Keluarga
Jodoh Bukan Lagi Otoriter Pilihan Orangtua
Rabu, 9 Juli 2008 - 18:28 wib
Dewi Arta - Okezone
Foto: Corbis
DULU anak boleh mengikuti kemauan orangtua kala memilih pasangan hidupnya. Persoalan cinta akhirnya tak lagi diperhatikan. Namun zaman sudah berubah, anak sekarang lebih berperan menjadi penentu keputusan mencari pasangan.
"Memang zaman dulu ada fenomena seperti itu. Para orangtua suka menikahkan anaknya tanpa didasari rasa cinta. Bahkan, mereka juga tidak memerhatikan usia anaknya. Mereka khawatir anaknya sulit mendapatkan jodoh," kata psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta, Henny E Wirawan MHum Psi saat dihubungi Okezone, Selasa (9/7/2008).
Menurut Henny, para orangtua hanya melihat calon pasangan untuk anaknya itu berdasarkan bibit, bobot dan bebet, tanpa bertanya kepada anaknya terlebih dahulu apakah si anak setuju dengan perjodohan itu.
"Mereka kadang ada yang langsung menikahkan anaknya dengan calon pilihan meskipun si anak baru satu kali bertemu dengan calonnya. Mereka berpikir proses pengenalan si anak dan calon mantunya dapat dilakukan setelah mereka menikah," cerita Henny.
Menurutnya lagi, umumnya para orangtua menekankan pada anak laki-laki agar mencari jodoh yang harus benar-banar bisa mengurus rumah tangga. Selain tetap memerhatikan faktor bobot, bibit, dan bebet. Sementara pada anak perempuan, orangtua lebih menekankan aspek finansial dan latar belakang dari keluarga sang calon mantu, plus melihat bobot, bibit, dan bebetnya.
"Pada beberapa suku tertentu memang ada beberapa aspek penting yang menjadi tolak ukur dalam menentukan pasangan hidup, di antaranya sukuisme dan pendidikan. Karena itu si anak harus mematuhi peraturan dari keluarganya tersebut," tambahnya.
Tapi kalau melihat perkembangan zaman sekarang, Henny mengaku, masalah perjodohan sudah tak begitu dominan. Kini anak bebas menentukan pasangan hidupnya, yang tentu saja sesuai dengan hatinya.
"Kini seorang lelaki atau perempuan tidak dapat ditentukan berapa usia ideal untuk menikah. Semuanya kembali pada kematangan pribadi masing-masing. Hanyalah mitos saja yang mengatakan perempuan di atas usia 30 tahun sulit menikah. Yang sebenarnya terjadi di sini adalah stok untuk perempuan di atas 30 tahun dapat dikatakan sedikit atau terbatas, sehingga perempuan agak sulit mencari pasangan yang sesuai," jelas Henny.
Selain alasan di atas, Henny menambahkan, faktor reproduksi wanita juga sangat berpengaruh. Menurutnya, usia perempuan bereproduksi sangat bagus ketika usia 25-30 tahun. Karena setelah umur 30 tahun tingkat risiko bagi wanita untuk melahirkan anak akan semakin meningkat.
Nah, pada kasus pria berbeda pula. Konon ada anggapan pria lebih baik menikah pada usia di atas 30 tahun. Menurut Henny, pernyataan ini keluar dikarenakan pada usia lebih dari 30 tahun kebanyakan pria lebih matang, lebih mapan, dan juga lebih dewasa.
"Tetapi sekarang bukan zamannya lagi laki-laki dan perempuan dibeda-bedakan berdasarkan jenis kelamin. Mereka punya kesempatan yang sama, kapan dan dengan siapa mau menikah," pungkasnya.
(tty)
"Memang zaman dulu ada fenomena seperti itu. Para orangtua suka menikahkan anaknya tanpa didasari rasa cinta. Bahkan, mereka juga tidak memerhatikan usia anaknya. Mereka khawatir anaknya sulit mendapatkan jodoh," kata psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta, Henny E Wirawan MHum Psi saat dihubungi Okezone, Selasa (9/7/2008).
Menurut Henny, para orangtua hanya melihat calon pasangan untuk anaknya itu berdasarkan bibit, bobot dan bebet, tanpa bertanya kepada anaknya terlebih dahulu apakah si anak setuju dengan perjodohan itu.
"Mereka kadang ada yang langsung menikahkan anaknya dengan calon pilihan meskipun si anak baru satu kali bertemu dengan calonnya. Mereka berpikir proses pengenalan si anak dan calon mantunya dapat dilakukan setelah mereka menikah," cerita Henny.
Menurutnya lagi, umumnya para orangtua menekankan pada anak laki-laki agar mencari jodoh yang harus benar-banar bisa mengurus rumah tangga. Selain tetap memerhatikan faktor bobot, bibit, dan bebet. Sementara pada anak perempuan, orangtua lebih menekankan aspek finansial dan latar belakang dari keluarga sang calon mantu, plus melihat bobot, bibit, dan bebetnya.
"Pada beberapa suku tertentu memang ada beberapa aspek penting yang menjadi tolak ukur dalam menentukan pasangan hidup, di antaranya sukuisme dan pendidikan. Karena itu si anak harus mematuhi peraturan dari keluarganya tersebut," tambahnya.
Tapi kalau melihat perkembangan zaman sekarang, Henny mengaku, masalah perjodohan sudah tak begitu dominan. Kini anak bebas menentukan pasangan hidupnya, yang tentu saja sesuai dengan hatinya.
"Kini seorang lelaki atau perempuan tidak dapat ditentukan berapa usia ideal untuk menikah. Semuanya kembali pada kematangan pribadi masing-masing. Hanyalah mitos saja yang mengatakan perempuan di atas usia 30 tahun sulit menikah. Yang sebenarnya terjadi di sini adalah stok untuk perempuan di atas 30 tahun dapat dikatakan sedikit atau terbatas, sehingga perempuan agak sulit mencari pasangan yang sesuai," jelas Henny.
Selain alasan di atas, Henny menambahkan, faktor reproduksi wanita juga sangat berpengaruh. Menurutnya, usia perempuan bereproduksi sangat bagus ketika usia 25-30 tahun. Karena setelah umur 30 tahun tingkat risiko bagi wanita untuk melahirkan anak akan semakin meningkat.
Nah, pada kasus pria berbeda pula. Konon ada anggapan pria lebih baik menikah pada usia di atas 30 tahun. Menurut Henny, pernyataan ini keluar dikarenakan pada usia lebih dari 30 tahun kebanyakan pria lebih matang, lebih mapan, dan juga lebih dewasa.
"Tetapi sekarang bukan zamannya lagi laki-laki dan perempuan dibeda-bedakan berdasarkan jenis kelamin. Mereka punya kesempatan yang sama, kapan dan dengan siapa mau menikah," pungkasnya.
Baca Juga:
BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 08:10
Anak Gemuk Sehatkah? -
Senin, 06/10/2008 16:10
Selingkuh, Tak Melulu Soal Seks -
Senin, 06/10/2008 09:10
Mengapa Anak Harus Berkacamata? -
Selasa, 30/09/2008 15:09
Mitos-Mitos dalam Pernikahan -
Senin, 29/09/2008 16:09
Mengajak Anak Menyanyi & Menari