MENDENGAR Pulau Bali, salah satu yang akan terlintas dalam benak kita adalah keindahan pura. Pulau para dewata ini hingga kini masih terus menjaga keindahan dan kesuciannya.
Namun, tahukah Anda, dari ribuan pura itu terdapat sebuah pura yang memiliki keunikan dibandingkan pura lainnya, yaitu Pura Goa Lawah. Ya, sesuai dengan namanya, di kompleks pura ini memang terdapat sebuah gua yang juga menjadi tempat tinggal jutaan lawah atau kelelawar.
Pura Sad Khayangan Goa Lawah ini berada di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, atau kurang lebih 49 km dari Kota Denpasar. Pura ini terletak di sebelah kiri jalan menuju Padang Bai, atau beberapa kilometer sebelum memasuki wilayah Karang Asem.
Pura ini sangat istimewa karena terletak di bukit yang menghadap lautan sehingga memenuhi konsep Segara Gunung yang suci. Tentang siapa pendiri Pura Goa Lawah ini hingga kini masih misteri. Namun, dari catatan lontar, gua ini didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-X dan kemudian disempurnakan oleh Danghyang Dwijendra.
Suara cicit riuh suara kelelawar bagai tak henti, pagi, siang, malam. Sekejap puluhan, ratusan, bahkan ribuan silih berganti terbang untuk bergantungan dan bergelayut di sela dinding karang gua dengan menebarkan bau anyir kotorannya.
Secara umum, pura ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala. Di bagian Utama Mandala atau inti pura inilah terdapat berbagai bangunan yang sangat indah. Antara lain meru tumpang tiga, meru tumpang pitu, meru tumpang solas, bale piasan, bale reringgitan, dan sejumlah bangunan lainnya.
Di mulut gua, juga terdapat sejumlah pelinggih seperti Padmasana, Limascari, Tepesana, Gedong Manik, Gedong Sari, dan sejumlah Pelinggih lainnya yang digunakan sebagai tempat pemujaan.
Walau jumlah lawah di gua ini sangat banyak, pengunjung ataupun masyarakat sekitar tidak boleh mengusiknya karena akan mendapatkan kesialan. Setiap hari, baik umat Hindu yang akan beribadah maupun wisatawan baik domestik maupun mancanegara mengunjungi tempat ini.
Namun, ribuan kelelawar ini seolah tak pernah merasa terusik. Ribuan kelelawar ini hanya akan meninggalkan gua pada malam hari untuk mencari makan dan kembali lagi ke dalam gua untuk bersemayam sekaligus menjaga kesucian gua ini.
Misteri lain yang perlu diketahui, gua ini tembus ke Pura Besakih yang ada di Karangasem. Hal ini diketahui saat ada masyarakat yang kehilangan ayam. Saat dicari tak ditemukan, ternyata munculnya di Besakih.
Menurut panitia pejaga gua ini, Putu Juliadi, ada beberapa hal larangan yang harus dipatuhi pengunjung. "Bagi perempuan yang datang bulan, tak diperbolehkan masuk di kawasan suci ini. Kalau sampai dilanggar, maka akan terjadi sesuatu hal usai pulang dari tempat ini," kata pria yang akrab disapa Lembo ini. Untuk memasuki Pura ini kita wajib membayar tiket masuk sebesar Rp5.000, mendapat pinjaman kain dan ikat pinggang kain warna kuning, disediakan air suci juga bagi yang ingin berdoa atau sembahyang di tempat ini.
(sindo//tty)
Namun, tahukah Anda, dari ribuan pura itu terdapat sebuah pura yang memiliki keunikan dibandingkan pura lainnya, yaitu Pura Goa Lawah. Ya, sesuai dengan namanya, di kompleks pura ini memang terdapat sebuah gua yang juga menjadi tempat tinggal jutaan lawah atau kelelawar.
Pura Sad Khayangan Goa Lawah ini berada di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, atau kurang lebih 49 km dari Kota Denpasar. Pura ini terletak di sebelah kiri jalan menuju Padang Bai, atau beberapa kilometer sebelum memasuki wilayah Karang Asem.
Pura ini sangat istimewa karena terletak di bukit yang menghadap lautan sehingga memenuhi konsep Segara Gunung yang suci. Tentang siapa pendiri Pura Goa Lawah ini hingga kini masih misteri. Namun, dari catatan lontar, gua ini didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-X dan kemudian disempurnakan oleh Danghyang Dwijendra.
Suara cicit riuh suara kelelawar bagai tak henti, pagi, siang, malam. Sekejap puluhan, ratusan, bahkan ribuan silih berganti terbang untuk bergantungan dan bergelayut di sela dinding karang gua dengan menebarkan bau anyir kotorannya.
Secara umum, pura ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala. Di bagian Utama Mandala atau inti pura inilah terdapat berbagai bangunan yang sangat indah. Antara lain meru tumpang tiga, meru tumpang pitu, meru tumpang solas, bale piasan, bale reringgitan, dan sejumlah bangunan lainnya.
Di mulut gua, juga terdapat sejumlah pelinggih seperti Padmasana, Limascari, Tepesana, Gedong Manik, Gedong Sari, dan sejumlah Pelinggih lainnya yang digunakan sebagai tempat pemujaan.
Walau jumlah lawah di gua ini sangat banyak, pengunjung ataupun masyarakat sekitar tidak boleh mengusiknya karena akan mendapatkan kesialan. Setiap hari, baik umat Hindu yang akan beribadah maupun wisatawan baik domestik maupun mancanegara mengunjungi tempat ini.
Namun, ribuan kelelawar ini seolah tak pernah merasa terusik. Ribuan kelelawar ini hanya akan meninggalkan gua pada malam hari untuk mencari makan dan kembali lagi ke dalam gua untuk bersemayam sekaligus menjaga kesucian gua ini.
Misteri lain yang perlu diketahui, gua ini tembus ke Pura Besakih yang ada di Karangasem. Hal ini diketahui saat ada masyarakat yang kehilangan ayam. Saat dicari tak ditemukan, ternyata munculnya di Besakih.
Menurut panitia pejaga gua ini, Putu Juliadi, ada beberapa hal larangan yang harus dipatuhi pengunjung. "Bagi perempuan yang datang bulan, tak diperbolehkan masuk di kawasan suci ini. Kalau sampai dilanggar, maka akan terjadi sesuatu hal usai pulang dari tempat ini," kata pria yang akrab disapa Lembo ini. Untuk memasuki Pura ini kita wajib membayar tiket masuk sebesar Rp5.000, mendapat pinjaman kain dan ikat pinggang kain warna kuning, disediakan air suci juga bagi yang ingin berdoa atau sembahyang di tempat ini.
