INGIN punya anak lagi? Boleh saja. Kebanyakan orang berpikir menambah anak mempertimbangkan waktu yang tepat.
"Ya, benar, jangan terburu-buru memutuskan untuk menambah momongan hanya supaya mengurusnya sekalian. Atau agar anak-anak bisa bermain bersama karena jaraknya tidak jauh. Secara medis rahim sebenarnya sudah siap untuk hamil lagi tiga bulan setelah ibu melahirkan. Namun, setiap ibu yang ingin berencana memiliki anak lagi, harus mengatur jarak kelahiran," tutur dr Indah Fauziah SpOG dari Rumah Sakit Thamrin.
Seperti dikutip dari catatan statistik penelitian Conde Agudelo, bahwa jarak kelahiran yang aman antara anak satu dengan yang lainnya adalah 27-32 bulan. Pada jarak ini si ibu akan memiliki kemungkinan yang besar untuk memiliki bayi yang sehat serta selamat saat melewati proses kehamilan.
Selain itu, lanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah secara fisik dan mental telah siap untuk punya anak kedua, dan cukup secara materi untuk memiliki anak lagi. Satu lagi, ASI eksklusif pada anak pertama sudah terpenuhi selama 6 bulan. Jadi tiap anak mendapatkan nutrisi dan perhatian yang cukup.
ASI Berhenti karena Hamil
Sayangnya, sebagian ibu tidak memperhatikan kapan waktu tepat untuk menambah momongan, sehingga saat masih menyusui sudah hamil kembali. Padahal sebenarnya, dengan menyusui juga sebagai salah satu cara memberikan jarak antar kehamilan. Sebab, bila si ibu betul-betul menjalankan ASI eksklusifnya sesuai petunjuk dokter, otomatis kesuburan dan siklus haidnya akan terganggu (Lactation Amenorrhea Methode - LAM).
Penelitian yang dilakukan di Georgetown University Institute for Reproductive Health (IRH) dan Department of Nutrition University of Connecticut pada 360 ibu menyusui pada tahun 2003 membuktikan bahwa tingkat keberhasilan LAM sebagai kontrasepsi sebesar 100 persen.
"Namun jangan kaget bila pada masa laktasi tersebut, Anda tiba-tiba hamil. Itu berarti ASI eksklusif Anda tidak benar. Bila ini terjadi segera hentikan ASI ekslusif, lakukan secara bertahap. Kenaikan hormon estrogen pada kehamilan juga akan menghentikan produksi ASI," tambah dr Indah Fauziah.
Cek Prakehamilan
Menurut dr Indah Fauziah, jika keputusan sudah bulat, ibu siap untuk hamil kembali. Maka langkah yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kehamilan. Tujuannya tentu saja untuk mengetahui ada tidaknya hal-hal yang bisa menjadi faktor pengganggu kehamilan kedua. Tak hanya untuk si ibu, tapi juga untuk calon bayi.
"Tes yang dijalankan biasanya adalah tes ginekologi secara lengkap. Jika si ibu menderita sakit keras, atau memiliki riwayat kehamilan berisiko, dokter menyarankan untuk menunda kehamilan," jelasnya.
Lepas Alat Kontrasepi
Indah Fuziah menyarankan, normalkan kembali siklus haid, jika ingin hamil. Karena itu, hentikan penggunaan alat kontrasepsi beberapa bulan sebelum memutuskan untuk kembali hamil. Apalagi bagi yang meminum pil kontrasepi.
"Untuk metoda kontrasepsi suntik, tunggulah tiga bulan sebelum Anda memutuskan untuk hamil. Tapi bagi yang memakai alat kontrasepsi spiral, bisa langsung memprogram hamil, begitu alat kontrasepsi dilepas," pungkasnya.
(Mom& Kiddie//tty)
"Ya, benar, jangan terburu-buru memutuskan untuk menambah momongan hanya supaya mengurusnya sekalian. Atau agar anak-anak bisa bermain bersama karena jaraknya tidak jauh. Secara medis rahim sebenarnya sudah siap untuk hamil lagi tiga bulan setelah ibu melahirkan. Namun, setiap ibu yang ingin berencana memiliki anak lagi, harus mengatur jarak kelahiran," tutur dr Indah Fauziah SpOG dari Rumah Sakit Thamrin.
Seperti dikutip dari catatan statistik penelitian Conde Agudelo, bahwa jarak kelahiran yang aman antara anak satu dengan yang lainnya adalah 27-32 bulan. Pada jarak ini si ibu akan memiliki kemungkinan yang besar untuk memiliki bayi yang sehat serta selamat saat melewati proses kehamilan.
Selain itu, lanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah secara fisik dan mental telah siap untuk punya anak kedua, dan cukup secara materi untuk memiliki anak lagi. Satu lagi, ASI eksklusif pada anak pertama sudah terpenuhi selama 6 bulan. Jadi tiap anak mendapatkan nutrisi dan perhatian yang cukup.
ASI Berhenti karena Hamil
Sayangnya, sebagian ibu tidak memperhatikan kapan waktu tepat untuk menambah momongan, sehingga saat masih menyusui sudah hamil kembali. Padahal sebenarnya, dengan menyusui juga sebagai salah satu cara memberikan jarak antar kehamilan. Sebab, bila si ibu betul-betul menjalankan ASI eksklusifnya sesuai petunjuk dokter, otomatis kesuburan dan siklus haidnya akan terganggu (Lactation Amenorrhea Methode - LAM).
Penelitian yang dilakukan di Georgetown University Institute for Reproductive Health (IRH) dan Department of Nutrition University of Connecticut pada 360 ibu menyusui pada tahun 2003 membuktikan bahwa tingkat keberhasilan LAM sebagai kontrasepsi sebesar 100 persen.
"Namun jangan kaget bila pada masa laktasi tersebut, Anda tiba-tiba hamil. Itu berarti ASI eksklusif Anda tidak benar. Bila ini terjadi segera hentikan ASI ekslusif, lakukan secara bertahap. Kenaikan hormon estrogen pada kehamilan juga akan menghentikan produksi ASI," tambah dr Indah Fauziah.
Cek Prakehamilan
Menurut dr Indah Fauziah, jika keputusan sudah bulat, ibu siap untuk hamil kembali. Maka langkah yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kehamilan. Tujuannya tentu saja untuk mengetahui ada tidaknya hal-hal yang bisa menjadi faktor pengganggu kehamilan kedua. Tak hanya untuk si ibu, tapi juga untuk calon bayi.
"Tes yang dijalankan biasanya adalah tes ginekologi secara lengkap. Jika si ibu menderita sakit keras, atau memiliki riwayat kehamilan berisiko, dokter menyarankan untuk menunda kehamilan," jelasnya.
Lepas Alat Kontrasepi
Indah Fuziah menyarankan, normalkan kembali siklus haid, jika ingin hamil. Karena itu, hentikan penggunaan alat kontrasepsi beberapa bulan sebelum memutuskan untuk kembali hamil. Apalagi bagi yang meminum pil kontrasepi.
"Untuk metoda kontrasepsi suntik, tunggulah tiga bulan sebelum Anda memutuskan untuk hamil. Tapi bagi yang memakai alat kontrasepsi spiral, bisa langsung memprogram hamil, begitu alat kontrasepsi dilepas," pungkasnya.
