KEBERADAAN pasar modern di kawasan perumahan sudah menjadi tuntutan masyarakat. Para pengembang perumahan kini berlomba-lomba membangun fasilitas penyedia kebutuhan sehari-hari itu.
Kalangan pengembang berusaha agar pasar modern yang dibangun berlokasi di pusat perumahan. Biasanya, pasar modern yang dibangun berupa mal, supermarket, department store, shopping centre, toko serbaada, dan sebagainya.
Menurut pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghada, keberadaan pasar modern di kawasan perumahan akan meningkatkan perekonomian di kawasan tersebut. "Sejak awal membangun perumahan, pengembang sudah menyadari itu. Tinggal apakah dibangun sebelum atau setelah kawasan perumahan dibangun," katanya.
Pilihan yang diambil biasanya akan kembali pada kondisi keuangan masing-masing pengembang. Jika pengembang memiliki dana memadahi biasanya akan lebih dulu mengembangkan pasar modern. Hal itu bisa dilihat saat grup Lippo mengembangkan Super Mall Lippo Karawaci sebelum mengembangkan kawasan perumahannya.
Dasar pemikiran bagi pengembang yang lebih dulu mengembangkan fasilitas, termasuk pasar modern adalah menciptakan citra yang baik atas kawasan perumahan yang akan dibangun.
Setelah kawasan perumahan mulai ramai dikunjungi masyarakat, barulah pengembang mengembangkan kawasan perumahan tersebut. Sementara pengembang yang memilih membangun perumahan lebih dulu, biasanya skala pengembangan pasar modern dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Dalam skala kecil, mungkin pengembang lebih dulu mengembangkan mini swalayan. Apabila sudah berskala besar, bukan tidak mungkin pengembang langsung membangun mal.
Keberadaan pasar modern tidak akan mengganggu penghuni perumahan. Karena biasanya, pengembang telah memiliki tata ruang yang membedakan antara areal privat dengan komersial. Biasanya, areal pasar modern terletak di areal komersial, yakni di jalan utama kawasan hunian. Di areal ini, biasanya pengembang juga menempatkan sejumlah fasilitas seperti sekolah dan rumah sakit.
Sementara, rumah-rumah di kawasan perumahan biasanya terletak di areal privat. Tidak semua kalangan bisa masuk ke dalam areal ini. Dengan begitu, penghuni tidak akan terganggu dengan masuknya masyarakat dari luar kawasan hunian yang akan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, seperti pasar modern, sekolah ataupun rumah sakit.
Meski begitu, Ali mengakui tidak semua pengembang bisa membangun pasar modern berskala besar. Sebab, tidak semua kawasan perumahan memiliki lahan yang luas. Bahkan, ada beberapa pengembang yang membangun perumahan di lahan kurang dari 10 hektare. "Biasanya, pengembang mengandalkan pasar modern yang terletak tidak jauh dari perumahan," katanya.
Pengamat properti dari Jones Lang Lasalle Lucy Rumantir menerangkan, biasanya sebelum mengembangkan perumahan, biasanya pengembang melakukan analisis mulai dari kondisi pasar hingga berbagai fasilitas yang harus dikembangkan.
Beberapa hal yang bisa menjadi bahan analisis di antaranya kelas masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut serta ada atau tidaknya pasar modern yang sudah ada di sekitar perumahan. Setelah semua aspek terpenuhi, barulah pengembang melakukan beberapa hal untuk membangun pasar modern. "Sebagian besar pengembang lebih suka membangun sendiri pasar modern yang ada di kawasan hunian daripada mengundang perusahaan ritel," katanya.
Pengembang beralasan, mengelola pasar modern akan jauh menguntungkan daripada mengundang pihak lain. Agar pasar modern yang dibangun tidak hanya bisa dimanfaatkan penghuni perumahan, maka pengembang membangun pasar modern di kawasan komersial. Selain itu, berbagai kebutuhan hidup yang dijual juga disesuaikan dengan kondisi sosial penghuni dan masyarakat sekitar. Dengan begitu, pasar modern tersebut bisa dimanfaatkan dalam pengertian yang luas.
