Kesehatan

Bijak Kelola Diabetes

Rabu, 16 Juli 2008 - 10:06 wib


Foto: Corbis
TAK ada batasan waktu pasti pengobatan bagi penderita diabetes mellitus (DM) atau kencing manis menjadikan penderita jenuh dan bosan.

Spesialis diabetes, Sidartawan Soegondo, menyebutkan, DM merupakan salah satu penyakit kronik (menahun) yang kasusnya banyak terjadi di dunia, selain obesitas (kegemukan) dan penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). "Penyakit DM memang merupakan penyakit yang menahun," ucapnya pada acara yang diselenggarakan INDINA dengan tema "Dapatkah Diabetes Melitus Disembuhkan".

Keluhan klasik DM adalah sering berkemih, terutama dirasakan pada malam hari, sering merasa haus, sering merasa lapar, penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya. Keluhan lainnya adalah badan lemas, kesemutan, gatal, penglihatan kabur, gangguan ereksi pada pria, keputihan, gatal di daerah kewanitaan pada kaum wanita, infeksi atau luka yang lama sembuh.

Sidartawan mengatakan, keadaan yang buruk tersebut sebenarnya bisa dihindari bila melakukan pencegahan. Utamanya pada kelompok yang memiliki faktor risiko terjadinya diabetes (disebut pencegahan primer), pencegahan progresivitas dan timbulnya komplikasi penyakit setelah ditetapkan diagnosis diabetes (pencegahan sekunder), dan pencegahan kecacatan lebih lanjut pada penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit/komplikasi (pencegahan tersier).

"Untuk mempermudah diagnosis secara dini,DM telah dibedakan menjadi 2, yaitu DM tergantung Insulin (DMTI) dan DM tidak tergantung insulin (DMTTI)," sebut Sidartawan yang juga menjabat sebagai direktur Institut Diabetes Indonesia (INDINA).

Dia menjelaskan, di samping pola hidup sehat, DMTI membutuhkan terapi dengan insulin untuk menurunkan kadar gula darahnya. Adapun untuk DMTTI, obat yang diperlukan adalah untuk meningkatkan sekresi insulin.

Sidartawan mengatakan, DM merupakan penyakit yang bisa dikelola. Tujuannya adalah peningkatan kualitas hidup para penyandang DM. Tak hanya itu, untuk jangka pendek menghilangkan keluhan atau gejala, mempertahankan rasa nyaman, dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. Sementara tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah dan menghambat terjadinya komplikasi. "Semua ini akan menurunkan angka kesakitan dan risiko kematian akibat diabetes," ucap Sidartawan.

Dokter ahli penyakit dalam dari Rumah Sakit Pluit, Dr Med Benny Santosa SpPD menyebutkan, pengobatan DM bisa dilakukan melalui pola makan, meningkatkan aktivitas/ kegiatan jasmani, terapi dengan tablet atau terapi dengan insulin, serta memantau glukosa darah.

"Pada penderita DM sebenarnya semua makanan boleh dimakan, asalkan dibatasi dan tidak berlebih. Pola perencanaan makan akan membantu mengendalikan kadar glukosa darah, kolesterol, dan tekanan darah," ucap Benny.

Memberikan penyuluhan atau edukasi juga bisa dilakukan dalam mengelola DM. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai penyakitnya. Dengan begitu, diharapkan dapat menunjang perubahan perilaku. Perubahan perilaku ini diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan psikologis, dan kualitas hidup yang lebih baik.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Kesuma Chandra

sorry content not updated

Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»