SEKOLAH kecantikan tidak sekadar mengurusi tubuh dan penampilan semata. Ternyata, di balik itu diajarkan pula semangat kemandirian kepada siswa.
Menciptakan kemandirian ini menjadi dasar didirikannya Puspita Martha International Beauty School (PMIBS). Bernard T Wijaya, General Manager PMIBS mengungkapkan, saat mendirikan PMIBS 38 tahun lalu, Martha Tilaar, pakar kecantikan Indonesia yang namanya sudah dikenal secara internasional, menegaskan pertimbangan utamanya adalah pemberdayaan perempuan yang ujungnya adalah sebuah sikap kemandirian.
"Harus diakui, posisi wanita itu kan masih lemah di masyarakat. Karena itu, perlu sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas perempuan, juga pemberdayaannya. Pada akhirnya, itu akan membawa kemandirian. Itu semangat didirikannya sekolah ini," tukas Bernard.
Kemandirian di PMIBS tidak diajarkan secara langsung. Tetapi, kemandirian itu, tukas lelaki berkaca mata ini, secara tidak langsung ditopang oleh kebutuhan yang tinggi akan tenaga ahli di industri yang berkaitan erat dengan kecantikan.
Atas dasar itu, PMIBS menegaskan bahwa kelebihan mereka terletak pada apa yang disebut 4 M, yaitu multi certification, multi discipline of science, multi industries relationship, dan multi profession.
"Dengan 4 M itu, semua lulusan sekolah ini punya segala persyaratan untuk mandiri. Minimal jadi seorang freelancer, seorang little entrepreneur. Selain menjadi little entrepreneur, mereka juga bisa bekerja dengan orang lain. Itu terserah masing-masing. Tetapi, kita selalu mendorong mereka untuk mandiri. Biar beban negara mengatasi pengangguran jadi lebih ringan," tegasnya.
Dorongan untuk menjadi mandiri, tutur Bernard, tecermin dari moto PMIBS yaitu, learn, share, and grow. Dengan learn, para murid diharapkan untuk terus belajar, dengan share diharapkan para murid akan berbagi dan bekerja sama dengan para alumni atau dengan pihak lain sementara grow akan membuat murid terpacu mengembangkan usaha yang dimilikinya. "Share dan grow itu yang membuat mereka dikondisikan untuk jadi mandiri," papar Bernard.
Penawaran akan kemandirian ini, diduga Bernard sebagai salah satu pemicu utama bergesernya murid-murid PMIBS. Sebelumnya, murid-murid banyak berasal dari kalangan ibu-ibu yang sekadar mengisi waktu.
Kini, murid-murid PMIBS sebagian besar adalah wanita muda yang telah memiliki gelar akademis tertentu. "Mungkin mereka melihat bisnis kecantikan potensial dan dengan sekolah di sini, mereka diberi bekal untuk bisa mandiri dan mapan jika berkecimpung di bisnis ini," kata Bernard.
PMIBS yang berpusat di Jln KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat,ini punya lima fakultas. Fakultas itu adalah School of Beauty Aesthetic, School of Spa, School of Make Up,School of Hairdressing dan School of Aerobicand Fitness Instructor. Tiap fakultas lalu dibagi lagi menjadi beberapa jurusan.
Para pengajar di PMIBS tidak hanya berasal dari PMIBS saja, tetapi juga para praktisi dan ahli di bidang lain yang punya kaitan dengan kecantikan. Ilmu para praktisi dibutuhkan, karena kecantikan tidak berdiri sendiri. Karena itu, sistem belajar di PMIBS itu 30 persen teori dan 70 persen praktik.
Dengan cara seperti ini, para murid akan lebih cepat menguasai ilmu yang diberikan. "Mereka banyak terkait dengan bidang lain. Contoh, untuk make up pemotretan, mereka juga perlu belajar lighting, karena lighting berdampak dengan hasil make up. Makanya, kita perlu praktisi yang paham soal lighting untuk mengajar," terang Bernard.
