INDIA mengadakan pekan haute couture untuk pertama kalinya. Sebelas desainer papan ambil bagian, mempersembahkan kekayaan tradisi dalam keindahan mode.
Haute couture identik dengan kreasi busana ekstravagan yang lebih pantas dipajang ketimbang digunakan, seperti yang kerap terlihat di panggung Paris. Para desainer menjadikan ajang ini sebagai pembuktian visi dan kreativitas mereka dalam mengolah mode menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun, tidak demikian halnya dengan desainer India.
Bagi mereka, couture berarti tradisi. Di pekan mode inaugurasi itu, mereka mempersembahkan rangkaian keindahan tanah India yang kental dengan tradisi, budaya, serta seni. Istimewanya lagi, semua koleksi yang dihadirkan pun bisa dipakai. Para couturier India mengatakan, lewat pekan mode itu mereka menawarkan busana made-to- order dengan harga yang masuk akal.
"Ini bukan hanya untuk pertunjukkan ataupun busa-na yang diperuntukkan bagi para Ambanis di seluruh dunia," ungkap President Fashion Design Council of India (FDCI) Sunil Sethi, yang mengacu pada miliuner India, Mukesh dan Anil Ambani.
Sethi juga mengatakan, pekan mode adibusana yang dihelat di Mumbai untuk pertama kalinya itu sekaligus bertujuan memperkenalkan tradisi dan kekayaan budaya India secara lebih luas. "Mereka yang menginginkan sentuhan tradisi dan sejarah India, bisa mendapatkannya di sini, melalui mode tentunya. Koleksi yang dipersembahkan merupakan kombinasi antara fantasi, tradisi, dan seni. Bisa dikatakan pekan mode ini merupakan perayaan semangat fashion India," papar Sethi, seperti dilansir AFP.
Pergelaran yang dihelat di Grand Hyatt Hotel, Mumbai, itu dimeriahkan oleh para desainer kawakan yang telah menjejak panggung London, New York, dan Paris. Salah satunya Suneet Varma, yang mengatakan koleksinya akan ditampilkan layaknya cerita komedi William Shakespeare A Midsummer Night's Dream. Fashionista India pun akan dimanjakan dengan penampilan manis dari pemegang mahkota Miss India yang didaulat sebagai model.
Mereka menjadi muse, khususnya bagi Ritu Kumar dan J J Valaya. Desainer lain yang juga unjuk aksi adalah Ashish Soni, Anamika Khanna, Manav Gangwani, Manish Malhotra, Pallavi Jaikishen, dan Varun Behl.
Panggung India pun akan dimeriahkan dengan rangkaian koleksi khas Tarun Tahliani, yang menjadi favorit selebriti Bollywood. Tahliani, mendapatkan predikat tersebut setelah "mendandani" aktris dan model Inggris Elizabeth Hurley yang mengenakan sari seharga USD7800 sebagai gaun pengantinnya ketika menikahi pengusaha India Arun Nayar.
Sethi mengatakan, ajang ini telah dirumuskan beberapa tahun lalu, namun baru diselenggarakan pada 2008. "Banyak kendala dalam mewujudkannya, salah satunya menentukan desainer yang memenuhi kriteria," terangnya. Kendati demikian, Sethi mengaku bangga bisa menyelenggarakan pekan adibusana ini. Bagi Sethi juga desainer India lainnya, event ini merupakan langkah logis yang sekaligus menjadi pembuktian kemajuan industri mode India selama beberapa tahun terakhir.
Mewah, rupanya menjadi kata kunci pergelaran yang diselenggarakan selama sepekan mulai 16-21 September. Sethi mengatakan, dia memberi kebebasan pada desainer untuk menampilkan apa yang ada di kepala mereka mengenai couture itu sendiri. Pun dengan runway yang akan menjadi panggung mereka.
"Pertunjukkan diadakan dua kali pada pukul 19.30 dan 21.00. Setelah itu, panggung akan dikosongkan selama 22jam agar desainer bisa merancangnya seperti yang mereka inginkan," terangnya.
Tentu saja, mewah bukan hanya ditunjukkan dari interior catwalk yang berbeda di setiap pertunjukkan. Tapi juga melalui koleksi yang dipersembahkan para perancang. Rohit Bal, desainer top India yang juga tampil di pekan mode tersebut mengatakan, kemewahan sudah menjadi bagian dari fashion India sejak dulu.
"Haute couture tidak bisa dipisahkan dengan kemewahan, dan mewah adalah mode India itu sendiri," sebutnya, menjelaskan sari India yang rumit dengan hiasan, bordir, juga sematan batu mulia."Ini merupakan warisan budaya sejak 3000 tahun lalu," sambungnya.
