KRISIS energi memaksa pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan mengenai penggunaan energi. Di antaranya, meminta masyarakat menghemat energi.
Sejumlah gedung perkantoran milik pemerintah ataupun badan usaha milik negara (BUMN) juga telah mencanangkan "Gerakan Hemat Energi". Langkah-langkah untuk melakukan penghematan pemakaian listrik, di antaranya dengan mengatur waktu operasi alat pendingin ruang kerja (air conditioner/ AC), mengurangi penggunaan lampu penerangan, dan mengatur pemakaian peralatan pendukung, seperti dispenser, kompor listrik, dan peralatan lainnya.
Menurut Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Teguh Kinarto, selaku asosiasi pengembang menengah atas, pihaknya telah mengimbau anggota REI agar mengembangkan kawasan hunian ataupun pusat komersial yang hemat energi. "Hemat dalam arti tidak mempergunakan energi berlebihan," katanya.
Biasanya, bangunan yang membutuhkan energi, khususnya lampu dan penyejuk cukup besar, adalah bangunan horizontal seperti perkantoran, apartemen, dan pusat perbelanjaan. Sementara tempat hunian tidak terlalu banyak membutuhkan lampu atau penyejuk ruangan.
Karena pada prinsipnya, tempat hunian yang dibangun anggota REI telah banyak yang menerapkan konsep hemat energi. Desain memanfaatkan sinar matahari untuk menyinari ruangan rumah pada siang hari telah banyak diadopsi pengembang. Desain bangunan seperti itu biasanya juga dapat menyerap udara jauh lebih sempurna. Sirkulasi udara yang baik tentu menyebabkan penghuni lebih sehat.
Kesadaran menghemat energi itu semakin terlihat dengan banyaknya penawaran rumah yang menjanjikan daerah yang asri dan dipenuhi pepohonan sebagai "bahan" jualan. Ini menandakan kesadaran masyarakat yang ingin tinggal di tempat yang asri dan hemat energi sudah direspons pengembang.
Di sejumlah negara, khususnya Eropa, sudah banyak yang mengembangkan perumahan hemat energi. Semua energi listrik yang ada di bangunan tersebut akan mati ketika penghuni meninggalkan ruangan. Saat masuk ke dalam ruangan, energi listrik tersebut akan kembali menyala. Bukan mustahil pada masa mendatang, pengembang di Indonesia juga akan membangun kawasan hunian seperti itu. "Di sejumlah hotel juga telah dikembangkan. Ketika kunci pintu dicabut, semua energi akan mati dengan sendirinya," katanya.
Menurut Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar, mungkin sudah waktunya bagi sejumlah stakeholder untuk mengembangkan desain bangunan hemat energi. Khususnya yang terkait pengaturan tata ruang. "Sehingga tidak perlu AC yang berlebihan," katanya.
Desain bangunan yang memiliki pencahayaan alami, pastinya akan lebih hemat energi. Siang hari penghuni tidak perlu menyalakan lampu sehingga tidak banyak energi yang diperlukan Sementara Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Timur Nurhadi mengatakan, untuk rumah sederhana tampaknya sulit dilakukan penghematan. Kebutuhan listrik di rumah sederhana memang sudah tidak mungkin dikurangi karena energi yang disediakan sudah sangat minim.
Rumah untuk kelas menengah masih memungkinkan untuk dibangun dengan desain hemat energi. Salah satu caranya dengan memperbanyak ruang yang memiliki sirkulasi udara dan cahaya.
"Selama ini cukup banyak pengembang yang mengadopsi desain tertentu dan menyebabkan ventilasi jendela semakin berkurang," katanya.
Apersi, khususnya DPD Jawa Timur, kata dia, tengah mengedukasi konsumen untuk mau membeli rumah dengan konsep hemat energi. Hal itu agar pengembang yang tergabung dengan Apersi semakin bersemangat membangun rumah berdesain hemat energi.
(sindo//tty)
Sejumlah gedung perkantoran milik pemerintah ataupun badan usaha milik negara (BUMN) juga telah mencanangkan "Gerakan Hemat Energi". Langkah-langkah untuk melakukan penghematan pemakaian listrik, di antaranya dengan mengatur waktu operasi alat pendingin ruang kerja (air conditioner/ AC), mengurangi penggunaan lampu penerangan, dan mengatur pemakaian peralatan pendukung, seperti dispenser, kompor listrik, dan peralatan lainnya.
Menurut Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Teguh Kinarto, selaku asosiasi pengembang menengah atas, pihaknya telah mengimbau anggota REI agar mengembangkan kawasan hunian ataupun pusat komersial yang hemat energi. "Hemat dalam arti tidak mempergunakan energi berlebihan," katanya.
Biasanya, bangunan yang membutuhkan energi, khususnya lampu dan penyejuk cukup besar, adalah bangunan horizontal seperti perkantoran, apartemen, dan pusat perbelanjaan. Sementara tempat hunian tidak terlalu banyak membutuhkan lampu atau penyejuk ruangan.
Karena pada prinsipnya, tempat hunian yang dibangun anggota REI telah banyak yang menerapkan konsep hemat energi. Desain memanfaatkan sinar matahari untuk menyinari ruangan rumah pada siang hari telah banyak diadopsi pengembang. Desain bangunan seperti itu biasanya juga dapat menyerap udara jauh lebih sempurna. Sirkulasi udara yang baik tentu menyebabkan penghuni lebih sehat.
Kesadaran menghemat energi itu semakin terlihat dengan banyaknya penawaran rumah yang menjanjikan daerah yang asri dan dipenuhi pepohonan sebagai "bahan" jualan. Ini menandakan kesadaran masyarakat yang ingin tinggal di tempat yang asri dan hemat energi sudah direspons pengembang.
Di sejumlah negara, khususnya Eropa, sudah banyak yang mengembangkan perumahan hemat energi. Semua energi listrik yang ada di bangunan tersebut akan mati ketika penghuni meninggalkan ruangan. Saat masuk ke dalam ruangan, energi listrik tersebut akan kembali menyala. Bukan mustahil pada masa mendatang, pengembang di Indonesia juga akan membangun kawasan hunian seperti itu. "Di sejumlah hotel juga telah dikembangkan. Ketika kunci pintu dicabut, semua energi akan mati dengan sendirinya," katanya.
Menurut Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar, mungkin sudah waktunya bagi sejumlah stakeholder untuk mengembangkan desain bangunan hemat energi. Khususnya yang terkait pengaturan tata ruang. "Sehingga tidak perlu AC yang berlebihan," katanya.
Desain bangunan yang memiliki pencahayaan alami, pastinya akan lebih hemat energi. Siang hari penghuni tidak perlu menyalakan lampu sehingga tidak banyak energi yang diperlukan Sementara Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Timur Nurhadi mengatakan, untuk rumah sederhana tampaknya sulit dilakukan penghematan. Kebutuhan listrik di rumah sederhana memang sudah tidak mungkin dikurangi karena energi yang disediakan sudah sangat minim.
Rumah untuk kelas menengah masih memungkinkan untuk dibangun dengan desain hemat energi. Salah satu caranya dengan memperbanyak ruang yang memiliki sirkulasi udara dan cahaya.
"Selama ini cukup banyak pengembang yang mengadopsi desain tertentu dan menyebabkan ventilasi jendela semakin berkurang," katanya.
Apersi, khususnya DPD Jawa Timur, kata dia, tengah mengedukasi konsumen untuk mau membeli rumah dengan konsep hemat energi. Hal itu agar pengembang yang tergabung dengan Apersi semakin bersemangat membangun rumah berdesain hemat energi.