Kelas yang ditawarkan, ada profesional, advance. Kelas profesional, rata-rata 8 bulan dan diperuntukkan untuk mereka yang mau jadi ahli, sementara advance, rata-rata 3 bulan adalah kelas bagi mereka yang ingin meng-up-grade ilmu setelah jadi profesional. Ada juga kelas personal development untuk mereka yang lebih fokus menerapkan ilmu standar soal kecantikan untuk diri sendiri.
Kemandirian juga secara tidak langsung diajarkan di Akademi Kecantikan Rudy Hadisuwarno. Pasalnya, lulusan akademi ini, terang penata rambut senior Indonesia ini, sudah punya syarat untuk membuat usaha sendiri. "Mereka tidak saja diajarkan soal kecantikan, tetapi juga soal manajemen dan marketing. Ini membantu para murid jika ingin mandiri," kata Rudy.
Sebelum membuat akademi di tahun 2000, Rudy lebih dulu membuat sekolah kecantikan (1974) dan training center (1998). Dari ketiga divisi itu, training center, lanjut Rudy, yang paling diminati, terlebih ketika krisis moneter. Pasalnya, dengan mengikuti training center saja selama 4 bulan, seseorang sudah bisa bekerja di tempat-tempat kecantikan.
Tetapi, lanjut Rudy, kondisi itu bergeser setelah kondisi perekonomian membaik. Banyak wanita muda yang kini lebih memilih masuk ke sekolah kecantikan dan akademi. Sebab, lulusan sekolah kecantikan dan akademi tidak hanya bisa bekerja sebagai ahli di salon, pusat kecantikan atau industri yang berkaitan erat dengan kecantikan, tetapi juga membuka usaha sendiri.
Akademi Kecantikan Rudy Hadisuwarno berpusat di Sudirman Park, Jakarta Pusat. Ada empat fakultas, yaitu Rambut, Perawatan Kecantikan, Spa, dan Make-Up. Mereka pun diajar oleh para praktisi dengan komposisi 25 persen teori dan 75 persen praktik.
(sindo//tty)
Menciptakan kemandirian ini menjadi dasar didirikannya Puspita Martha International Beauty School (PMIBS). Bernard T Wijaya, General Manager PMIBS mengungkapkan, saat mendirikan PMIBS 38 tahun lalu, Martha Tilaar, pakar kecantikan Indonesia yang namanya sudah dikenal secara internasional, menegaskan pertimbangan utamanya adalah pemberdayaan perempuan yang ujungnya adalah sebuah sikap kemandirian.
"Harus diakui, posisi wanita itu kan masih lemah di masyarakat. Karena itu, perlu sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas perempuan, juga pemberdayaannya. Pada akhirnya, itu akan membawa kemandirian. Itu semangat didirikannya sekolah ini," tukas Bernard.
Kemandirian di PMIBS tidak diajarkan secara langsung. Tetapi, kemandirian itu, tukas lelaki berkaca mata ini, secara tidak langsung ditopang oleh kebutuhan yang tinggi akan tenaga ahli di industri yang berkaitan erat dengan kecantikan.
Atas dasar itu, PMIBS menegaskan bahwa kelebihan mereka terletak pada apa yang disebut 4 M, yaitu multi certification, multi discipline of science, multi industries relationship, dan multi profession.
"Dengan 4 M itu, semua lulusan sekolah ini punya segala persyaratan untuk mandiri. Minimal jadi seorang freelancer, seorang little entrepreneur. Selain menjadi little entrepreneur, mereka juga bisa bekerja dengan orang lain. Itu terserah masing-masing. Tetapi, kita selalu mendorong mereka untuk mandiri. Biar beban negara mengatasi pengangguran jadi lebih ringan," tegasnya.
