Resensi Buku
Ya Nasib...., Sayap-sayap Patah
Selasa, 10 Juni 2008 - 15:08 wib
Arpan Rachman - Okezone
LELAKI itu mencintai Selma Karamy, gadis sederhana, putri sahabat ayahnya, Farris Effandi Karamy. Cinta yang luar biasa mendalam dan tulus dengan anak orang kaya. Tapi akhirnya kandas lewat campur-tangan pihak ketiga.
Pengandasnya, keluarga seorang Uskup yang mencarikan jodoh bagi keponakan yang manja. Gadis itu diambil paksa atas nama agama.
Serupa berbagai roman dan mitos klise, sejak Pranacitra-Roro Mendut, Sam-pek-Ing-thay, Syamsul Bahri-Siti Nurbaya, hingga Romeo Montague-Juliet Capulet, cerita yang satu ini pun memiliki rumus tiga jurus: cinta-putus-maut.
Lalu, Kahlil Gibran yang patah, menumpahkan duka melankolisnya dalam roman berlanggam mendayu-dayu ala Timur Tengah. Buahnya, kesedihan remuk-redam yang mencucuk batin, terasa menyesap sampai bermil-mil jauhnya dari tempat di mana kisah ini terjadi.
Bukan laksana bunyi gesekan rebab mengiringi tari perut yang eksotis-sensual-bergairah, irama roman ini menghanguskan aspek puitiknya yang lembut hingga nyaris "gosong" di tiap lembar kertas. Bagi yang tak sudi diayunkan rasa pesimis, sungguh permainan tak menarik. Kesannya, bertele-tele dan penuh renungan sepele, bahkan pula logisme di anak-anak kalimat yang tak penting.
Emigran Arab di New York yang wafat lebih 77 tahun silam ternyata masih dikagumi dunia. Dunia itu berupa Sapardi Djoko Damono dan Penerbit Bentang yang menerjemahkan ulang dan mempublikasikan lagi karyanya, Sayap-sayap Patah (Al-Ajnihah al-mutakassirah).
Pembaca Indonesia umumnya barangkali memang jenis orang yang suka diiming-imingi mimpi klise seperti ini. Khasanah dari jazirah Arab, apa boleh buat, baik sastra atau model hidup yang ideal, mengekspor begitu banyak utopia ke dunia.
Putus cinta, ya nasib; kehampaan paling pilu yang melanda jiwa manusia, di manapun dan siapapun. Gibran memberi harapan semu di dalam hati yang retak.
Oh, sahabat-sahabat masa mudaku! Atas nama semua perawan yang kalian cintai, kumohon kalian meletakkan rangkaian bunga di atas pusara kekasihku, karena bunga-bunga yang kalian letakkan di pusara Selma adalah tetes-tetes embun yang jatuh dari mata fajar pada daunan mawar yang layu (ibid).
Judul:
Sayap-sayap Patah
Penulis:
Kahlil Gibran
Diterjemahkan dari The Broken Wings
Bantam Books, New York, 1968
Cetakan Pertama:
Edisi Hardcover, Februari 2008
Penerjemah:
Sapardi Djoko Damono
Penerbit:
Bentang, Yogyakarta
xiv + 120 halaman; 15 cm
ISBN 978-979-1227-20-9
(jri)
Sayap-sayap Patah
Penulis:
Kahlil Gibran
Diterjemahkan dari The Broken Wings
Bantam Books, New York, 1968
Cetakan Pertama:
Edisi Hardcover, Februari 2008
Penerjemah:
Sapardi Djoko Damono
Penerbit:
Bentang, Yogyakarta
xiv + 120 halaman; 15 cm
ISBN 978-979-1227-20-9
Baca Juga:
BERITA LAINNYA
-
Jum'at, 26/09/2008 11:09
The Missing, Kisah 2 Psikopat Pemuja Wanita -
Senin, 04/08/2008 11:08
Untukmu, Bron -
Minggu, 20/07/2008 14:07
Ya Salam..., Almustafa! -
Selasa, 01/07/2008 10:07
Nisbinya Jatidiri Buruh Perempuan -
Senin, 19/05/2008 02:05
Pengkhianatan, Kematian, dan Pengampunan -
Jum'at, 11/04/2008 15:04
Beauty for Killing -
Senin, 07/04/2008 16:04
Rumah Iklan