Fashion
Paris Fashion Week Menswear, Tanpa Batas Gender
Rabu, 9 Juli 2008 - 11:17 wib
Dior Homme Men Spring 2009 (Foto: FWD)
KARAKTER maskulin tidak lagi menjadi faktor utama dalam busana pria. Paris Fashion Week membuktikan hal itu, para desainer merancang koleksi terbaru tanpa batasan gender.
Bila umumnya warna pink, bunga, detail sequin, dan sutra menjadi ciri khas busana wanita, kali ini semua unsur feminin itu terdapat pada busana pria. Menantang kaum adam mempertahankan karakter maskulin dalam balutan koleksi serbafeminin.
Kain-kain yang digunakan dalam koleksi musim semi dan musim panas 2009 ini pun jauh dari kesan jantan, melainkan lembut dan mewah layaknya sutra, gazar, maupun crepe de Chine. Para desainer yang beraksi di panggung Paris rupanya sepakat mengaburkan batasan gender. Memberi alternatif baru bagi para pria metropolis.
"Yang paling menonjol dalam pekan mode kali ini adalah banyaknya perpindahan unsur dan detail yang biasanya terdapat di lini busana wanita," tutur Fashion Director Vanity Fair Michael Roberts, seperti dilansir Associated Press.
"Hal yang menarik sebetulnya. Namun, saya rasa ini terlalu berlebihan untuk dilakukan, karena ini pertunjukan koleksi busana pria dan saya harus terus mengingatkan diri sendiri bahwa saya di sini bukan menonton koleksi pret-a-porter bagi wanita," sebutnya.
Dior Homme merupakan salah satu rumah mode yang melupakan perbedaan jenis kelamin itu. Kris van Assche, sang desainer, menghadirkan rangkaian koleksi glamor, penuh detail sequin berwarna keemasan dan aplikasi kristal. Lainnya, Van Assche memberi alternatif parade jaket dalam warna fuschia.
Untungnya, perancang yang mengambil alih Dior Homme tiga musim lalu ini, masih mempertahankan karakter maskulin lewat potongan dan garis rancangan. Menciptakan siluet gagah dan konstruksi tangguh yang kontras dengan warna dan detail yang ditampilkan. Pengganti Hedi Slimane tersebut juga tidak melupakan sentuhan klasik, dengan menyajikan parade kemeja putih di balik jas hitam bergaya kasual.
Menanggapi koleksinya yang kental dengan sentuhan feminin, Van Assche hanya berujar singkat. "Bagi saya, ini bukan memasukkan unsur feminin dalam busana pria," sebutnya. "Namun, lebih kepada pengerjaan detail secara tradisional, seperti halnya bordir, tentu dalam kemasan yang maskulin," kata desainer asal Belgia ini.
Kendati demikian, musim ini Van Assche berhasil mengesampingkan gaya khasnya, yang romantis dan elegan, menjadi lebih tegas, struktural, dan modern. Hal itu terlihat melalui permainan garis, cutting, juga aksen tambahan layaknya kacamata kotak berbingkai besar maupun buckle bersudut.
Citra feminin juga tertuang kental di pertunjukan Lanvin. Bahkan, bisa dibilang, Lanvin-lah yang memulai tren feminin di kancah menswear. Tahun lalu, Direktur Kreatif Lanvin Alber Elbaz memulainya dengan menghadirkan warna-warna manis di koleksi kasual. Kali ini, Lucas Ossendrijver, yang mendesain di bawah arahan Elbaz, melakukan hal serupa, tetapi dalam napas yang berbeda.
Ossendrijver kembali pada esensi teknikal, dengan sensasi yang lebih renyah. Gaya maskulin tetap dipertahankan, kendati sisi feminin para pria pesolek diumbar terang-terangan lewat lipit, kerut, maupun jahitan pada jaket dan celana panjang.
Salah satu yang menarik perhatian adalah kemeja berlengan balon yang dikenakan di luar kaus berdetail manik. Total look itu kemudian dilengkapi sandal berdetail lace dan topi dengan hiasan pita besar. Eklektik, unik, tapi tak urung membuat para undangan mendesah terkejut. "Ini merupakan pakaian yang ingin Anda miliki dan Anda simpan," tutur Ossendrijver, usai pertunjukan.
Bahkan, Paul Smith, yang biasanya tidak pernah lepas dari jalur klasik, ikut memberi kejutan. Dari segi koleksi, desainnya memang tidak berubah drastis, tapi sisi feminin tetap ada.
(sindo//tty)
Bila umumnya warna pink, bunga, detail sequin, dan sutra menjadi ciri khas busana wanita, kali ini semua unsur feminin itu terdapat pada busana pria. Menantang kaum adam mempertahankan karakter maskulin dalam balutan koleksi serbafeminin.
