Kesehatan
Kapan Memulai Terapi Sulih Hormon?
Sabtu, 19 Juli 2008 - 13:41 wib
Foto: Corbis
MESKIPUN sebagian besar wanita menyadari risiko peningkatan tekanan darah akibat penurunan estrogen, faktanya hanya 7 persen yang mengetahui bahwa terapi sulih hormon (TSH) dapat membantu menurunkan faktor risiko penyakit jantung dan stroke.
Prof Dr Ali Baziad SpOG mengungkapkan, tujuan terapi hormon adalah meningkatkan kualitas hidup wanita, bukannya mencegah tua ataupun supaya wanita bisa haid lagi. Salah satu efek TSH adalah terjadinya perdarahan yang kerap disalahartikan sebagai darah haid. "Jika minum hormon dan berdarah berarti pertanda rahim masih aktif. Tapi itu bukan darah haid sehingga masih boleh salat (beribadah). Perdarahan hanya berlangsung pada 3-6 bulan pertama terapi selama 5-14 hari, setelah itu normalnya tidak terjadi lagi," ungkapnya.
Ali yang menjabat kepala Divisi Imunoendokrinologi FKUI/RSCM tersebut menyarankan para wanita untuk tidak khawatir menjalani TSH. Pasalnya, TSH mengandung hormon alami, bukan sintetik. "Efek samping memang ada, tapi sangat ringan. Yang paling tidak disukai adalah perdarahan. Gejala lainnya adalah pusing dan mual sehingga dianjurkan diminum sehabis makan sebelum tidur," saran dia.
Adapun waktu terbaik memulai TSH adalah begitu memasuki masa menopause atau setahun setelah berhenti haid. Jika dilakukan setelah memasuki usia 60 atau pada kondisi di mana telah terjadi osteoporosis, maka TSH tidak terlalu efektif. Lama terapi bisa diputuskan sendiri oleh pasien dengan pertimbangan dari dokter. Misalnya dua bulan, tiga bulan, atau hingga lima tahun.
Namun, tidak semua wanita bereaksi sama terhadap hormon yang masuk ke dalam tubuh. Jika setelah enam bulan terapi masih terjadi perdarahan, bisa jadi itu pertanda ketidakcocokan sehingga perlu berkonsultasi ke dokter. Jika tidak ada keluhan sama sekali, evaluasi tetap dilakukan pada jangka waktu 1-5 tahun. Selama terapi, si wanita juga disarankan melakukan papsmear setiap enam bulan atau setahun sekali, dan mammografi setiap 1-2 tahun sekali.
Adapun wanita yang tidak diperkenankan menjalani TSH adalah jika ada riwayat stroke, komplikasi diabetes, penyakit jantung koroner, penyakit liver berat, serta kanker payudara.
Lebih lanjut Ali mengungkapkan, sebagai langkah preventif para wanita sejak masih muda disarankan mengonsumsi ragam makanan yang bermanfaat bagi produksi hormon. "Sejatinya makanan yang ada di Indonesia itu banyak yang ?mirip hormon'. Contohnya tempe, tahu, pepaya, kacang merah, kacang tunggak. Bengkuang juga sangat baik dikonsumsi beserta kulit halusnya," sebutnya.
(sindo//tty)
Prof Dr Ali Baziad SpOG mengungkapkan, tujuan terapi hormon adalah meningkatkan kualitas hidup wanita, bukannya mencegah tua ataupun supaya wanita bisa haid lagi. Salah satu efek TSH adalah terjadinya perdarahan yang kerap disalahartikan sebagai darah haid. "Jika minum hormon dan berdarah berarti pertanda rahim masih aktif. Tapi itu bukan darah haid sehingga masih boleh salat (beribadah). Perdarahan hanya berlangsung pada 3-6 bulan pertama terapi selama 5-14 hari, setelah itu normalnya tidak terjadi lagi," ungkapnya.
Ali yang menjabat kepala Divisi Imunoendokrinologi FKUI/RSCM tersebut menyarankan para wanita untuk tidak khawatir menjalani TSH. Pasalnya, TSH mengandung hormon alami, bukan sintetik. "Efek samping memang ada, tapi sangat ringan. Yang paling tidak disukai adalah perdarahan. Gejala lainnya adalah pusing dan mual sehingga dianjurkan diminum sehabis makan sebelum tidur," saran dia.
Adapun waktu terbaik memulai TSH adalah begitu memasuki masa menopause atau setahun setelah berhenti haid. Jika dilakukan setelah memasuki usia 60 atau pada kondisi di mana telah terjadi osteoporosis, maka TSH tidak terlalu efektif. Lama terapi bisa diputuskan sendiri oleh pasien dengan pertimbangan dari dokter. Misalnya dua bulan, tiga bulan, atau hingga lima tahun.
Namun, tidak semua wanita bereaksi sama terhadap hormon yang masuk ke dalam tubuh. Jika setelah enam bulan terapi masih terjadi perdarahan, bisa jadi itu pertanda ketidakcocokan sehingga perlu berkonsultasi ke dokter. Jika tidak ada keluhan sama sekali, evaluasi tetap dilakukan pada jangka waktu 1-5 tahun. Selama terapi, si wanita juga disarankan melakukan papsmear setiap enam bulan atau setahun sekali, dan mammografi setiap 1-2 tahun sekali.
Adapun wanita yang tidak diperkenankan menjalani TSH adalah jika ada riwayat stroke, komplikasi diabetes, penyakit jantung koroner, penyakit liver berat, serta kanker payudara.
Lebih lanjut Ali mengungkapkan, sebagai langkah preventif para wanita sejak masih muda disarankan mengonsumsi ragam makanan yang bermanfaat bagi produksi hormon. "Sejatinya makanan yang ada di Indonesia itu banyak yang ?mirip hormon'. Contohnya tempe, tahu, pepaya, kacang merah, kacang tunggak. Bengkuang juga sangat baik dikonsumsi beserta kulit halusnya," sebutnya.
Baca Juga:
Konsultasi dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd
Air Seni Bercampur dengan Sperma, Wajarkah?
Saya pria usia 36 tahun sudah menikah dan memiliki satu orang anak dan sedang mengusahakan untuk mendapat momongan lagi. Tapi saat saya mengeluarkan air seni dibarengi dengan keluarnya sperma, wajarkah? Konsultasi Selengkapnya...BERITA LAINNYA
-
Selasa, 07/10/2008 13:10
Gizi Penting Ibu Hamil -
Selasa, 07/10/2008 09:10
Kelebihan Berat Badan Sering Sakit Kepala -
Senin, 06/10/2008 11:10
Demi Jantung, Kontrol Konsumsi Garam -
Senin, 06/10/2008 08:10
Jalan Kaki Cegah Kepikunan -
Minggu, 05/10/2008 15:10
Tip Menjaga Kualitas Sperma -
Minggu, 05/10/2008 11:10
BMI, Jaga Berat Badan Seimbang -
Sabtu, 04/10/2008 10:10
Sehat saat Perjalanan Jauh -
Selasa, 30/09/2008 16:09
Tip Atasi Jerawat