Trend

Apartemen Masih Jadi Pilihan Masyarakat Berkantong Tebal

Selasa, 15 Juli 2008 - 09:48 wib


Foto: Corbis
SETIAP orang ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman dan aman. Tidak heran kalau setiap tahun permintaan tempat hunian khususnya apartemen terus meningkat.

Tapi, tetap saja, untuk membeli tempat hunian membutuhkan perencanaan. Bukan hanya jangka pendek, tapi juga jangka panjang. Bagi sebagian kalangan, membeli apartemen kerap diidentikkan dengan investasi properti. Tapi itu tidak berlaku bagi masyarakat yang tidak mau repot mengurus rumah, apartemen merupakan pilihan tepat.

Apalagi, semua fasilitas tersedia di dalam atau di sekitar apartemen. Hanya saja segala bentuk pelayanan dan fasilitas ?dikonversikan' menjadi tagihan biaya maintenance.

Pengamat properti Budhi S Gozali juga mengatakan, perkembangan pasar apartemen di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Jakarta dalam tiga tahun terakhir sangat baik. Karena kebutuhan masyarakat makin tinggi, banyak developer yang membangun apartemen seperti group Agung Podomoro, Lippo, Pakuwon, dan Bakrie.

Di Jabodetabek sendiri, pembangunan apartemen terus berlangsung mulai di CBD, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara. Sedangkan di luar Jabodetabek, pengembang juga mulai mengembangkan apartemen di Surabaya, Medan, dan Bali. "Kota besar lainnya tidak mau ketinggalan dan terus membangun," katanya. Apartemen merupakan solusi untuk hunian bagi kota-kota besar di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Tanah yang jumlahnya terbatas akan menyebabkan harga rumah terus melonjak. Karena alasan itulah, banyak masyarakat yang memutuskan membeli rumah di pinggir kota.

Pasar apartemen masa mendatang akan tetap dominan untuk kalangan menengah ke atas. Walaupun harga apartemen yang ditawarkan relatif mahal, namun biasanya apartemen untuk kalangan menengah ke atas terletak di lokasi strategis. Apakah itu berada di tengah kota ataupun di kawasan elite. Biasanya, kalangan menengah ke atas memiliki apartemen yang cukup luas dan layak. Untuk satu kamar biasanya memiliki luas sekitar 50 m2, dua kamar sekitar 80 m2 dan tiga kamar 120 m2. Luasnya unit apartemen yang dimiliki diperlukan agar ruang gerak penghuni bisa lebih lapang. "Di luar itu, tentu saja apartemen bersubsidi tetap merupakan alternatif untuk masyarakat bawah memiliki apartemen," jelasnya.

Budhi menerangkan, ada beberapa faktor yang membuat apartemen semakin diminati, diantaranya waktu tempuh dari tempat tinggal ke tempat aktivitas.

Apartemen yang baik adalah berada di lokasi yang mempunyai infrastruktur yang baik seperti jalan tol. Berada di lokasi yang strategis seperti di persimpangan dan mempunyai akses yang baik ke apartemen tersebut.

Sekarang, ada sejumlah apartemen yang tengah dikembangkan, yakni The St Moritz oleh Lippo Group, Kuningan City oleh Agung Podomoro, Kota Casablanca oleh Pakuwon Group, Ciputra World oleh Ciputra, dan The Wave oleh Bakrie. Apartemen yang sedang dibangun itu tersebar di beberapa wilayah Jakarta. Walaupun harganya relatif lebih mahal, namun pengembang masih melihat pasar yang bisa di garap.

Beberapa diantaranya adalah, pasangan muda dengan satu atau dua anak, orangtua yang sudah tidak lagi tinggal dengan anaknya. Selain itu eksekutif muda yang belum berkeluarga, dan pebisnis dari luar kota Jakarta seperti dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi juga menjadi pasar potensial penjualan apartemen.

Salah satu konsep apartemen yang digemari masyarakat adalah konsep yang terintegrasi. Artinya, selain apartemen, juga ada hotel, shopping center, office building, pusat hiburan, sekolah, dan juga rumah sakit. Semua fasilitas tersebut berada dalam satu lokasi. "Ini membuat penghuni apartemen tidak perlu menghabiskan waktu tempuh di jalan untuk kegiatan sehari-hari," tuturnya.

