Kesehatan
Terapi Hormon Atasi Gangguan Menopause
Sabtu, 19 Juli 2008 - 11:55 wib
Foto: Corbis
GANGGUAN kesehatan yang kerap diderita wanita yang memasuki masa menopause bisa ditekan dengan terapi pengganti hormon.
Setiap tahunnya, diprediksi 5 juta wanita Indonesia memasuki masa menopause. Jika tak diatasi, tak hanya timbul gejala yang mengganggu, juga risiko penyakit jantung koroner dan osteoporosis.
Menopause adalah proses alami yang pasti akan dialami setiap wanita. Beragam gejala akibat perubahan biologis mengantar wanita menuju masa menopause. Hal ini terutama disebabkan terjadinya penurunan hormon seks secara signifikan, terutama estrogen sebagai hormon terpenting wanita.
Ibarat kendaraan, estrogen adalah "bahan bakar" bagi wanita. Tatkala masih usia produktif, hormone ini berada pada level optimal sehingga wanita dalam kondisi fit untuk melakukan beragam aktivitas tanpa gangguan. Nah, seiring pertambahan usia, kadar estrogen secara normal menurun.
Turunnya hormon estrogen dimulai pada masa klimakterium (usia 35-65). Diawali fase klimakterium dini (usia 35-45) yang ditandai gangguan haid yang semula teratur menjadi tidak teratur. Jumlah darah yang keluar bisa berkurang atau bertambah. Amenorhea atau berhentinya haid secara permanen menandakan berakhirnya kemampuan seorang wanita untuk punya anak.
Memasuki usia 45-55, kadar estrogen yang kian rendah mulai memicu keluhan seperti gejolak panas, keringat banyak, nyeri tulang belakang, keputihan. Beranjak pascamenopause (usia 52- 55), gejala paling menonjol adalah berdebar, pelupa, nyeri tulang belakang, rasa lemah, lesu, dan osteoporosis.
"Sistem otak wanita banyak mengandung reseptor estrogen. Pada wanita pascamenopause, semua fungsi mengalami penurunan sehingga terjadi keluhan demensia, semburan panas, perubahan mood atau depresi, dan penurunan hasrat seksual. Di Indonesia, keluhan tertinggi adalah lemah, lesu, vagina kering," papar spesialis kebidanan dan kandungan dari FKUI/RSCM dr Marly Susanti SpOG.
Ragam keluhan tersebut umumnya sangat membebani dan sulit diatasi sehingga berdampak negatif pada kualitas hidup dan kepercayaan diri wanita. Sayangnya, banyak wanita yang menganggap keluhan tersebut sebagai hal wajar.
Sebuah studi kuantitatif yang difasilitasi Bayer Asia Timur terhadap wanita di tujuh negara di Asia Pasifik (termasuk Indonesia) pada Februari-April 2008, melaporkan hampir sepertiga dari wanita menopause tidak menyadari mereka sedang mengalami gejala menopause. Bahkan, 50 persen wanita mengabaikan kondisi itu.
Padahal, selain mengganggu vitalitas harian, keluhan jangka panjang akibat kekurangan estrogen adalah keropos tulang (osteoporosis) yang memicu patah tulang pada pergelangan tangan, panggul, dan tulang belakang. Beberapa penelitian juga melaporkan, wanita pascamenopause berisiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung koroner (PJK) dibanding pramenopause.
"Defisiensi estrogen pada masa menopause dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup. Namun, hal tersebut bisa diatasi dan diobati," ungkap konsultan kebidanan dan kandungan dari UP College of Medicine Filipina, Dr Blanca de Guia.
Ya, kurangnya estrogen pada wanita bisa digantikan dengan asupan hormon estrogen dari luar atau dikenal dengan terapi sulih hormon (TSH). International Menopause Society (IMS) menyatakan, saat ini TSH merupakan pilihan terapi utama untuk menghilangkan gejala menopause.
"Sebuah penelitian dengan metode random sampling melaporkan terjadinya penurunan kejadian penyakit jantung sebesar 39 persen pada wanita yang mulai menggunakan TSH sebelum usia 60," ujar Direktur Pusat Eksperimen dan Penelitian Medis (IRCCS) San Raffaele di Roma, Dr Guiseppe Rosano.
Inovasi terbaru TSH juga mengombinasikan estradiol dan drospirenon. Selain efektif mengatasi gejala menopause, juga mampu meningkatkan kekuatan tulang, menurunkan risiko PJK dan penyakit pembuluh darah, khususnya jika memulai pengobatan sejak dini.
"Kombinasi ini juga mencegah peningkatan berat badan akibat penumpukan cairan tubuh yang kerap dialami pada penggunaan TSH konvensional," kata spesialis kebidanan dan kandungan FKUI/RSCM, Prof Dr Ali Baziad SpOG.
(sindo//tty)
Setiap tahunnya, diprediksi 5 juta wanita Indonesia memasuki masa menopause. Jika tak diatasi, tak hanya timbul gejala yang mengganggu, juga risiko penyakit jantung koroner dan osteoporosis.
