Fashion


Eccentriclassy Eddy Betty

Selasa, 26 Agustus 2008 - 18:48 wib
text TEXT SIZE :  
Tuty Ocktaviany - Okezone
Foto: Tuty Ocktaviany/Okezone

ECCENTRICLASSY menjadi tema koleksi terbaru dari rancangan Eddy Betty. Model rancangannya serbagaya yang didramatisasi dengan berbagai elemen unik, kadang tidak terduga, dan berkesan eksentrik.

Tema koleksi tersebut, kata Eddy, bercerita tentang evolusi kehidupan manusia dalam mencapai keberhasilan, yang biasanya dilalui lewat berbagai perjuangan. Untuk menggambarkan konsep koleksi busana, Eddy pun mengambil simbolisasi metamorfosa kupu-kupu.

Koleksi tersebut untuk pertama kalinya dipamerkan di hadapan para pecinta mode Tanah Air di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (24/8/2008). Pergelaran busana itu memang bukanlah ajang pamer busana yang digelar secara biasa-biasa saja, tetapi Eddy benar-benar mempersiapkannya secara matang sebagai bukti konsistensinya berkarya selama 12 tahun sebagai perancang busana. Kali ini Eddy pun mengajak Gill Tardieu, koreografer asal Prancis, untuk mempresentasikan rancangan adibusana di atas panggung yang ditata artistik.

"Senang rasanya bisa kembali menggelar peragaan busana, karena terakhir kali saya menggelar peragaan busana tunggal tahun 2004," kata Eddy membuka obrolan sebelum digelar peragaan busana.

Untuk pergelaran busana tunggal kali ini, Eddy terlihat all-out menampilkan 81 set busana wanita. Busana-busana tersebut dikelompokkan dalam empat babak dengan tata pertunjukan yang membawa setiap babak dalam atmosfer musim yang silih berganti, mulai semi, panas, gugur, dan dingin.

Gaun gelembung di atas bahan bertekstur membuka peragaan. Disusul rancangan koktail yang menampilkan aneka motif penuh warna, seperti geometris, corat coret kuas, percikan tintan, dan bunga lukis. Babak berikutnya tampil koleksi kebaya yang berevolusi dengan tawaran baru berupa daya tarik pada bagian belakang, seperti unsur lipit-lipit, gelembung, bustier, peplum yang mekar sampai hiasan sulaman dan aplikasi kepala dan bulu burung merak.

Malam itu para pecinta mode benar-benar bisa menikmati sebuah eksplorasi kecanggihan teknik pola, potong, moulage, siluet, dan detail, seperti pita, bulu-bulu unggas, payet, renda, dan aplikasi, yang dikerjakan Eddy dengan keajaiban ketrampilan tangan untuk menciptakan rangkaian mahakarya adibusana.

"Lewat peragaan ini saya memang ingin mempertunjukkan sesuatu yang bernapas adibusana, yang tak lain menjadi jiwa rancangan saya selama ini. Teknik baru dalam mode yang tidak bisa dijawab hanya dengan sketsa, saya wujudkan lewat kecanggihan pekerjaan tangan. Semoga karya saya ini tetap mendapat tempat di hati pecinta mode Indonesia," pungkas pria kelahiran Jambi, 6 Juli 1970 ini.
(tty)