Kesehatan

Terpajan Pestisida, Rentan Keguguran

Jum'at, 18 Juli 2008 - 11:33 wib


Foto: Corbis
WANITA hamil yang bekerja di lahan pertanian dan kerap terpajan pestisida secara langsung, ternyata berisiko lebih tinggi mengalami abortus spontan.

Kesimpulan itu ditarik dari hasil penelitian di sentra pertanian Kab Brebes, Jawa Tengah. Kesimpulan itu berdasarkan penelitian dr Astrid W Sulistomo MPH SpOk di sentra pertanian Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, selama kurun waktu April-November 2007. Berdasarkan riset, dia menarik kesimpulan, wanita yang terpajan pestisida berisiko 59 persen lebih tinggi mengalami abortus spontan dibandingkan wanita yang tidak terpajan.

Abortus spontan merupakan peristiwa hilangnya janin (keguguran) pada usia kandungan 20-22 minggu atau kurang. Dalam penelitian di 11 kecamatan di Kabupaten Brebes tersebut, Astrid melibatkan 612 responden yang dibagi dua kelompok. Kelompok pertama sebanyak 204 wanita yang pernah mengalami abortus spontan pada tiga bulan terakhir. Sementara kelompok kedua (kontrol) berjumlah 408 wanita yang sedang hamil 20 minggu atau kurang.

Dengan menggunakan metode scoring didapatkan, skor>10 (intensitas tinggi) meningkatkan risiko abortus spontan di antara petani sebesar 3,57 kali. "Pada wanita dengan riwayat abortus lebih dari sekali, risikonya meningkat menjadi 7,46 kali," sebut wanita yang meraih gelar master bidang kedokteran okupasi di University of Michigan Ann Arbor, Amerika Serikat.

Hasil studi yang dipresentasikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Selasa (8/7) lalu itu juga mendapati bahwa wanita yang bekerja di ladang bawang dengan frekuensi penyemprotan tertinggi (dua hari sekali) mengalami peningkatan risiko 79 persen dibandingkan ladang lain, seperti sayuran yang hanya disemprot sekali seminggu. Faktor lain yang diduga meningkatkan risiko abortus spontan adalah minum jamu selama hamil, pernah melahirkan prematur, dan pernah melahirkan lebih dari tiga kali. Kebiasaan suami merokok dan beban kerja wanita yang berat juga meningkatkan risiko tersebut.

"Masalah spesifik wanita adalah meskipun mereka bekerja untuk mendapat nafkah tambahan, umumnya mereka masih dibebani pekerjaan rumah tangga yang cukup berat. Saat hamil pun terkadang mereka masih pergi ke ladang," tutur Astrid.

Menanggapi hasil penelitian Astrid, guru besar Ilmu Kebidanan FKUI Prof Dr dr Gulardi Wiknjosastro SpOG(K) mengungkapkan, permasalahan yang dialami petani wanita di Brebes tersebut mewakili kondisi permasalahan yang kurang lebih sama pada petani wanita lainnya di seluruh Indonesia.

"Menurut data BPS tahun 2007, diperkirakan 13 juta perempuan bekerja di sector pertanian. Dengan risiko mengalami riwayat reproduksi yang sama buruknya, maka ini akan berdampak luas bagi status kesehatan ibu maupun masalah ekonomi secara nasional," sebutnya.

Terkait pajanan pestisida, penelitian di Finlandia melaporkan pula bahwa wanita yang mengalami abortus spontan, 30 persen lebih besar kemungkinannya bahwa mereka bekerja di sektor pertanian. Akan tetapi, suatu penelitian dari Kohort, perspektif lain yang dilakukan di San Diego terhadap 535 wanita pekerja sektor pertanian dari golongan sosial ekonomi rendah, tidak ditemukan adanya hubungan antara pajanan pestisida dan kejadian abortus, kelahiran prematur maupun toksaemia.

Menurut Astrid, hasil yang tidak konsisten tersebut sebagian karena belum ada metode baku untuk mengukur intensitas atau dosis pajanan yang diterima.
(sindo//tty)

Baca Juga:

Konsultasi Rudy Hadisuwarno

Konsultasi Rudy Hadisuwarno

Solusi untuk Rambut Megar & Kering

Mas Rudy, saya Febbe (26), seorang karyawati di perusahaan swasta. Rambut saya itu megar dan kering, makanya saya selalu menguncirnya karena kalau dilepaskan pasti kembang sehingga saya merasa terganggu.
Konsultasi Selengkapnya...

BERITA LAINNYA

index»