Dorongan untuk menjadi mandiri, tutur Bernard, tecermin dari moto PMIBS yaitu, learn, share, and grow. Dengan learn, para murid diharapkan untuk terus belajar, dengan share diharapkan para murid akan berbagi dan bekerja sama dengan para alumni atau dengan pihak lain sementara grow akan membuat murid terpacu mengembangkan usaha yang dimilikinya. "Share dan grow itu yang membuat mereka dikondisikan untuk jadi mandiri," papar Bernard.
Penawaran akan kemandirian ini, diduga Bernard sebagai salah satu pemicu utama bergesernya murid-murid PMIBS. Sebelumnya, murid-murid banyak berasal dari kalangan ibu-ibu yang sekadar mengisi waktu.
Kini, murid-murid PMIBS sebagian besar adalah wanita muda yang telah memiliki gelar akademis tertentu. "Mungkin mereka melihat bisnis kecantikan potensial dan dengan sekolah di sini, mereka diberi bekal untuk bisa mandiri dan mapan jika berkecimpung di bisnis ini," kata Bernard.
PMIBS yang berpusat di Jln KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat,ini punya lima fakultas. Fakultas itu adalah School of Beauty Aesthetic, School of Spa, School of Make Up,School of Hairdressing dan School of Aerobicand Fitness Instructor. Tiap fakultas lalu dibagi lagi menjadi beberapa jurusan.
Para pengajar di PMIBS tidak hanya berasal dari PMIBS saja, tetapi juga para praktisi dan ahli di bidang lain yang punya kaitan dengan kecantikan. Ilmu para praktisi dibutuhkan, karena kecantikan tidak berdiri sendiri. Karena itu, sistem belajar di PMIBS itu 30 persen teori dan 70 persen praktik.
Dengan cara seperti ini, para murid akan lebih cepat menguasai ilmu yang diberikan. "Mereka banyak terkait dengan bidang lain. Contoh, untuk make up pemotretan, mereka juga perlu belajar lighting, karena lighting berdampak dengan hasil make up. Makanya, kita perlu praktisi yang paham soal lighting untuk mengajar," terang Bernard.
Kelas yang ditawarkan, ada profesional, advance. Kelas profesional, rata-rata 8 bulan dan diperuntukkan untuk mereka yang mau jadi ahli, sementara advance, rata-rata 3 bulan adalah kelas bagi mereka yang ingin meng-up-grade ilmu setelah jadi profesional. Ada juga kelas personal development untuk mereka yang lebih fokus menerapkan ilmu standar soal kecantikan untuk diri sendiri.
Kemandirian juga secara tidak langsung diajarkan di Akademi Kecantikan Rudy Hadisuwarno. Pasalnya, lulusan akademi ini, terang penata rambut senior Indonesia ini, sudah punya syarat untuk membuat usaha sendiri. "Mereka tidak saja diajarkan soal kecantikan, tetapi juga soal manajemen dan marketing. Ini membantu para murid jika ingin mandiri," kata Rudy.
Sebelum membuat akademi di tahun 2000, Rudy lebih dulu membuat sekolah kecantikan (1974) dan training center (1998). Dari ketiga divisi itu, training center, lanjut Rudy, yang paling diminati, terlebih ketika krisis moneter. Pasalnya, dengan mengikuti training center saja selama 4 bulan, seseorang sudah bisa bekerja di tempat-tempat kecantikan.
Tetapi, lanjut Rudy, kondisi itu bergeser setelah kondisi perekonomian membaik. Banyak wanita muda yang kini lebih memilih masuk ke sekolah kecantikan dan akademi. Sebab, lulusan sekolah kecantikan dan akademi tidak hanya bisa bekerja sebagai ahli di salon, pusat kecantikan atau industri yang berkaitan erat dengan kecantikan, tetapi juga membuka usaha sendiri.
Akademi Kecantikan Rudy Hadisuwarno berpusat di Sudirman Park, Jakarta Pusat. Ada empat fakultas, yaitu Rambut, Perawatan Kecantikan, Spa, dan Make-Up. Mereka pun diajar oleh para praktisi dengan komposisi 25 persen teori dan 75 persen praktik.