Kain-kain yang digunakan dalam koleksi musim semi dan musim panas 2009 ini pun jauh dari kesan jantan, melainkan lembut dan mewah layaknya sutra, gazar, maupun crepe de Chine. Para desainer yang beraksi di panggung Paris rupanya sepakat mengaburkan batasan gender. Memberi alternatif baru bagi para pria metropolis.
"Yang paling menonjol dalam pekan mode kali ini adalah banyaknya perpindahan unsur dan detail yang biasanya terdapat di lini busana wanita," tutur Fashion Director Vanity Fair Michael Roberts, seperti dilansir Associated Press.
"Hal yang menarik sebetulnya. Namun, saya rasa ini terlalu berlebihan untuk dilakukan, karena ini pertunjukan koleksi busana pria dan saya harus terus mengingatkan diri sendiri bahwa saya di sini bukan menonton koleksi pret-a-porter bagi wanita," sebutnya.
Dior Homme merupakan salah satu rumah mode yang melupakan perbedaan jenis kelamin itu. Kris van Assche, sang desainer, menghadirkan rangkaian koleksi glamor, penuh detail sequin berwarna keemasan dan aplikasi kristal. Lainnya, Van Assche memberi alternatif parade jaket dalam warna fuschia.
Untungnya, perancang yang mengambil alih Dior Homme tiga musim lalu ini, masih mempertahankan karakter maskulin lewat potongan dan garis rancangan. Menciptakan siluet gagah dan konstruksi tangguh yang kontras dengan warna dan detail yang ditampilkan. Pengganti Hedi Slimane tersebut juga tidak melupakan sentuhan klasik, dengan menyajikan parade kemeja putih di balik jas hitam bergaya kasual.
Menanggapi koleksinya yang kental dengan sentuhan feminin, Van Assche hanya berujar singkat. "Bagi saya, ini bukan memasukkan unsur feminin dalam busana pria," sebutnya. "Namun, lebih kepada pengerjaan detail secara tradisional, seperti halnya bordir, tentu dalam kemasan yang maskulin," kata desainer asal Belgia ini.
Kendati demikian, musim ini Van Assche berhasil mengesampingkan gaya khasnya, yang romantis dan elegan, menjadi lebih tegas, struktural, dan modern. Hal itu terlihat melalui permainan garis, cutting, juga aksen tambahan layaknya kacamata kotak berbingkai besar maupun buckle bersudut.
Citra feminin juga tertuang kental di pertunjukan Lanvin. Bahkan, bisa dibilang, Lanvin-lah yang memulai tren feminin di kancah menswear. Tahun lalu, Direktur Kreatif Lanvin Alber Elbaz memulainya dengan menghadirkan warna-warna manis di koleksi kasual. Kali ini, Lucas Ossendrijver, yang mendesain di bawah arahan Elbaz, melakukan hal serupa, tetapi dalam napas yang berbeda.
Ossendrijver kembali pada esensi teknikal, dengan sensasi yang lebih renyah. Gaya maskulin tetap dipertahankan, kendati sisi feminin para pria pesolek diumbar terang-terangan lewat lipit, kerut, maupun jahitan pada jaket dan celana panjang.
Salah satu yang menarik perhatian adalah kemeja berlengan balon yang dikenakan di luar kaus berdetail manik. Total look itu kemudian dilengkapi sandal berdetail lace dan topi dengan hiasan pita besar. Eklektik, unik, tapi tak urung membuat para undangan mendesah terkejut. "Ini merupakan pakaian yang ingin Anda miliki dan Anda simpan," tutur Ossendrijver, usai pertunjukan.
Bahkan, Paul Smith, yang biasanya tidak pernah lepas dari jalur klasik, ikut memberi kejutan. Dari segi koleksi, desainnya memang tidak berubah drastis, tapi sisi feminin tetap ada.
Baca Juga:
Konsultasi Rudy Hadisuwarno
Tampil Keren di Kantor dengan Rambut Ikal
Mas Rudy Hadisuwarno, perkenalkan saya Mahell Sozu, 21, dan sudah bekerja. Setiap kali saya berangkat ke kantor, saya selalu kesulitan menata rambut. Adakah solusi? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Jum'at, 29/08/2008 10:08
Koleksi Material Alam Muji Ananta -
Kamis, 28/08/2008 13:08
Busana Serba 8 ala Mardiana Ika -
Rabu, 27/08/2008 11:08
8 Busana Olimpiade ala Mardiana Ika -
Selasa, 26/08/2008 18:08
Eccentriclassy Eddy Betty
