Foto: Corbis
BOGOR sepertinya merupakan daerah yang banyak memiliki bukit dan pegunungan. Tak heran, banyak perumahan di Bogor yang dibangun di lahan di atas bukit.
Alasan pengembang membangun hunian di lereng gunung atau bukit salah satunya yakni untuk memenuhi permintaan pasar. Bogor Nirwana Residence (BNR) merupakan salah satu perumahan yang memanfaatkan pesona Gunung Salak sebagai tempat hunian berkelas.
Kawasan hunian yang dibangun PT Bakrie Land Development itu dianggap sebagai hunian ideal bagi masyarakatyanginginhidupsehat dan nyaman dengan keindahan alam kaki Gunung Salak.
Menurut Promotion Manager BNR Bogor A Wahid Asyrori, pihaknya sengaja membangun tempat hunian di bawah kaki Gunung Salak untuk memenuhi permintaan masyarakat yang ingin tinggal di kaki Gunung, tanpa harus memiliki vila di daerah Puncak. "Perumahan kami tidak jauh dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Suasananya benar-benar masih alami," tuturnya.
Agar tidak kehilangan "roh"nya, pengembang sengaja mengembangkan konsep yang mendekatkan penghuni dengan alam. Di antaranya dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti flora-fauna walk hingga penangkaran rusa. Selain itu, ribuan pohon ditanam ulang agar penghuni semakin kerasan untuk tinggal di lokasi hunian.
Pengembang juga membuat sistem keamanan terpadu 24 jam dengan one gate system. Selain itu, pengembang mempergunakan jaringan bawah tanah untuk listrik dan PAM. Lebar tiap ruas jalan yang mencapai 10 meter merupakan bagian dari fasilitas umum bagi penghuni ataupun masyarakat yang ingin menikmati fasilitas yang disediakan Bogor Nirwana Residence.
Bagi penghuni yang bekerja di Jakarta, tinggal di BNR tidak akan menyusahkan. Posisi BNR yang hanya berjarak 10 menit dari gerbang pintu tol Bogor akan memudahkan penghuni untuk menuju Jakarta. Malah, tambah dia, penghuni yang bekerja di Jakarta akan merasakan suasana berbeda.
Dengan kawasan seluas 1.200 hektare, pengembang juga membangun sejumlah fasilitas bagi penghuni dan masyarakat Kota Bogor. Di antaranya telah dan akan membangun hotel dan condotel, universitas, lapangan golf 18 hole, dan pasar modern. Hal itu dimaksudkan agar BNR menjadi salah satu kawasan mandiri di Bogor.
Dia mengatakan, saat ini BNR tengah mengembangkan cluster Grand Harmoni seharga Rp400 juta per unit. Sedangkan cluster Cendana dijual Rp1,5 miliar. Kedua cluster tersebut mengusung konsep minimalis. "Cluster Cendana untuk masyarakat kelas menengah atas," jelasnya.
Di kawasan Sentul, Bogor, juga telah dibangun kawasan hunian yang bernama Sentul City. Sejak beberapa tahun terakhir, di lahan seluas 3.000 hektare itu banyak dibangun cluster perumahan baru, salah satunya adalah Alpensia yang dibangun PT Albros Sentul Developement.
Menurut Marketing Manager PT Albros Sentul Development Syamsul Bahri, meskipun kawasan perumahannya tidak tepat berada di kaki gunung, bukan berarti tidak memiliki keasrian ataupun kenyamanan seperti perumahan yang terletak di kaki gunung. "Perumahan yang kami bangun berada di perbukitan," tuturnya.
Penghuni cluster Alpensia juga dapat memandang beberapa gunung dan bukit, seperti Gunung Salak, Bukit Hambalang,Gunung Pancar, dan Gunung Pangrango.Karena terletak di perbukitan, penghuni juga dapat melihat sirkuit Sentul dan Kota Bogor. Pemandangan itu sepertinya sulit diperoleh masyarakat yang tinggal di kawasan hunian lain.
Dengan kondisi seperti itu, cluster Alpensia akan menjadi tempat hunian yang menyenangkan. Syamsul menjelaskan, cluster Alpensia dikembangkan sebagai kawasan eco friendly dengan suasana alam seperti lingkungan sebuah resor. Areal lahan yang berbukit-bukit dipertahankan. Masing-masing rumah memiliki landscape yang tertata rapi. Kiri-kanan jalan juga telah ditanami pepohonan.
Dari beberapa tempat hunian yang sedang dan akan dibangun di cluster Alpensia, PT Albros Sentul Development menjadikan Mont Blanc, Everest I, dan Everest II sebagai maskot di cluster Alpensia.
Penyebabnya karena Mont Blanc dibangun tepat di bawah perbukitan. Sedangkan Everest I dan Everest II dibangun di bagian teratas bukit Alpensia. Dia menjelaskan, Mont Blanc mempunyai keunikan karena bangunannya tiga lantai ke bawah lembah. Bangunan bagian atas dipergunakan untuk garasi mobil.
Lantai di bawahnya untuk ruang keluarga dan tempat tidur. Sedangkan lantai paling bawah dipergunakan untuk pusat aktivitas keluarga ditambah dengan kolam renang. "Kami menjamin bukit di samping rumah tidak akan longsor karena kami telah memperhitungkan itu dengan teknologi canggih," paparnya.
