Fashion
Paris Haute Couture 2009, Adibusana Ekspresif
Senin, 7 Juli 2008 - 09:03 wib
Koleksi Dior (Foto: FWD)
GAIRAH mode menyala terang di panggung Paris. Para desainer kaliber dunia menyulutnya dengan koleksi masterpiece yang ekspresif, atraktif, dan fantastis.
Couture comes to town. Kegairahan menyambut pertunjukkan spektakuler desainer papan atas ini terasa kental di seantero Paris. Semua orang tampaknya tidak sabar menantikan apa yang akan disajikan para maestro di atas runway. Fashionista, selebriti, buyer, serta pengamat mode internasional berkumpul di Kota Menara Eiffel, bersiap menunggu kejutan.
Saat tirai dinaikkan, desah kagum sontak tercipta. John Galliano membuka Paris Haute Couture Fall/Winter 2009 dengan fantasi dan mimpi. Direktur kreatif rumah mode Dior ini sukses membuat penontonnya terpana. Dari Eva Mendes, Janet Jackson, Olivier Martinez, Claudia Schiffer, Marisa Berenson hingga Liv Tyler, tampak menahan napas dan mendesah kagum, setiap koleksi baru melintas di atas catwalk Museum Rodin.
Untuk koleksi adibusana musim gugur nanti, Galliano menyuguhkan keanggunan dan kecantikan Paris dalam sosok Lisa Fonssagrives, wanita bergelar supermodel pertama.
"Ide awalnya datang saat saya mengobrol dengan Irving Penn di New York, dua tahun lalu. Kami berbicara tentang banyak hal, termasuk peran Lisa Fonssagrives dalam karya-karya Penn.
Dari situ, kemudian semuanya berkembang," terang Galliano di belakang panggung, seperti dilansir FWD.
Berbeda dengan koleksi haute couture sebelumnya yang terinspirasi eksotisme geisha Jepang, kali ini Galliano menghadirkan sisi yang lebih manusiawi dari sebuah busana. Kemewahan dan kesan ekstravagan tetap tersaji secara dramatis, khas desainer eksentrik ini. Namun Galliano berhasil menyuntikkan unsur wearable dalam rancangannya. Membuatnya bukan hanya terlihat magis, tapi juga indah dan ramah.
Liv Tyler bahkan langsung memberikan penghormatannya pada Galliano di backstage. "Saya sangat menyukai pertunjukannya. John selalu menghadirkan karya teatrikal dengan akhir magical yang membuat saya menahan napas," sebutnya.
Di panggung Grand Palais, Karl Lagerfeld pun memberikan kegairahan serupa untuk koleksi Chanel. Gaya rancangan yang dihadirkannya pun berbeda jauh dengan koleksi haute couture sebelumnya. Elegan, geometris, terstruktur, namun luar biasa memikat.
Editor mode Fashion Wire Daily Godfrey Deeny menyebut koleksi Lagerfeld sebagai expressionist couture. "Beberapa desainer menghadirkan nuansa futuristik dalam gaya retro, namun tidak Karl Lagerfeld. Dia selalu berhasil memberikan napas baru dalam setiap rancangannya," tulis Deeny.
Glamor mungkin bukan kata kunci bagi Lagerfeld, namun perpaduan cutting, detail, aksen, dan material menjadikan koleksinya memiliki unsur yang lengkap sebagai sebuah adibusana. Beberapa koleksinya tampil dalam gaya multivolume.
Sempit di pinggul, namun lebar di bagian bahu. Lainnya hadir dengan tatanan embellishment yang tersusun rapi, tapi jauh dari kesan kaku.
Sementara Christian Lacroix menciptakan dunia antah berantah lewat permainan lace, bordir, dan bulu. Menghadirkan aura penuh misteri lewat warna-warna solid layaknya merah, fuschia, kuning, ungu, juga cokelat.
Adapun Alessandra Facchinetti berhasil melewati ujian dengan sukses berkat rangkaian koleksi cantik yang dihadirkannya untuk rumah mode Valentino. Koleksi haute couture pertamanya ini meruntuhkan anggapan yang menyebutkan Facchinetti tidak akan bisa menggantikan tempat Valentino. Bahkan, rancangan yang dipresentasikan di markas Valentino di Place Vendome ini banyak mendapat ulasan positif dari berbagai media.
Di tempat lain, Giorgio Armani berhasil membius para undangannya yang didominasi para selebriti. Rangkaian koleksi Armani Prive ini bahkan bisa dikatakan sebagai gaun khusus red carpet. Terbukti dari antusiasme para bintang di barisan depan. Mereka tampak tidak sabar untuk segera memiliki koleksi terbaru, langsung dari catwalk.
Bagaimana tidak bila Armani menyajikan rangkaian koleksi bergaris simpel, namun tetap menyerukan citra glam, anggun, dan tentu saja elegan. Membuatnya layak menerima standing ovation. "Koleksi ini merupakan intisari desain saya," ungkap Armani, setelah menerima penghormatan dari tamu undangan, termasuk Helen Mirren, Charlotte Gainsbourg, Elsa Zylberstein, serta Princess of Savoy Clotilde Courau.
(sindo//tty)
Couture comes to town. Kegairahan menyambut pertunjukkan spektakuler desainer papan atas ini terasa kental di seantero Paris. Semua orang tampaknya tidak sabar menantikan apa yang akan disajikan para maestro di atas runway. Fashionista, selebriti, buyer, serta pengamat mode internasional berkumpul di Kota Menara Eiffel, bersiap menunggu kejutan.
