Food & Resto

Aneka Kue Tradisional

Rabu, 16 Juli 2008 - 14:37 wib

KUE tradisional tak pernah lekang dimakan zaman. Walaupun dewasa ini kue "modern" yang lebih legit dengan tampilan menggiurkan banyak bermunculan.

Kue tradisional tetap memiliki penggemar. Di Sulawesi Selatan, kudapan khas seperti kue nagasari, cucur bayao, dan pallubutung digemari dan kerap dijadikan teman bersantai.

Cukup sulit mencari aneka jenis kue tradisional khas Bugis tersebut. Namun, kalau berniat mencobanya, sejumlah toko di Makassar masih menjualnya.
Di beberapa sudut jalan di Makassar masih dapat dijumpai dua atau tiga pedagang yang sengaja menjual kue nagasari (roko'-roko' unti), roko'-roko' cangkuning, ataupun pallubutung.

Tiga kudapan tersebut merupakan jenis kue basah. Ada pula jenis kue kering yang banyak digemari, yakni bagea dan karasa. Semua kue tersebut adalah hasil olahan khas Sulawesi Selatan. Bisa jadi beberapa di antaranya menyerupai kue tradisional dari daerah lain, tapi memiliki cita rasa yang berbeda.

Biasanya jenis kue tradisional disajikan dalam hajatan pernikahan, akikah, dan acara lainnya. Kue-kue itu memang wajib dijadikan suguhan buat para tamu undangan. Selain itu, rasanya tidak afdol juga jika kue-kue tradisional "hilang" dari sajian sebuah pesta, apalagi pernikahan.

Membuat kue tradisional Makassar cukup simpel. Bahan-bahannya juga sederhana dan tidak membutuhkan pengeluaran yang besar untuk membelinya. Hampir semua jenis kue tradisional menggunakan bahan dasar tepung beras dan aneka hasil alam, terutama buah-buahan. Konon, menggunakan bahan-bahan itu untuk masakan ataupun kue bisa memberi berkah. Tak heran, sejak dulu masyarakat paling sering mengkreasikan tepung beras menjadi kue basah.

Roko'-roko' cangkuning juga memiliki bahan dasar yang sama. Campurannya, yakni kelapa parut dengan gula merah, akan memberikan rasa manis di lidah. Hmm... saat menyantapnya, isi kue ini bisa langsung lumer di mulut. Sangat enak!

Kue yang paling sering disantap adalah nagasari yang juga berbahan dasar tepung beras. Bahan lainnya berupa pisang raja yang sudah matang. Tepung beras disiram dengan santan kental yang sudah dimasak, campur hingga mengental. Selanjutnya, barulah satu potong pisang raja dibungkus dengan adonan tepung kental tadi, dibungkus daun pisang, dan kemudian dikukus. Rasanya sangat legit dan wangi daun pisang terasa menyatu dengan gurihnya santan.

Biasanya, yang menikmati kue ini adalah para pencinta aneka olahan buah pisang (unti). Makassar terkenal akan hasil buah pisangnya. Tidak mengherankan bila buah tersebut kerap dijadikan bahan pembuat kue, seperti pallubutung. Kue ini paling sering disantap pada saat bulan puasa. Kue ini tampaknya sudah identik sebagai menu berbuka puasa.

Kudapan lain yang patut dicoba adalah cucur bayao. Dari namanya saja, bayao yang berarti "telur", bisa diketahui kalau bahan dasar kue ini adalah telur.

Hanya, dengan menghirup aroma kue ini, sudah terbayang rasa telurnya. Apalagi saat menyantapnya, rasa telur sangat kental terasa. Kue yang identik berwarna kuning ini juga sangat manis. Konon, inilah satu-satunya kue khas Bugis yang memiliki rasa sangat manis.

Adapun kue kering khas Makassar yang paling digemari wisatawan adalah bagea dan karasa. Dua jenis kue tersebut sangat mudah ditemukan. Karasa yang bentuknya mirip sarang semut sangat cocok dijadikan camilan. Kue berbahan dasar tepung beras dan berasa manis ini sangat rapuh sehingga perlu kehatian-hatian saat memegangnya. Berbeda dengan karasa, bagea yang terbuat dari tepung sagu justru lebih "gemuk". Rasanya juga cukup manis dan memiliki rasa kacang atau wijen.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Wulan Tilaar

Konsultasi Wulan Tilaar

Merawat Wajah dengan Facial, Bolehkah?

Dear Mbak Wulan, saya cowok usia 27 tahun dengan kulit wajah normal dan tidak berjerawat. Apakah perlu bagi saya untuk facial ke salon?
Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»