Resensi Buku


Untukmu, Bron

Senin, 4 Agustus 2008 - 11:01 wib
text TEXT SIZE :  
Arpan Rachman - Okezone

CERITA keseharian dapat dipaparkan unik lewat tulisan. Saya baru saja membaca, ceila, dengan sombongnya....

50 memoar ringkas milik sastrawan eksil asal Belitung yang terbuang ke Paris. Ia membagi saya tentang banyak hal enteng sekitar rutinitas. Yang sepele, perkara dalam hidup ini, ternyata mudah menyentuh hati.

Bercerita pengarangnya, semasa dia masih remaja mengenal sahabat abangnya yang menumpang tinggal di rumah kontrakan mereka di Jakarta. Ia jadi tukang buka pintu bagi sahabat itu, yang sering pulang larut malam.

Sepeninggalnya, pengarang memberitahu, bahwa dirinya orang pertama yang memperingati kematian sang sahabat, orang yang dia bukakan pintu tiap malam. Tak dinyana, setelah itu, orang-orang lain, kelompok grup seniman, dan elemen negara turut merayakan.

Sahabatnya itu bernama Chairil Anwar.

***

LAIN cerita, di kantongnya ada paspor eksil, yang berlaku di seluruh dunia, kecuali di Indonesia. Padahal ke tempat yang disebut itulah ia paling ingin pulang, bukan ke Portugal atau Israel.

Lalu, pada 1996 mampir ke Tanjungpandan, Belitung, tanah kelahirannya, tak seorang sanak-kerabat membuka pintu. Mereka takut diganjar ancaman, mulai dipecat dari pekerjaan sampai kemungkinan bisa-bisa masuk penjara.

Lelaki itu pun terpaksa menginap di hotel, lalu pulang.

Di saat kepulangannya ke Jakarta menuju Paris, berduyun-duyun sanak-kerabat mengantar dari balik pagar bandar udara. Mereka melambai-lambai sambil menampakkan wajah sumringah.

Adat orang Melayu Pedalaman di Belitung mudah ditebak: sanak-kerabat sudah merelakan lelaki itu tak akan pernah kembali lagi di tengah-tengah mereka. Rasa ikhlas, yang begitu sederhana....

Setelah dia pulang, berdering telepon di apartemennya, di Paris, dari salah seorang pengantar yang dilihatnya dulu di balik pagar bandara. Ternyata, terasa lebih dekat hubungan Paris-Tanjungpandan ketimbang mereka langsung bertemu di Belitung.

***

INI dia, pengarang kedua dari Pulau Timah yang mengejutkan saya setelah Andrea Hirata.

Apalagi saat disebut halaman 42 dalam bukunya, bahwa dia tinggal di Pangkal Lalang. Di situ kejutannya, kawan.

20 tahun kemarin, saya sempat main bola di dekat rumahnya, di Pangkal Lalang. Sungguh, waktu itu kami (saya dan kawan-kawan) tidak tahu di dekat situ ada rumah seorang penulis besar yang hidup terlunta-lunta jauh dari Tanah Air.

Walah, walah....

Tapi kesedihan harus diusir jauh-jauh, air mata jangan disimpan, bila menguatkan diri untuk membaca 50 memoar. Lantaran terasa tarik-ulur detak napasnya ialah perasaan mengalah atas cobaan berat yang menyayat-nyayat eksistensi. Hidup bahagia berdamai dengan sebuah trauma yang bahkan sempat memacetkan karyanya selama puluhan tahun!

Orang itu, pengarang itu, telah wafat di Singapura beberapa tahun silam. Ia mewariskan ke rak buku saya sebuah martabat yang paling tinggi selama ini yang pernah saya sadari.

Bagian pengetahuan yang kemudian dibaginya, terganti dengan kerelaannya terusir dari rumah kampung oleh tentara bersenjata, hanya gara-gara menganut paham politik yang dipersalahkan. Sejak pecah peristiwa "Tiga Puluh Sekilo" dulu.

Semua terasa jadi pengecut yang takut telanjang. Termasuk saya, saya juga, saya ini, Bron, lantaran tak berani mempahlawankanmu atau mengecam orang-orang bersenjata itu. Saya hanya bisa menulis. Entah apa ada gunanya. Untukmu, Bron....


Judul:

Gajah di Pelupuk Mata (Memoar)

Pengarang:

Sobron Aidit

Penerbit:
Grasindo, 2002

ISBN:

979-695-567-9.*
(jri)