Saat tirai dinaikkan, desah kagum sontak tercipta. John Galliano membuka Paris Haute Couture Fall/Winter 2009 dengan fantasi dan mimpi. Direktur kreatif rumah mode Dior ini sukses membuat penontonnya terpana. Dari Eva Mendes, Janet Jackson, Olivier Martinez, Claudia Schiffer, Marisa Berenson hingga Liv Tyler, tampak menahan napas dan mendesah kagum, setiap koleksi baru melintas di atas catwalk Museum Rodin.
Untuk koleksi adibusana musim gugur nanti, Galliano menyuguhkan keanggunan dan kecantikan Paris dalam sosok Lisa Fonssagrives, wanita bergelar supermodel pertama.
"Ide awalnya datang saat saya mengobrol dengan Irving Penn di New York, dua tahun lalu. Kami berbicara tentang banyak hal, termasuk peran Lisa Fonssagrives dalam karya-karya Penn.
Dari situ, kemudian semuanya berkembang," terang Galliano di belakang panggung, seperti dilansir FWD.
Berbeda dengan koleksi haute couture sebelumnya yang terinspirasi eksotisme geisha Jepang, kali ini Galliano menghadirkan sisi yang lebih manusiawi dari sebuah busana. Kemewahan dan kesan ekstravagan tetap tersaji secara dramatis, khas desainer eksentrik ini. Namun Galliano berhasil menyuntikkan unsur wearable dalam rancangannya. Membuatnya bukan hanya terlihat magis, tapi juga indah dan ramah.
Liv Tyler bahkan langsung memberikan penghormatannya pada Galliano di backstage. "Saya sangat menyukai pertunjukannya. John selalu menghadirkan karya teatrikal dengan akhir magical yang membuat saya menahan napas," sebutnya.
Di panggung Grand Palais, Karl Lagerfeld pun memberikan kegairahan serupa untuk koleksi Chanel. Gaya rancangan yang dihadirkannya pun berbeda jauh dengan koleksi haute couture sebelumnya. Elegan, geometris, terstruktur, namun luar biasa memikat.
Editor mode Fashion Wire Daily Godfrey Deeny menyebut koleksi Lagerfeld sebagai expressionist couture. "Beberapa desainer menghadirkan nuansa futuristik dalam gaya retro, namun tidak Karl Lagerfeld. Dia selalu berhasil memberikan napas baru dalam setiap rancangannya," tulis Deeny.
Glamor mungkin bukan kata kunci bagi Lagerfeld, namun perpaduan cutting, detail, aksen, dan material menjadikan koleksinya memiliki unsur yang lengkap sebagai sebuah adibusana. Beberapa koleksinya tampil dalam gaya multivolume.
Sempit di pinggul, namun lebar di bagian bahu. Lainnya hadir dengan tatanan embellishment yang tersusun rapi, tapi jauh dari kesan kaku.
Sementara Christian Lacroix menciptakan dunia antah berantah lewat permainan lace, bordir, dan bulu. Menghadirkan aura penuh misteri lewat warna-warna solid layaknya merah, fuschia, kuning, ungu, juga cokelat.
Adapun Alessandra Facchinetti berhasil melewati ujian dengan sukses berkat rangkaian koleksi cantik yang dihadirkannya untuk rumah mode Valentino. Koleksi haute couture pertamanya ini meruntuhkan anggapan yang menyebutkan Facchinetti tidak akan bisa menggantikan tempat Valentino. Bahkan, rancangan yang dipresentasikan di markas Valentino di Place Vendome ini banyak mendapat ulasan positif dari berbagai media.
Di tempat lain, Giorgio Armani berhasil membius para undangannya yang didominasi para selebriti. Rangkaian koleksi Armani Prive ini bahkan bisa dikatakan sebagai gaun khusus red carpet. Terbukti dari antusiasme para bintang di barisan depan. Mereka tampak tidak sabar untuk segera memiliki koleksi terbaru, langsung dari catwalk.
Bagaimana tidak bila Armani menyajikan rangkaian koleksi bergaris simpel, namun tetap menyerukan citra glam, anggun, dan tentu saja elegan. Membuatnya layak menerima standing ovation. "Koleksi ini merupakan intisari desain saya," ungkap Armani, setelah menerima penghormatan dari tamu undangan, termasuk Helen Mirren, Charlotte Gainsbourg, Elsa Zylberstein, serta Princess of Savoy Clotilde Courau.
Baca Juga:
Konsultasi Wulan Tilaar
Kulit Putih, Tapi Wajah Berjerawat
Saya ingin berkonsultasi seputar masalah wajah. Saya memiliki kulit putih, tapi di bagian wajah banyak jerawat, bentol putih, komedo, dan bintik hitam. Selama ini saya tidak pernah memakai produk kecantikan. Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Selasa, 19/08/2008 14:08
Poppy Dharsono, Selalu Ada Proses Kreatif -
Senin, 18/08/2008 00:08
30 Desainer Luncurkan Karya Masterpiece -
Kamis, 14/08/2008 17:08
Bisnis Fashion Dua Sosialita -
Senin, 11/08/2008 18:08
Topshop Ekspansi ke China