(sindo//tty)
Haute couture identik dengan kreasi busana ekstravagan yang lebih pantas dipajang ketimbang digunakan, seperti yang kerap terlihat di panggung Paris. Para desainer menjadikan ajang ini sebagai pembuktian visi dan kreativitas mereka dalam mengolah mode menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun, tidak demikian halnya dengan desainer India.
Bagi mereka, couture berarti tradisi. Di pekan mode inaugurasi itu, mereka mempersembahkan rangkaian keindahan tanah India yang kental dengan tradisi, budaya, serta seni. Istimewanya lagi, semua koleksi yang dihadirkan pun bisa dipakai. Para couturier India mengatakan, lewat pekan mode itu mereka menawarkan busana made-to- order dengan harga yang masuk akal.
"Ini bukan hanya untuk pertunjukkan ataupun busa-na yang diperuntukkan bagi para Ambanis di seluruh dunia," ungkap President Fashion Design Council of India (FDCI) Sunil Sethi, yang mengacu pada miliuner India, Mukesh dan Anil Ambani.
Sethi juga mengatakan, pekan mode adibusana yang dihelat di Mumbai untuk pertama kalinya itu sekaligus bertujuan memperkenalkan tradisi dan kekayaan budaya India secara lebih luas. "Mereka yang menginginkan sentuhan tradisi dan sejarah India, bisa mendapatkannya di sini, melalui mode tentunya. Koleksi yang dipersembahkan merupakan kombinasi antara fantasi, tradisi, dan seni. Bisa dikatakan pekan mode ini merupakan perayaan semangat fashion India," papar Sethi, seperti dilansir AFP.
Pergelaran yang dihelat di Grand Hyatt Hotel, Mumbai, itu dimeriahkan oleh para desainer kawakan yang telah menjejak panggung London, New York, dan Paris. Salah satunya Suneet Varma, yang mengatakan koleksinya akan ditampilkan layaknya cerita komedi William Shakespeare A Midsummer Night's Dream. Fashionista India pun akan dimanjakan dengan penampilan manis dari pemegang mahkota Miss India yang didaulat sebagai model.
Mereka menjadi muse, khususnya bagi Ritu Kumar dan J J Valaya. Desainer lain yang juga unjuk aksi adalah Ashish Soni, Anamika Khanna, Manav Gangwani, Manish Malhotra, Pallavi Jaikishen, dan Varun Behl.
Panggung India pun akan dimeriahkan dengan rangkaian koleksi khas Tarun Tahliani, yang menjadi favorit selebriti Bollywood. Tahliani, mendapatkan predikat tersebut setelah "mendandani" aktris dan model Inggris Elizabeth Hurley yang mengenakan sari seharga USD7800 sebagai gaun pengantinnya ketika menikahi pengusaha India Arun Nayar.
Sethi mengatakan, ajang ini telah dirumuskan beberapa tahun lalu, namun baru diselenggarakan pada 2008. "Banyak kendala dalam mewujudkannya, salah satunya menentukan desainer yang memenuhi kriteria," terangnya. Kendati demikian, Sethi mengaku bangga bisa menyelenggarakan pekan adibusana ini. Bagi Sethi juga desainer India lainnya, event ini merupakan langkah logis yang sekaligus menjadi pembuktian kemajuan industri mode India selama beberapa tahun terakhir.
Mewah, rupanya menjadi kata kunci pergelaran yang diselenggarakan selama sepekan mulai 16-21 September. Sethi mengatakan, dia memberi kebebasan pada desainer untuk menampilkan apa yang ada di kepala mereka mengenai couture itu sendiri. Pun dengan runway yang akan menjadi panggung mereka.
"Pertunjukkan diadakan dua kali pada pukul 19.30 dan 21.00. Setelah itu, panggung akan dikosongkan selama 22jam agar desainer bisa merancangnya seperti yang mereka inginkan," terangnya.
Tentu saja, mewah bukan hanya ditunjukkan dari interior catwalk yang berbeda di setiap pertunjukkan. Tapi juga melalui koleksi yang dipersembahkan para perancang. Rohit Bal, desainer top India yang juga tampil di pekan mode tersebut mengatakan, kemewahan sudah menjadi bagian dari fashion India sejak dulu.
"Haute couture tidak bisa dipisahkan dengan kemewahan, dan mewah adalah mode India itu sendiri," sebutnya, menjelaskan sari India yang rumit dengan hiasan, bordir, juga sematan batu mulia."Ini merupakan warisan budaya sejak 3000 tahun lalu," sambungnya.
