadankan sehingga membentuk sebuah sebuah harmoni yang elegan sekaligus glamor," terang desainer yang bernaung di bawah Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini.
Lia sengaja memakai tenun sebagai media karena potensi kain tersebut dirasakan belum dimaksimalkan. Ia juga melihat, selain sebagai bagian dari berbusana di beberapa daerah, kain tenun menunjukkan sebagai nilai status seseorang dalam masyarakat.
Dengan sentuhan teknik lukis, motif Dayak yang disuguhkan Lia tam- pil begitu cantik. Apalagi diperkaya dengan aplikasi embroidery juga taburan payet dan kristal swarovski untuk kesan yang lebih mewah. Adapun untuk pemilihan warna koleksinya, Lia banyak menggunakan palet keemasan yang diaplikasikan bersama warna alam. "Saya memilihnya karena semua warna tersebut menambah kesan elegan, etnik, serta eksotik," tuturnya.
Di atas catwalk, harmoni yang dipersembahkan Lia memang terasa kental. Teknik lapis alias multilayer yang digunakannya semakin menambah kesan apik pemilihan bahan dan warna. Nuansa keemasan dipasangkan dengan hijau, jingga, cokelat, serta krem, menghasilkan rangkaian busana yang simpel dan wearable.
Kesan sederhana dan simpel menjadi ciri khas busana muslim Lia. Model yang ditawarkannya cukup simpel dengan permainan warna polos alias one tone color. Kalaupun ada lebih dari dua warna yang dipakai, itu hanya pada potongan potongan yang berbeda seperti baju utama dan baju luarnya.
Pemilihan warna monoton bukan tanpa alasan. Dengan tone senada yang dia gunakan, Lia justru merasa lebih bebas berekspresi dengan aksesori dan detail yang ditampilkannya. Menurutnya, hal itu akan memudahkan dalam padu padan berbusana.
Rumit, rupanya tidak ada dalam kamus Lia. Hal itu terlihat dari penggunaan motif yang ditempatkan secara terstruktur. Rapi tertata tanpa kesan ruwet. Secara sistematis, Lia menempatkan detail satu per satu. Terkadang di daerah leher dan bahu, lainnya di lengan, maupun di ujung busana. Di beberapa koleksi, celana juga mendapatkan perhatian yang tidak jauh berbeda. Motif ukir Dayak dalam palet keemasan menjadi ornamen dekoratif yang mempertegas citra etnik yang ingin ditampilkannya.
Adapun untuk menghadirkan nuansa feminin, Lia tidak ketinggalan menyisipkan beberapa aksen manis, seperti ruffles, frills, plisket, serta kerut. Aksen-aksen tersebut diletakkan di beberapa bagian strategis, yakni kerah, bahu, dan lengan. Sesekali aksen dropwaist hadir untuk memberikan siluet ramping pada penggunanya.
Citra glamor juga diperlihatkan lewat potongan-potongan busana simpel, namun elegan. Cape, cropped jacket, overcoat, serta ruffled blazer tampil memesona dalam cutting dinamis.
Rancangan busana muslim Lia yang memiliki sentuhan art deco ini ditargetkan bagi muslimah bergaya dinamis. "Saya membuatnya untuk mereka yang berusia 25 tahun ke atas dan memiliki kepribadian mandiri dan praktis. Busana ini juga mudah di-mix and match dengan celana, rok, atau kain dengan aksesori scarf," ungkapnya.
Baca Juga:
Konsultasi Wulan Tilaar
Kulit Putih, Tapi Wajah Berjerawat
Saya ingin berkonsultasi seputar masalah wajah. Saya memiliki kulit putih, tapi di bagian wajah banyak jerawat, bentol putih, komedo, dan bintik hitam. Selama ini saya tidak pernah memakai produk kecantikan. Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Selasa, 19/08/2008 14:08
Poppy Dharsono, Selalu Ada Proses Kreatif -
Senin, 18/08/2008 00:08
30 Desainer Luncurkan Karya Masterpiece -
Kamis, 14/08/2008 17:08
Bisnis Fashion Dua Sosialita -
Senin, 11/08/2008 18:08
Topshop Ekspansi ke China
