Seksualitas
Seks Aman saat Hamil
Rabu, 16 Juli 2008 - 10:56 wib
Tuty Ocktaviany - Okezone
Foto: Corbis
TAKUT melakukan hubungan intim saat hamil? Jangan khawatir karena pasangan suami istri tetap boleh melakukan hubungan seksual selama keadaaan kehamilan normal.
Tim Mitra Inti dalam bukunya "Kesproholic" menjelaskan, seks selama kehamilan tidak menimbulkan infeksi atau takut melukai bayi dalam kandungan sewaktu berhubungan seks. Hubungan seks ataupun orgasme juga tidak berbahaya untuk bayi karena adanya lendir dari serviks (mulut rahim) ibu yang membantu melawan kuman atau infeksi yang akan masuk ke dalam rahim.
Selain alasan di atas, secara ilmiah Tuhan juga menciptakan suatu perlindungan yang aman pada bayi dalam kandungan, sehingga bayi terlindung. Di mana bayi dalam kandungan itu berada dalam kantung rahim dan cairan ketuban, serta otot rahim dan perut yang kuat bisa melindungi bayi selama proses kehamilan.
Tetapi, jika kehamilan Anda termasuk kehamilan dengan risiko tinggi, atau dokter mengantisipasi kemungkinan terjadinya komplikasi, atau Anda menemukan gejala yang tidak biasa setelah atau selama melakukan hubungan seksual seperti rasa nyeri, konstraksi atau keluar darah, sebaiknya hubungi dokter sebelum melakukan hubungan seksual lagi.
Berikut ini rambu-rambu yang perlu diketahui untuk melakukan seks yang aman ketika hamil:
1. Posisi menyamping adalah posisi yang nyaman untuk wanita hamil.
2. Sebelum melakukan penetrasi yang dalam, yang harus diutamakan adalah kenyamanan dan kebebasan ibu hamil.
3. Penggunaan benda asing di sekitar vagina atau alat bantu seks, sebisa mungkin dihindari.
4. Rasa pengertian, empati, kreativitas dan humor adalah aspek yang sebaiknya ada ketika melakukan hubungan seksual pada saat kehamilan.
5. Kapan pun ibu hamil berhak mengatakan "Tidak".
6. Jika kehamilannya memiliki risiko tinggi, penetrasi dan orgasme sebaiknya dihindari sampai dokter menyatakan aman. Rangsangan melalui puting juga harus dihindari pada kondisi kehamilan seperti ini.
7. Hindari penetrasi jika air ketuban bocor atau pecah.
8. Kontak seksual dalam bentuk apapun harus dihindari jika ibu hamil atau pasangannya telah terkontiminasi atau terkena virus HIV. Gunakan kondom jika memang tetap ingin melakukan aktivitas seksual.
9. Kebanyakan dokter akan menyarankan pasangan untuk tidak melakukan hubungan seksual pada kasus-kasus kehamilan tertentu, misalnya ancaman keguguran atau riwayat keguguran, riwayat kelahiran prematur, perdarahan vagina atau keluar cairan yang tak diketahui penyebabnya serta kram.
10. Jika masih ragu untuk melakukan hubungan seksual selama kehamilan ini, jangan malu untuk konsultasi kepada dokter.
(tty)
Tim Mitra Inti dalam bukunya "Kesproholic" menjelaskan, seks selama kehamilan tidak menimbulkan infeksi atau takut melukai bayi dalam kandungan sewaktu berhubungan seks. Hubungan seks ataupun orgasme juga tidak berbahaya untuk bayi karena adanya lendir dari serviks (mulut rahim) ibu yang membantu melawan kuman atau infeksi yang akan masuk ke dalam rahim.
Selain alasan di atas, secara ilmiah Tuhan juga menciptakan suatu perlindungan yang aman pada bayi dalam kandungan, sehingga bayi terlindung. Di mana bayi dalam kandungan itu berada dalam kantung rahim dan cairan ketuban, serta otot rahim dan perut yang kuat bisa melindungi bayi selama proses kehamilan.
Tetapi, jika kehamilan Anda termasuk kehamilan dengan risiko tinggi, atau dokter mengantisipasi kemungkinan terjadinya komplikasi, atau Anda menemukan gejala yang tidak biasa setelah atau selama melakukan hubungan seksual seperti rasa nyeri, konstraksi atau keluar darah, sebaiknya hubungi dokter sebelum melakukan hubungan seksual lagi.
Berikut ini rambu-rambu yang perlu diketahui untuk melakukan seks yang aman ketika hamil:
1. Posisi menyamping adalah posisi yang nyaman untuk wanita hamil.
2. Sebelum melakukan penetrasi yang dalam, yang harus diutamakan adalah kenyamanan dan kebebasan ibu hamil.
3. Penggunaan benda asing di sekitar vagina atau alat bantu seks, sebisa mungkin dihindari.
4. Rasa pengertian, empati, kreativitas dan humor adalah aspek yang sebaiknya ada ketika melakukan hubungan seksual pada saat kehamilan.
5. Kapan pun ibu hamil berhak mengatakan "Tidak".
6. Jika kehamilannya memiliki risiko tinggi, penetrasi dan orgasme sebaiknya dihindari sampai dokter menyatakan aman. Rangsangan melalui puting juga harus dihindari pada kondisi kehamilan seperti ini.
7. Hindari penetrasi jika air ketuban bocor atau pecah.
8. Kontak seksual dalam bentuk apapun harus dihindari jika ibu hamil atau pasangannya telah terkontiminasi atau terkena virus HIV. Gunakan kondom jika memang tetap ingin melakukan aktivitas seksual.
9. Kebanyakan dokter akan menyarankan pasangan untuk tidak melakukan hubungan seksual pada kasus-kasus kehamilan tertentu, misalnya ancaman keguguran atau riwayat keguguran, riwayat kelahiran prematur, perdarahan vagina atau keluar cairan yang tak diketahui penyebabnya serta kram.
10. Jika masih ragu untuk melakukan hubungan seksual selama kehamilan ini, jangan malu untuk konsultasi kepada dokter.
Baca Juga:
BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 18:10
Jelajahi Titik Rangsang si Dia, Yuk! -
Selasa, 07/10/2008 16:10
Bercinta Saat Hamil, Siapa Takut! -
Selasa, 07/10/2008 14:10
Rajin Bermasturbasi Timbulkan Kebutaan? -
Selasa, 07/10/2008 10:10
Kunci Sukses Bikin Wanita Terangsang -
Senin, 06/10/2008 19:10
Kiat Ampuh Rangkul si Dia Setelah Orgasme -
Senin, 06/10/2008 14:10
Sperma Gesit dengan Tomat? -
Senin, 06/10/2008 13:10
Hypersex pada Wanita, Wajarkah? -
Senin, 06/10/2008 11:10
Seni Mengawali Hubungan Seks