Untuk pasar modern dalam skala menengah, biasanya pengembang berharap masyarakat dalam radius lima kilometer dari pasar modern bisa menjadi pelanggan tetap untuk datang ke pasar modern. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pengembang yang membangun pasar modern dalam skala besar.
Melihat itu, menjadi semakin jelas kalau keberadaan pasar modern pada kawasan hunian bukan hanya semata-mata kebutuhan penghuni dan masyarakat sekitar kawasan hunian. Pengembang pun memiliki kepentingan, baik untuk kebutuhan pemasaran ataupun lebih menghidupkan suasana kawasan hunian.
Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Properti Indonesia (Arebi) DKI Jakarta Hary Jap menerangkan, keberadaan pasar modern di kawasan hunian sangat diperlukan untuk meningkatkan penjualan unit hunian yang dibangun pengembang. Bila perlu, dia menyebutkan, pengembang akan berupaya membangun pasar modern yang berbeda dengan pasar modern lainnya.
Sejumlah pengembang, khususnya yang membangun apartemen, bahkan merelakan lantai dasarnya untuk kawasan komersial yang mewah. Strategi pemasaran seperti itu ternyata mendapatkan respons positif dari masyarakat. Indikasinya terlihat dari animo masyarakat yang ingin membeli unit apartemen yang terletak di atas pasar modern tersebut. "Unit hunian yang awalnya biasa saja, langsung berubah menjadi luar biasa bila didukung dengan keberadaan pasar modern yang luar biasa. Itu terjadi di kawasan hunian landed house ataupun apartemen," paparnya.
Hal itu tidak terlepas dari sikap masyarakat yang menginginkan kehidupan praktis. Dalam kasus ini, tinggal di kawasan hunian yang dekat dengan berbagai kebutuhan sehari-hari akan jauh lebih praktis dibandingkan yang tidak. Gaya hidup seperti itulah yang kemudian ditangkap sebagai peluang pengembang untuk menjual unit hunian yang dibangun.
(sindo//tty)
Kalangan pengembang berusaha agar pasar modern yang dibangun berlokasi di pusat perumahan. Biasanya, pasar modern yang dibangun berupa mal, supermarket, department store, shopping centre, toko serbaada, dan sebagainya.
Menurut pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghada, keberadaan pasar modern di kawasan perumahan akan meningkatkan perekonomian di kawasan tersebut. "Sejak awal membangun perumahan, pengembang sudah menyadari itu. Tinggal apakah dibangun sebelum atau setelah kawasan perumahan dibangun," katanya.
Pilihan yang diambil biasanya akan kembali pada kondisi keuangan masing-masing pengembang. Jika pengembang memiliki dana memadahi biasanya akan lebih dulu mengembangkan pasar modern. Hal itu bisa dilihat saat grup Lippo mengembangkan Super Mall Lippo Karawaci sebelum mengembangkan kawasan perumahannya.
Dasar pemikiran bagi pengembang yang lebih dulu mengembangkan fasilitas, termasuk pasar modern adalah menciptakan citra yang baik atas kawasan perumahan yang akan dibangun.
Setelah kawasan perumahan mulai ramai dikunjungi masyarakat, barulah pengembang mengembangkan kawasan perumahan tersebut. Sementara pengembang yang memilih membangun perumahan lebih dulu, biasanya skala pengembangan pasar modern dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Dalam skala kecil, mungkin pengembang lebih dulu mengembangkan mini swalayan. Apabila sudah berskala besar, bukan tidak mungkin pengembang langsung membangun mal.
Keberadaan pasar modern tidak akan mengganggu penghuni perumahan. Karena biasanya, pengembang telah memiliki tata ruang yang membedakan antara areal privat dengan komersial. Biasanya, areal pasar modern terletak di areal komersial, yakni di jalan utama kawasan hunian. Di areal ini, biasanya pengembang juga menempatkan sejumlah fasilitas seperti sekolah dan rumah sakit.