Menopause adalah proses alami yang pasti akan dialami setiap wanita. Beragam gejala akibat perubahan biologis mengantar wanita menuju masa menopause. Hal ini terutama disebabkan terjadinya penurunan hormon seks secara signifikan, terutama estrogen sebagai hormon terpenting wanita.
Ibarat kendaraan, estrogen adalah "bahan bakar" bagi wanita. Tatkala masih usia produktif, hormone ini berada pada level optimal sehingga wanita dalam kondisi fit untuk melakukan beragam aktivitas tanpa gangguan. Nah, seiring pertambahan usia, kadar estrogen secara normal menurun.
Turunnya hormon estrogen dimulai pada masa klimakterium (usia 35-65). Diawali fase klimakterium dini (usia 35-45) yang ditandai gangguan haid yang semula teratur menjadi tidak teratur. Jumlah darah yang keluar bisa berkurang atau bertambah. Amenorhea atau berhentinya haid secara permanen menandakan berakhirnya kemampuan seorang wanita untuk punya anak.
Memasuki usia 45-55, kadar estrogen yang kian rendah mulai memicu keluhan seperti gejolak panas, keringat banyak, nyeri tulang belakang, keputihan. Beranjak pascamenopause (usia 52- 55), gejala paling menonjol adalah berdebar, pelupa, nyeri tulang belakang, rasa lemah, lesu, dan osteoporosis.
"Sistem otak wanita banyak mengandung reseptor estrogen. Pada wanita pascamenopause, semua fungsi mengalami penurunan sehingga terjadi keluhan demensia, semburan panas, perubahan mood atau depresi, dan penurunan hasrat seksual. Di Indonesia, keluhan tertinggi adalah lemah, lesu, vagina kering," papar spesialis kebidanan dan kandungan dari FKUI/RSCM dr Marly Susanti SpOG.
Ragam keluhan tersebut umumnya sangat membebani dan sulit diatasi sehingga berdampak negatif pada kualitas hidup dan kepercayaan diri wanita. Sayangnya, banyak wanita yang menganggap keluhan tersebut sebagai hal wajar.
Sebuah studi kuantitatif yang difasilitasi Bayer Asia Timur terhadap wanita di tujuh negara di Asia Pasifik (termasuk Indonesia) pada Februari-April 2008, melaporkan hampir sepertiga dari wanita menopause tidak menyadari mereka sedang mengalami gejala menopause. Bahkan, 50 persen wanita mengabaikan kondisi itu.
Padahal, selain mengganggu vitalitas harian, keluhan jangka panjang akibat kekurangan estrogen adalah keropos tulang (osteoporosis) yang memicu patah tulang pada pergelangan tangan, panggul, dan tulang belakang. Beberapa penelitian juga melaporkan, wanita pascamenopause berisiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung koroner (PJK) dibanding pramenopause.
"Defisiensi estrogen pada masa menopause dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup. Namun, hal tersebut bisa diatasi dan diobati," ungkap konsultan kebidanan dan kandungan dari UP College of Medicine Filipina, Dr Blanca de Guia.
Ya, kurangnya estrogen pada wanita bisa digantikan dengan asupan hormon estrogen dari luar atau dikenal dengan terapi sulih hormon (TSH). International Menopause Society (IMS) menyatakan, saat ini TSH merupakan pilihan terapi utama untuk menghilangkan gejala menopause.
"Sebuah penelitian dengan metode random sampling melaporkan terjadinya penurunan kejadian penyakit jantung sebesar 39 persen pada wanita yang mulai menggunakan TSH sebelum usia 60," ujar Direktur Pusat Eksperimen dan Penelitian Medis (IRCCS) San Raffaele di Roma, Dr Guiseppe Rosano.
Inovasi terbaru TSH juga mengombinasikan estradiol dan drospirenon. Selain efektif mengatasi gejala menopause, juga mampu meningkatkan kekuatan tulang, menurunkan risiko PJK dan penyakit pembuluh darah, khususnya jika memulai pengobatan sejak dini.
"Kombinasi ini juga mencegah peningkatan berat badan akibat penumpukan cairan tubuh yang kerap dialami pada penggunaan TSH konvensional," kata spesialis kebidanan dan kandungan FKUI/RSCM, Prof Dr Ali Baziad SpOG.
Baca Juga:
Konsultasi Dr. Deby Susanti Vinski
Cara Mengetahui Berat Badan Ideal
Halo Mbak Deby yang cantik, aku Euis (26), berat badan 43 kilogram, tinggi badan (TB) 155 sentimeter. Aku mau bertanya mengenai badan yang proporsional itu seperti apa ya Mbak? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 13:10
Gizi Penting Ibu Hamil -
Selasa, 07/10/2008 09:10
Kelebihan Berat Badan Sering Sakit Kepala -
Senin, 06/10/2008 11:10
Demi Jantung, Kontrol Konsumsi Garam -
Senin, 06/10/2008 08:10
Jalan Kaki Cegah Kepikunan -
Minggu, 05/10/2008 15:10
Tip Menjaga Kualitas Sperma -
Minggu, 05/10/2008 11:10
BMI, Jaga Berat Badan Seimbang -
Sabtu, 04/10/2008 10:10
Sehat saat Perjalanan Jauh -
Selasa, 30/09/2008 16:09
Tip Atasi Jerawat