Fashion

The Victorian Era

Jum'at, 6 Juni 2008 - 14:51 wib


Foto: Eko Purwanto/Sindo
PENGARUH era victorian rupanya masih menguasai gaya busana muslim. Tahun ini, aksen ruffles, frills, dan kerah tinggi tetap menjadi pilihan para desainer.

Napas victorian yang terus berlanjut, terlihat dari presentasi koleksi perancang busana muslim di pergelaran Jakarta Fashion & Food Festival 2008, beberapa waktu lalu. Sebanyak sebelas desainer busana muslim yang terlibat, menyajikan rangkaian outfit dengan variasi aksen khas victorian. Seperti halnya tone yang mendominasi pada akhir abad ke-19, corak bunga nan romantis hingga ornamen lace dan renda yang tampil sebagai penghias busana.

Tidak bisa dimungkiri, era victorian memang memberikan pengaruh besar terhadap dunia mode. Gaya busana yang berusia ratusan tahun ini terus berevolusi dan mengadaptasi diri hingga mampu membaur dalam garis gaya modern. Para desainer pun tak segan mengulik, mengolah, dan merombaknya sehingga menjadi aksen yang bisa diterima masyarakat luas.

Sayangnya, beberapa di antara mereka hanya mengambil mentah bentukan-bentukan busana dari era tersebut. Karena itu koleksi yang ditawarkan menjadi tidak adaptable dan berkesan ekstraglamor. Apalagi bila disandingkan dengan tren busana siap pakai yang tengah hip saat ini.

Tahun ini, gaya victorian kembali dalam nostalgia yang lebih lekat. Bukan hanya dari segi aksen semata. Namun, juga bentuk busana yang banyak menggunakan volume. Hal ini pun tidak hanya berlaku pada varian busana kontemporer, juga busana muslim.

Sebut saja Herman Nuary. Desainer asal Bandung ini terus konsisten menggunakan detail-detail khas victorian dalam rancangannya. Napas romantis itu dimunculkan Herman melalui aksen puff, teknik multilayer, dan gaya rancangan ekstravagan, yang menjadi ciri utama busana pada era tersebut. Payet, kristal, dan permainan batu alam menambah kesan glamor. Sementara lace yang ditempatkan di bagian bahu dan ujung lengan menjadi pemanis sekaligus membuat tampilan keseluruhan terlihat mewah.

Tidak jauh berbeda, desainer asal Sumatera Barat Ade Irma mengetengahkan tema "The Last Dark" dengan konsep rancangan etnik kontemporer. Menggunakan warna hijau dan hitam, Ade menghadirkan rangkaian busana muslim glamor dengan banyak taburan payet dan aplikasi embroidery.

Melihat rancangannya, koleksi Ade lebih tepat disebut sebagai gaun malam dibandingkan busana muslim. Pasalnya, nuansa victorian mengembus kental dari tiap desainnya, nyaris tanpa adaptasi gaya praktis yang tengah digemari masyarakat.

Cutting, volume, aksen, seluruhnya meneriakkan garis kemegahan busana abad pertengahan. Bukan hanya itu, Ade juga banyak menggunakan aksen balon, korset, korsase, yang ditampilkan secara mewah. Kontras dengan permintaan pasar yang kini justru menyasar konsep busana siap pakai, simpel, dan praktis.

Hal tersebut disiasati Hennie Noer dengan menghadirkan bentukan dasar busana muslim, gamis, dan tunik. Kendati back to basic, gaya rancangan Hennie masih jauh dari kesan simpel. Napas victorian masih tersisip dalam garis desainnya. Bentukan semi-ballgown, cutting empire, dan babydoll mendominasi, begitu juga dengan teknik ruffles dan opnaisel.

Namun, Hennie masih memberi ruang bagi aroma tradisional agar tetap menguat. Terlihat dari penggunaan tenun troso Jawa Tengah yang diaplikasikan bersama material modern, layaknya sifon dan satin.

Mengenai koleksinya yang lebih menjurus ke gaya busana mewah, Hennie memberi alasan yang jelas. Koleksi desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat ini memang ditawarkan sebagai evening dress, bukan busana sehari-hari. "Saya ingin menghadirkan kesan muslimah modern yang elegan dan berkelas," sebutnya dalam sebuah wawancara.

Monika Jufry juga mengambil napas victorian dalam rancangannya. Hanya, lebih difokuskan pada kreasi unsur etnik Indonesia dengan potongan busana sehari-hari. Dalam koleksi bertema "Simply Eclectic", Monika mengambil kain batik sebagai inspirasi. Dia berusaha membangkitkan kesadaran masyarakat untuk terus melestarikan aset bangsa.

"Karena itu, saya mencoba mengolah batik dengan paduan bahan dan material lain untuk menghasilkan berbagai macam gaya busana modern yang bernapaskan Islam," tutur Monika. Adapun sentuhan victorian dihadirkan desainer Jakarta ini melalui varian ruffles dan kerut pada lengan, kerah, dan jilbab.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Wulan Tilaar

Konsultasi Wulan Tilaar

Kulit Putih, Tapi Wajah Berjerawat

Saya ingin berkonsultasi seputar masalah wajah. Saya memiliki kulit putih, tapi di bagian wajah banyak jerawat, bentol putih, komedo, dan bintik hitam. Selama ini saya tidak pernah memakai produk kecantikan. Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»