Sementara, rumah-rumah di kawasan perumahan biasanya terletak di areal privat. Tidak semua kalangan bisa masuk ke dalam areal ini. Dengan begitu, penghuni tidak akan terganggu dengan masuknya masyarakat dari luar kawasan hunian yang akan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, seperti pasar modern, sekolah ataupun rumah sakit.
Meski begitu, Ali mengakui tidak semua pengembang bisa membangun pasar modern berskala besar. Sebab, tidak semua kawasan perumahan memiliki lahan yang luas. Bahkan, ada beberapa pengembang yang membangun perumahan di lahan kurang dari 10 hektare. "Biasanya, pengembang mengandalkan pasar modern yang terletak tidak jauh dari perumahan," katanya.
Pengamat properti dari Jones Lang Lasalle Lucy Rumantir menerangkan, biasanya sebelum mengembangkan perumahan, biasanya pengembang melakukan analisis mulai dari kondisi pasar hingga berbagai fasilitas yang harus dikembangkan.
Beberapa hal yang bisa menjadi bahan analisis di antaranya kelas masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut serta ada atau tidaknya pasar modern yang sudah ada di sekitar perumahan. Setelah semua aspek terpenuhi, barulah pengembang melakukan beberapa hal untuk membangun pasar modern. "Sebagian besar pengembang lebih suka membangun sendiri pasar modern yang ada di kawasan hunian daripada mengundang perusahaan ritel," katanya.
Pengembang beralasan, mengelola pasar modern akan jauh menguntungkan daripada mengundang pihak lain. Agar pasar modern yang dibangun tidak hanya bisa dimanfaatkan penghuni perumahan, maka pengembang membangun pasar modern di kawasan komersial. Selain itu, berbagai kebutuhan hidup yang dijual juga disesuaikan dengan kondisi sosial penghuni dan masyarakat sekitar. Dengan begitu, pasar modern tersebut bisa dimanfaatkan dalam pengertian yang luas.
Untuk pasar modern dalam skala menengah, biasanya pengembang berharap masyarakat dalam radius lima kilometer dari pasar modern bisa menjadi pelanggan tetap untuk datang ke pasar modern. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pengembang yang membangun pasar modern dalam skala besar.
Melihat itu, menjadi semakin jelas kalau keberadaan pasar modern pada kawasan hunian bukan hanya semata-mata kebutuhan penghuni dan masyarakat sekitar kawasan hunian. Pengembang pun memiliki kepentingan, baik untuk kebutuhan pemasaran ataupun lebih menghidupkan suasana kawasan hunian.
Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Properti Indonesia (Arebi) DKI Jakarta Hary Jap menerangkan, keberadaan pasar modern di kawasan hunian sangat diperlukan untuk meningkatkan penjualan unit hunian yang dibangun pengembang. Bila perlu, dia menyebutkan, pengembang akan berupaya membangun pasar modern yang berbeda dengan pasar modern lainnya.
Sejumlah pengembang, khususnya yang membangun apartemen, bahkan merelakan lantai dasarnya untuk kawasan komersial yang mewah. Strategi pemasaran seperti itu ternyata mendapatkan respons positif dari masyarakat. Indikasinya terlihat dari animo masyarakat yang ingin membeli unit apartemen yang terletak di atas pasar modern tersebut. "Unit hunian yang awalnya biasa saja, langsung berubah menjadi luar biasa bila didukung dengan keberadaan pasar modern yang luar biasa. Itu terjadi di kawasan hunian landed house ataupun apartemen," paparnya.
Hal itu tidak terlepas dari sikap masyarakat yang menginginkan kehidupan praktis. Dalam kasus ini, tinggal di kawasan hunian yang dekat dengan berbagai kebutuhan sehari-hari akan jauh lebih praktis dibandingkan yang tidak. Gaya hidup seperti itulah yang kemudian ditangkap sebagai peluang pengembang untuk menjual unit hunian yang dibangun.