Mont Blanc yang dijual seharga Rp3 miliar per unit, tengah dalam proses pembangunan.
(sindo//tty) Alasan pengembang membangun hunian di lereng gunung atau bukit salah satunya yakni untuk memenuhi permintaan pasar. Bogor Nirwana Residence (BNR) merupakan salah satu perumahan yang memanfaatkan pesona Gunung Salak sebagai tempat hunian berkelas.
Kawasan hunian yang dibangun PT Bakrie Land Development itu dianggap sebagai hunian ideal bagi masyarakatyanginginhidupsehat dan nyaman dengan keindahan alam kaki Gunung Salak.
Menurut Promotion Manager BNR Bogor A Wahid Asyrori, pihaknya sengaja membangun tempat hunian di bawah kaki Gunung Salak untuk memenuhi permintaan masyarakat yang ingin tinggal di kaki Gunung, tanpa harus memiliki vila di daerah Puncak. "Perumahan kami tidak jauh dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Suasananya benar-benar masih alami," tuturnya.
Agar tidak kehilangan "roh"nya, pengembang sengaja mengembangkan konsep yang mendekatkan penghuni dengan alam. Di antaranya dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti flora-fauna walk hingga penangkaran rusa. Selain itu, ribuan pohon ditanam ulang agar penghuni semakin kerasan untuk tinggal di lokasi hunian.
Pengembang juga membuat sistem keamanan terpadu 24 jam dengan one gate system. Selain itu, pengembang mempergunakan jaringan bawah tanah untuk listrik dan PAM. Lebar tiap ruas jalan yang mencapai 10 meter merupakan bagian dari fasilitas umum bagi penghuni ataupun masyarakat yang ingin menikmati fasilitas yang disediakan Bogor Nirwana Residence.
Bagi penghuni yang bekerja di Jakarta, tinggal di BNR tidak akan menyusahkan. Posisi BNR yang hanya berjarak 10 menit dari gerbang pintu tol Bogor akan memudahkan penghuni untuk menuju Jakarta. Malah, tambah dia, penghuni yang bekerja di Jakarta akan merasakan suasana berbeda.
Dengan kawasan seluas 1.200 hektare, pengembang juga membangun sejumlah fasilitas bagi penghuni dan masyarakat Kota Bogor. Di antaranya telah dan akan membangun hotel dan condotel, universitas, lapangan golf 18 hole, dan pasar modern. Hal itu dimaksudkan agar BNR menjadi salah satu kawasan mandiri di Bogor.
Dia mengatakan, saat ini BNR tengah mengembangkan cluster Grand Harmoni seharga Rp400 juta per unit. Sedangkan cluster Cendana dijual Rp1,5 miliar. Kedua cluster tersebut mengusung konsep minimalis. "Cluster Cendana untuk masyarakat kelas menengah atas," jelasnya.
Di kawasan Sentul, Bogor, juga telah dibangun kawasan hunian yang bernama Sentul City. Sejak beberapa tahun terakhir, di lahan seluas 3.000 hektare itu banyak dibangun cluster perumahan baru, salah satunya adalah Alpensia yang dibangun PT Albros Sentul Developement.
Menurut Marketing Manager PT Albros Sentul Development Syamsul Bahri, meskipun kawasan perumahannya tidak tepat berada di kaki gunung, bukan berarti tidak memiliki keasrian ataupun kenyamanan seperti perumahan yang terletak di kaki gunung. "Perumahan yang kami bangun berada di perbukitan," tuturnya.
Penghuni cluster Alpensia juga dapat memandang beberapa gunung dan bukit, seperti Gunung Salak, Bukit Hambalang,Gunung Pancar, dan Gunung Pangrango.Karena terletak di perbukitan, penghuni juga dapat melihat sirkuit Sentul dan Kota Bogor. Pemandangan itu sepertinya sulit diperoleh masyarakat yang tinggal di kawasan hunian lain.
Dengan kondisi seperti itu, cluster Alpensia akan menjadi tempat hunian yang menyenangkan. Syamsul menjelaskan, cluster Alpensia dikembangkan sebagai kawasan eco friendly dengan suasana alam seperti lingkungan sebuah resor. Areal lahan yang berbukit-bukit dipertahankan. Masing-masing rumah memiliki landscape yang tertata rapi. Kiri-kanan jalan juga telah ditanami pepohonan.
Dari beberapa tempat hunian yang sedang dan akan dibangun di cluster Alpensia, PT Albros Sentul Development menjadikan Mont Blanc, Everest I, dan Everest II sebagai maskot di cluster Alpensia.
Penyebabnya karena Mont Blanc dibangun tepat di bawah perbukitan. Sedangkan Everest I dan Everest II dibangun di bagian teratas bukit Alpensia. Dia menjelaskan, Mont Blanc mempunyai keunikan karena bangunannya tiga lantai ke bawah lembah. Bangunan bagian atas dipergunakan untuk garasi mobil.
Lantai di bawahnya untuk ruang keluarga dan tempat tidur. Sedangkan lantai paling bawah dipergunakan untuk pusat aktivitas keluarga ditambah dengan kolam renang. "Kami menjamin bukit di samping rumah tidak akan longsor karena kami telah memperhitungkan itu dengan teknologi canggih," paparnya.
Mont Blanc yang dijual seharga Rp3 miliar per unit, tengah dalam proses pembangunan.
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com