Trend


Peluang Emas Industri Mode

Minggu, 17 Agustus 2008 - 12:10 wib
text TEXT SIZE :  
Karya lulusan Esmod Jakarta (Foto: Sindo)

DUNIA mode berkembang cepat dan selalu berubah. Semua jenis busana ada segementasinya dan dibutuhkan desainer kompeten untuk menumbuhkan industri tersebut.

Sejumlah artis Hollywood seperti Justin Timberlake, Jenifer Lopez, dan Beyonce Knowles, turut meramaikan ranah fashion dunia, dengan menciptakan brand sendiri. Terbukti, didukung nama besar mereka, bisnis yang dijalankan pun merangkak naik.

Perkembangan yang sama terjadi di Tanah Air. Jika dulu dunia mode Indonesia hanya dipenuhi rancangan desainer senior, kini para desainer muda berbakat telah berani unjuk gigi. Bisa dikatakan, fashion di Indonesia menjadi lahan yang menjanjikan bagi mereka yang serius di bidang ini.

Peluang emas di dunia fashion berbanding lurus dengan jumlah peningkatan mahasiswa di beberapa sekolah mode yang terletak di Ibu Kota. Contohnya di Esmod Jakarta dan LaSalle College International (LSI). Marketing and Event Manager Esmod Maria Tinche mengatakan, sejak dua tahun terakhir, terdapat angka peningkatan jumlah peminat sekolah mode ini yang signifikan.

Pada periode 2007-2008 persentase jumlah kenaikan tersebut mencapai 23,6 persen. Di periode ini yakni 2008-2009, terlihat angka kenaikan yang cukup tinggi sebesar 9,7 persen menjadi 33,3 persen.

Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi di LSI. Kendati tidak menyebutkan angka, Ambar selaku Marketing and Promotion LSI menyebutkan, lonjakan kenaikan peminat di LSI meningkat dalam tiga tahun terakhir, khususnya program studi Fashion Business.

Tidak heran jika kedua sekolah mode ini menjadi incaran calon mahasiswa yang tertarik berkarier di dunia mode. Nama Esmod Jakarta kian menjadi jaminan mutu bagi mereka yang ingin menjadi desainer profesional.

Terlebih lagi sekolah yang berlokasi di Jalan Asem 2 Cipete, Jakarta Selatan ini, merupakan cabang dari sekolah mode Esmod Paris yang sudah berpengalaman dalam pendidikan fashion lebih dari 100 tahun.

Esmod memiliki dua program studi utama. Yakni Fashion Design dan Pattern Drafting, yang dapat ditempuh dengan masa studi satu atau tiga tahun.

Cara merancang berbagai busana, membuat sketsa dan memberikan sentuhan akhir berupa ornament-ornamen menarik, adalah bagian dari pelajaran yang diberikan dalam program Fashion Design.

Sementara di kelas Pattern Drafting, berbagai hal yang berhubungan dengan cara membuat pola, mengukurnya sesuai bentuk tubuh, dan menjadikannya sebuah pola pakaian yang stylish, dikupas secara mendalam.

Bagi mahasiswa yang mengambil masa studi selama satu tahun, akan mendapatkan sertifikat internasional. Sedangkan mahasiswa yang mengikuti program diploma, lulus dengan mengantongi sertifikat diploma internasional.

Sekolah yang mematok biaya Rp49 juta untuk masa studi satu tahun dan Rp47 juta per tahun untuk program D3 ini, memiliki tiga kategori spesialisasi yang dapat dipilih mahasiswa. Ada Men's Wear, Women's, dan Chlidren's Wear.

Namun, dunia mode bukan hanya berkutat pada membuat pola ataupun merancang pakaian semata. Apalagi persaingan di bidang ini semakin ketat. Jika tidak mengetahui manajemen yang tepat untuk memasarkan rancangan, koleksi rancangan hanya berakhir di lemari saja, tanpa ada daya jual.

"Makanya kami juga membekali para siswa dengan pelajaran tambahan, harapannya agar mereka kuat di desain sekaligus andal dalam melempar karya ke pasaran," pungkas Maria.

Pelajaran tambahan yang dimaksud, lanjut Maria, berupa Fashion Marketing, Desain Komputer, Teknologi Tekstil, Sejarah Mode, dan Sejarah Kostum. Masing-masing pelajaran suplemen ini, diberikan setiap satu minggu sekali.

Kurikulum yang diaplikasikan di Esmod Jakarta, mengadopsi dari kurikulum Esmod Paris yang telah disesuaikan dengan industri mode Tanah Air. Tidak sembarangan, kurikulum ini terus di-up date setahun sekali untuk menjawab perkembangan fashion dunia.

Bukan hanya kurikulum yang diperbarui, pengetahuan para staf pengajar pun selalu dimodifikasi agar dapat mengikuti tren terbaru mode.

"Setiap tahun Esmod Jakarta mengirim dua orang guru untuk trainingdi Esmod Paris selama dua minggu. Setelah pelatihan, mereka (guru) harus meneruskan ilmu yang didapat kepada pengajar lain," kata Maria.

Kesempatan mengecam pendidikan di kota mode ini, juga bisa dirasakan siswa berprestasi Esmod Jakarta lewat program pertukaran pelajar.

Peluang menuntut ilmu sekaligus bekerja di luar negeri juga bisa lewat program magang. Maria mengatakan ada beberapa siswa Esmod yang magang di rumah mode bergengsi seperti John Galiano atau Channel. Adapun stasiun televisi swasta, rumah mode, rumah produksi ataupun ritel, biasanya menjadi tujuan mereka yang memilih magang di negeri sendiri.

Berbeda dengan program studi pada umumnya, untuk ujian setiap mahasiswa Esmod diwajibkan menampilkan sekitar lima jenis outfit dengan tema "Ready to Wear" dan desain hasil kreativitas mereka sendiri. Pada saat ujian, peragaan busana tersebut akan dinilai oleh para tokoh di bidang tekstil, garmen, serta media.

Desainer Stephanus Hamy dan Sebastian Gunawan melihat fashion era kini semakin beragam, mulai busana anak-anak, pakaian seharihari, busana malam hingga busana muslim. "Semua ada segmentasinya dan dibutuhkan desainer yang kompeten untuk menyemarakkan panggung fashion kita," ujar Sebastian.

Menurut Stephanus, idealnya lulusan sekolah mode bukan hanya mengembangkan pakaian berdasarkan kreativitas dan imajinasi mereka saja. Namun, kemampuan itu juga harus didukung dengan keahlian menangkap kemauan pasar lewat rancangan ready to wear, yang laku dilempar ke pasaran.

"Busana itu paling pas untuk keseharian, jadi jangan hanya mendesain baju pesta saja, tapi usahakan aktif berkarya merancang busana sehari-hari karena busana itu lebih menjual," ungkapnya.
(sindo//tty)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4