Fashion

Harmoni Lembut Anne Rufaidah

Jum'at, 13 Juni 2008 - 14:54 wib


Foto: Yulianto/Sindo
PALET lembut dan material halus membawa nuansa berbeda di atas catwalk. Anne Rufaidah tidak tampil semarak dengan renda dan payet.

Di tengah tren busana muslim yang penuh bordir, payet, dan renda, Anne justru mendobrak dengan menghadirkan koleksi simpel. "Flowing Wind" menjadi tema yang diusungnya dalam pergelaran Jakarta Fashion & Food Festival 2008, beberapa waktu lalu.

Sesuai dengan tema tersebut, koleksi desainer asal Jakarta ini terlihat ringan, melayang, praktis, tapi tetap bergaya. Garis rancangan tersebut diambil Anne karena merasa jenuh dengan keman dekan desain busana muslim yang cenderung itu-itu saja. "Kalau trennya payet, semua bikin payet. Lalu, kalau bordir yang in, semua garap bordir," keluhnya.

Untuk itu, Anne memberi pendekatan baru dengan menampilkan sesuatu yang baru. Ingin beda dan tampil eksklusif. Anne benar-benar ingin memberikan alternatif bagi para muslimah untuk tampil gaya, tapi tidak pasaran. Rancangannya sengaja dihadirkan minim detail. Sebagai aksen, wanita yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini cukup menggunakan aplikasi sulam ukir dalam tone emas. Manis sekaligus elegan.

Begitu pula dengan pemilihan warna. Anne tidak tampil mencolok dengan barisan warna seru. Sebaliknya, dia memilih palet pastel nan lembut yang semakin menguarkan aroma feminin. Putih, pink, salem, dan beige melayang indah. Material halus lagi ringan mendukung tampilan tersebut. Tidak lagi mengandalkan sutra maupun satin, Anne menggunakan sifon, kain tule, dan organdi.

Bukan tanpa alasan khusus Anne memilih bahan-bahan yang digunakannya. "Karena ringan dan praktis," ucapnya.

Anne bersikap cukup hatihati dalam hal memilih bahan. Tujuannya agar sebagai penutup aurat, rancangannya bisa berfungsi secara benar. Tidak ketat, membentuk siluet tubuh, maupun tembus pandang. Desainnya pun terlihat anggun meski modelnya sederhana. "Rancangan saya memang lebih menekankan pada fungsi tanpa mengurangi aspek keindahan," tutur Juara Lomba Perancang Mode Femina 1991 ini.

Bentukan busana yang dihadirkannya pun terlihat simpel. Tidak berlapis-lapis, seperti yang menjadi ciri khas busana muslim selama ini. Hal ini tentu menjadi alternatif baru bagi para muslimah urban yang ingin tampil simpel, tanpa harus ribet menggunakan berbagai ornamen tambahan.

Menurut Anne, potongan busana simpel itu dihadirkannya untuk memenuhi kebutuhan muslimah urban yang memiliki mobilitas tinggi. Alasan itulah yang menjadikan koleksi Anne begitu simpel, kendati tidak semuanya ditujukan untuk busana sehari-hari. Beberapa rancangannya malah dimaksudkan sebagai pakaian pesta. Karena itu, Anne menyelipkan detail yang lebih glamor, seperti halnya ornamen berukuran besar yang ditempatkan di tengah busana.

Dengan berani Anne memadukan beberapa aksen sekaligus. Namun, seluruhnya tetap hadir selaras. Malah menimbulkan pemandangan yang menarik. Bukan hanya aplikasi sulam emas, juga lipit, plisket, rumbai, dan pita yang memenuhi bagian depan tunik dan baju terusan panjang. Sebagai variasi, dia juga menambahkan lapisan dalam dari material lace nan cantik.

Seluruh desain Anne masih memperlihatkan siluet dasar busana muslim. Meski begitu, berbagai penambahan yang dibuatnya membuat penampilan pakaian muslimah menjadi berbeda. Ada beraneka pilihan yang disediakan Anne.

Kesan feminin hadir pada busana berbahan halus melambai yang dikemas dalam potongan busana klasik seperti gamis, tunik, dan celana panjang. Semuanya dihadirkan pengarang buku Anggun Berkerudung ini dalam siluet longgar, yakni H, Y, dan A, yang membuat pemakainya terlihat santun, anggun, sekaligus jelita.

Napas tradisional rupanya masih tersisip di benak Anne. Karenanya, desainer yang juga menjabat sebagai ketua divisi busana muslim APPMI Jakarta ini, tidak ketinggalan menyajikan padanan kebaya dan gaun terusan. Motif floral yang menjadi intisari motif batik pun diaplikasikannya. Hasilnya, koleksi cantik dan dinamis dengan napas islami yang tetap kental terpelihara.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Rudy Hadisuwarno

Konsultasi Rudy Hadisuwarno

Tampil Keren di Kantor dengan Rambut Ikal

Mas Rudy Hadisuwarno, perkenalkan saya Mahell Sozu, 21, dan sudah bekerja. Setiap kali saya berangkat ke kantor, saya selalu kesulitan menata rambut. Adakah solusi? Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»