Travel
Menyingkap Tabir Masa Lalu di Berliner Mauer
Sabtu, 21 Juni 2008 - 11:28 wib
Foto: Corbis
SIAPA tak tahu Berliner Manuer, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut Tembok Berlin? Rasanya hampir semua orang yang hidup di abad ini mengetahuinya. Tembok Berlin menjadi simbol paling legendaris era perang dingin antara Amerika Serikat dan sekutunya (blok Barat), dan Uni Sovyet dan sekutunya (blok Timur), yang berlangsung dari 1947 hingga 1991.
Keberadaan Tembok Berlin tidak bisa dipisahkan dari era Perang Dunia II. Setelah kekalahan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler pada 9 Mei 1945, melalui Deklarasi Potsdam, Rusia dan sekutu (Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis), membagi Jerman menjadi empat bagian. Peningkatan tensi Perang Dingin mendorong Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, menggabungkan wilayah bagiannya menjadi satu dengan membentuk Republik Federal Jerman (termasuk Berlin Barat). Sedangkan Rusia memilih untuk membentuk Republik Demokratik Jerman (termasuk Berlin Timur).
Jerman Barat berkembang menjadi negara kapitalis dengan ekonomi pasar bebas dan pemerintahan yang demokratis. Perekonomian Jerman Barat pun berkembang pesat. Sebaliknya Jerman Timur kurang berkembang dengan sistem ekonomi komunis ala Sovyet.
Perbedaan kondisi itu membuat banyak penduduk Jerman Timur berupaya pindah ke Barat. Selama periode 1949-1961, diperkirakan lebih dari dua juta penduduk Jerman Timur melarikan diri ke Jerman Barat melalui Berlin. Eksodus besar-besaran membuat Pemerintah Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht khawatir, sehingga mereka memutuskan membangun Tembok Berlin. Dimulai pada 13 Agustus 1961, pembangunan tembok tersebut secara tiba-tiba dan rahasia. Secara keseluruhan, Tembok Berlin memiliki panjang 155 kilometer dan tinggi sekitar 3,6 meter.
Namun, pembangunan Tembok Berlin tak menyurutkan niat penduduk Jerman Timur untuk melintas ke Barat. Selama Tembok Berlin berdiri, diperkirakan lebih dari 5.000 pelarian berhasil melintas ke Jerman Barat. Tentu tak semua upaya pelarian berhasil. Kendati tak ada angka pasti, diperkirakan ratusan pelarian tewas tertembak oleh militer ketika mencoba melintasi Tembok Berlin.
Sejarah kemudian mencatat, pada 9 November 1989, Tembok Berlin runtuh melalui revolusi damai. Kejadian itu pada akhirnya menjadi pemicu bersatunya Jerman.
(sindo//tty)
Keberadaan Tembok Berlin tidak bisa dipisahkan dari era Perang Dunia II. Setelah kekalahan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler pada 9 Mei 1945, melalui Deklarasi Potsdam, Rusia dan sekutu (Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis), membagi Jerman menjadi empat bagian. Peningkatan tensi Perang Dingin mendorong Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, menggabungkan wilayah bagiannya menjadi satu dengan membentuk Republik Federal Jerman (termasuk Berlin Barat). Sedangkan Rusia memilih untuk membentuk Republik Demokratik Jerman (termasuk Berlin Timur).
Jerman Barat berkembang menjadi negara kapitalis dengan ekonomi pasar bebas dan pemerintahan yang demokratis. Perekonomian Jerman Barat pun berkembang pesat. Sebaliknya Jerman Timur kurang berkembang dengan sistem ekonomi komunis ala Sovyet.
Perbedaan kondisi itu membuat banyak penduduk Jerman Timur berupaya pindah ke Barat. Selama periode 1949-1961, diperkirakan lebih dari dua juta penduduk Jerman Timur melarikan diri ke Jerman Barat melalui Berlin. Eksodus besar-besaran membuat Pemerintah Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht khawatir, sehingga mereka memutuskan membangun Tembok Berlin. Dimulai pada 13 Agustus 1961, pembangunan tembok tersebut secara tiba-tiba dan rahasia. Secara keseluruhan, Tembok Berlin memiliki panjang 155 kilometer dan tinggi sekitar 3,6 meter.
Namun, pembangunan Tembok Berlin tak menyurutkan niat penduduk Jerman Timur untuk melintas ke Barat. Selama Tembok Berlin berdiri, diperkirakan lebih dari 5.000 pelarian berhasil melintas ke Jerman Barat. Tentu tak semua upaya pelarian berhasil. Kendati tak ada angka pasti, diperkirakan ratusan pelarian tewas tertembak oleh militer ketika mencoba melintasi Tembok Berlin.
Sejarah kemudian mencatat, pada 9 November 1989, Tembok Berlin runtuh melalui revolusi damai. Kejadian itu pada akhirnya menjadi pemicu bersatunya Jerman.
Baca Juga:
Konsultasi Rudy Hadisuwarno
Tampil Keren di Kantor dengan Rambut Ikal
Mas Rudy Hadisuwarno, perkenalkan saya Mahell Sozu, 21, dan sudah bekerja. Setiap kali saya berangkat ke kantor, saya selalu kesulitan menata rambut. Adakah solusi? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Sabtu, 09/08/2008 10:08
Keliling Benua Biru dengan Kereta -
Sabtu, 02/08/2008 17:08
Pacific dan Eropa di Australia -
Sabtu, 12/07/2008 13:07
Eksotisme Carinthia -
Minggu, 06/07/2008 15:07
Pasuruan 'The City of Mountain' -
Sabtu, 05/07/2008 14:07
Enjoy Hokkaido -
Sabtu, 28/06/2008 15:06
Surga Unggas Asia Tenggara -
Rabu, 25/06/2008 16:06
Membuat Persiapan Matang Sebelum & Saat Berlibur