Dimasa mendatang, masyarakat tidak hanya membutuhkan fasilitas seperti di atas. Masyarakat juga membutuhkan kualitas dari fasilitas yang dikembangkan. Misalkan saja mempunyai akreditasi dari institusi yang berwenang atau akredasi internasional. Tidak banyak pengembang yang mampu membangun fasilitas tersebut dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengembang nasional untuk meningkatkan kualitasnya.

Direktur Indoproperti Hari Jap menerangkan, bila diklasifikasi apartemen dibagi dalam tiga kelompok, yakni Rp500 juta ke bawah, antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar dan di atas Rp1 miliar. Ketiga kelompok apartemen ini memiliki pasar masingmasing dan pengembang masih beranggapan membangun apartemen di tiga kelompok apartemen tersebut masih tetap menguntungkan.

Dia menerangkan, apartemen di bawah Rp500 juta masih mendominasi penjualan apartemen di Jakarta dan sekitarnya. Apartemen seharga itu dianggap relatif terjangkau bagi sebagian masyarakat yang ingin memiliki rumah di tengah kota namun memiliki dana terbatas. Apartemen yang seharga Rp500 juta hingga Rp1 miliar biasanya dihuni oleh masyarakat yang telah memiliki rumah cukup besar di Bogor, Tangerang, Depok atau Bekasi. Apartemen yang dibeli dipergunakan sebagai rumah ke dua. "Artinya apartemen hanya dipergunakan sebagai ?tempat singgah'. Pada akhir pekan, mereka kemudian kembali tinggal di rumah masing-masing," sebutnya.

Sementara, pembeli apartemen di atas Rp1 miliar biasanya tidak terlalu memikirkan manfaat membeli apartemen. Biasanya, penghuni lebih melihat ke arah gaya hidup. Bila apartemen yang dibangun akan meningkatkan gengsinya mereka akan segera membeli apartemen tersebut berapapun harganya. "Mereka tidak mempersoalkan harga. Terpenting adalah image bila membeli apartemen itu," tuturnya.

Karena sudah menjadi gaya hidup, maka pengembang selalu berusaha membangun apartemen yang sesuai dengan keinginan konsumen. Ada yang mengembangkan apartemen dengan menggabungkannya dengan pusat perbelanjaan dan sekolah. Hingga yang mempergunakan konsep hotel atau resort. Tapi secara umum fasilitas khusus yang disediakan pengembang kepada penghuni tidak jauh berbeda. Mulai dari kolam renang, lapangan futsal, hingga mini market. Fasilitas seperti itu dimaksudkan untuk memberikan tambahan nilai bagi penghuni yang tinggal di apartemen.

Banyaknya pilihan konsep apartemen yang dibangun pengembang tentu sangat menguntungkan masyarakat. Masyarakat bisa memilih apartemen mana yang sesuai dengan kebutuhan dan pemikiran rasional.

"Tidak usah heran kalau apartemen yang dijual pengembang selalu ada yang berminat. Baik untuk kebutuhan investasi ataupun tempat tinggal," ucapnya. Seiring dengan terus bertambahnya jumlah apartemen yang dibangun, jelasnya, sejak beberapa tahun terakhir nampak telah terjadi pergeseran penghuni apartemen. Bila sebelumnya apartemen banyak dihuni ekspatriat, sekarang ini penghuni apartemen banyak didominasi warga negara Indonesia (WNI).

Sementara itu, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Real Estate Indonesia (REI) Pingki Elka Pangestu mengatakan, secara umum pengembang harus hati-hati dalam mengembangkan poduk apartemen. Hal itu harus disesuaikan dengan sentimen ekonomi yang sedang dilanda banyak ketidakpastian. "Jelas masih ada cerukan pasar dengan prosepek lebih baik seperti rusunami," terangnya.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Dr. Deby Susanti Vinski

Konsultasi Dr. Deby Susanti Vinski

Trik Ampuh Mengatur Pola Makan

Saat ini saya memiliki bobot tubuh 57 kg dan tinggi badan 173 cm. Tubuh saya memang kelihatan tidak terlalu gemuk, namun bobot tubuh saya sering naik turun. Saya ingin tahu bagaimana mengatur pola makan dengan cara benar. Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»