Trend

Hidup Tenang di Lingkungan Aman

Selasa, 8 Juli 2008 - 09:15 wib


Foto: Corbis
BAGI sejumlah kalangan, liburan sekolah seperti sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk berlibur ke berbagai daerah atau bahkan luar negeri. Namun tetap waspada saat meninggalkan rumah.

Untuk meninggalkan rumah dalam keadaan kosong dan dalam jangka waktu yang relatif lama, tentu tidaklah mungkin dilakukan. Karena itu, biasanya sebelum berlibur beberapa penghuni rumah menyewa orang untuk menjaga rumah.

Namun, biasanya hal itu tetap saja membuat penghuni rumah tidak bisa berlibur dengan tenang. Karena masih mengkhawatirkan loyalitas orang yang disewa untuk menjaga rumah. Sehingga terkadang penghuni rumah masih merasa perlu menghubungi tetangga terdekat untuk memperhatikan rumah mereka.

Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi andai saja sejak awal telah memilih kawasan hunian yang mempunyai sistem keamanan memadai. Apalagi saat ini, sejumlah kawasan hunian telah menawarkan sejumlah sistem keamanan yang dilengkapi teknologi cukup canggih sebagai salah satu fasilitas yang disediakan kepada penghuni.

Menurut Principal Ray White Kelapa Gading David Tjandra, bagi masyarakat golongan tertentu, jaminan keamanan merupakan salah satu hal terpenting dalam membeli tempat hunian. "Biasanya sebelum membeli rumah, calon penghuni selalu mempertanyakan sistem keamanan yang dipergunakan pengembang," jelasnya.

Berdasarkan pengalamannya menjual rumah, sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah pengembang khususnya pengembang perumahan kelas menengah ke atas telah menjadikan isu keamanan sebagai salah satu fasilitas yang diberikan kepada calon penghuni. Pengembang menyadari keamanan menjadi satu hal yang dianggap penting oleh penghuni.

Karena itu, dalam membangun dan menjual klaster perumahan, sistem keamanan selalu diikutsertakan sebagai sesuatu yang bisa dijual pengembang. Pengembang bisa saja mempunyai konsep yang berbeda dalam membangun kawasan hunian atau tempat hunian. Satu hal yang tidak bisa dibedakan adalah memberikan rasa aman kepada penghuni. Sehingga penghuni bisa tidur nyenyak dan bermimpi indah ketika berada di dalam huniannya.

Terkait dengan itu, setidaknya ada beberapa hal yang biasa dilakukan pengembang dalam membangun kawasan hunian yang dikembangkannya. Mulai menyewa jasa satuan pengamanan (satpam), memasang close circuit television (CCTV), hingga mempergunakan sistem satu pintu. Bahkan, di sejumlah kawasan hunian, ketiga sistem keamanan tersebut dipergunakan secara bersama-sama.

Semakin lengkap manajemen sistem keamanan yang dipergunakan, akan semakin banyak orang yang akan membeli kawasan hunian di tempat tersebut. Karena memang semua penghuni merasa sangat membutuhkan keamanan yang memadai agar bisa lebih nyaman di rumah. "Kalau banyak maling, penghuni pasti akan resah," ucapnya.

Masyarakat sekarang sudah semakin pintar dalam membeli rumah. Mereka tidak mau rumah yang dibeli nantinya akan membuat hidup menjadi kurang nyaman. Karena itulah, jaminan keamanan menjadi persyaratan yang harus disediakan pengembang bila ingin tempat hunian yang dibangun dibeli masyarakat.

Bahkan, lanjutnya, untuk menambah perasaan aman bagi penghuni, sejumlah kawasan hunian membangun pos polisi di dalam kawasan hunian. Secara psikologis, keberadaan pos polisi tersebut tentu membuat penghuni merasa lebih aman. Sebab, pada dasarnya polisi merupakan pelindung dan pengayom masyarakat.

Sekjen DPP Real Estate Indonesia (REI) Alwi Bagir Mulachela menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang membuat masyarakat membeli tempat hunian,yakni letak yang strategis, keamanan lingkungan, dan fasilitas. "Ini artinya sistem keamanan yang diterapkan pengembang berpengaruh pada keinginan masyarakat membeli rumah di tempat tertentu," jelasnya.

Pada tahap awal, biasanya pengembang mempergunakan jasa satpam untuk memberikan rasa aman kepada penghuni. Namun, setelah proyek selesai, pengembang menyerahkan beban biaya untuk menyewa satpam kepada penghuni. Satpam yang disewa pengembang bisa berasal dari biro jasa pengamanan. Tenaga satpam yang berasal dari biro jasa cukup terlatih dan memiliki sertifikat yang diakui kepolisian. Sehingga, profesionalisme dalam menjaga kawasan perumahan tidak diragukan.

Namun terkadang, pengembang juga mempergunakan jasa masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kawasan hunian untuk dipekerjakan sebagai satpam. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat sekitar, khususnya yang kurang memiliki keterampilan, bisa bekerja.

Selain itu, ada juga kawasan hunian yang mempergunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas keamanan kawasan hunian. Teknologi yang dimaksud berupa CCTV. Biasanya CCTV dipasang di tempat strategis dan tersembunyi. Sehingga orang-orang yang memiliki keinginan buruk bisa diketahui gerakannya.

Pengembang biasanya mempergunakan dua macam jenis CCTV untuk memantau aktivitas di kawasan hunian. Kamera swivel yang dapat bergerak untuk memantau gerak dan akan langsung merekam aktivitas di kawasan hunian. Serta menggunakan kamera yang tidak bergerak untuk sudut tertentu dan ruangan tertentu.

Pengembang yang mempergunakan CCTV biasanya menerapkan sistem klaster dalam kawasan hunian yang dibangun. Dengan sistem klaster, pengawasan akan lebih mudah dilakukan. "Apalagi biasanya klaster menerapkan sistem satu pintu. Jadi kalau ada persoalan dapat langsung diketahui satpam," katanya. Dengan demikian, tidak akan memberi ruang bagi pihak luar untuk masuk secara bebas.

Sekarang ini, kawasan hunian yang dilengkapi CCTV sudah cukup banyak. Karena memang cukup terbukti memberikan rasa aman kepada penghuni. Meski demikian, dia mengaku di masa mendatang mungkin saja akan ada teknologi yang lebih canggih lagi. Misalkan saja mempergunakan inframerah.

Sementara, praktisi properti Budhi S Gozali mengatakan, selain produk perumahan dan lokasi serta fasilitasnya, sistem keamanan dari sebuah perumahan adalah salah satu faktor penting yang diperlukan konsumen. Biasanya perumahan yang mempunyai reputasi keamanannya baik, penjualan rumahnya juga baik. "Keamanan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa keluarga dan kekayaan pemilik aman," katanya.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Wulan Tilaar

Konsultasi Wulan Tilaar

Merawat Wajah dengan Facial, Bolehkah?

Dear Mbak Wulan, saya cowok usia 27 tahun dengan kulit wajah normal dan tidak berjerawat. Apakah perlu bagi saya untuk facial ke salon?
Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»