MASYARAKAT hanya mengenal sebagian kecil makanan Sunda. Padahal, hidangan asal tanah Pasundan ada ribuan jenisnya dan belum tergali. Bahkan, ada yang sudah punah.
Era globalisasi juga menyerbu ranah kuliner. Selera masyarakat beralih dengan lebih menyukai makanan ala Barat dibandingkan kekayaan kuliner Nusantara.
Berangkat dari keprihatinan itulah, Sambara hadir untuk menggairahkan kembali pamor makanan asli Indonesia, khususnya makanan Sunda. Restoran ini memang mengajak pengunjungnya menikmati keragaman masakan Sunda melalui sajian prasmanan. Hampir puluhan jenis masakan Sunda tersaji di situ. Pengunjung bebas memilih, kemudian meminta pramusaji untuk menghangatkan. Selanjutnya, makanan pun diantarkan ke meja masing-masing dan siap disantap.
Pengalaman memilih hi- dangan seperti ini secara tidak langsung juga menjadi langkah resto yang pertama kali dibuka di Bandung untuk memperkenalkan keragaman hidangan Sunda.
"Sambara ingin menghadirkan kembali masakanmasakan tradisional Sunda yang sudah hilang ke tengah masyarakat. Selain itu, pihak pengelola ingin mengangkat masakan Sunda sejajar dengan makanan-makanan dari negara lain," kata Operational Manager Sambara Bobby Siswara.
Sederet menu bernuansa Sunda klasik tersaji seperti tumis genjer, orak-arik peda, nasi oncom, tumis terong, tumis daun walu, atau cumi balakutak. Aneka nasi semacam nasi songsong atau nasi claypot atau anglo bisa dipilih. Cara penyajian nasi songsong sangat unik. Bahan-bahan pembuat seperti beras dan beras ketan dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain, lalu ditambah oncom, lalu dimasukkan ke dalam bambu. Kemudian, bakar nasi di dalam bambu hingga matang.
Keklasikan menu bukan hanya dalam hal makanan. Pilihan minuman seperti bandrek, skuteng, bajigur, kopi tubruk, atau es cincau hijau mungkin sudah sangat susah Anda temui. Semakin mengentalkan ciri khas Sunda, aneka kreasi jus buah hadir dengan nama daerah di kawasan Jawa Barat, seperti jus cikajang, jus cikuray, kalangkang, dan cikaracah.
Pengunjung yang ingin menikmati menu ala carte bisa memilih bistik tempoe doeloe, gule iga sapi, dan sayur kacang iga sapi.
Cara penyajian pun sangat Sunda. Lihat saja, beragam makanan itu disajikan dalam wadah tembikar, seperti masyarakat Sunda zaman dulu ketika menyajikan makanan untuk keluarga.
Beralih ke tatanan interior, harmonisasi modern dan tradisional sangat manis juga nyaman. Akses tradisional seperti elemen kayu, bambu, motif tradisional pada dinding, serta peralatan makan yang diadaptasi dari gaya tradisional berpadu cantik dengan desain resto yang minimalis.
Masih ada lagi, pengunjung akan dibuai dengan alunan musik tradisional khas Sunda. Setiap akhir pekan, suasana Sunda semakin terasa dengan penggunaan kampret, baju ala Kabayan bagi pramusaji pria dan kebaya brukat dengan ikat pinggang bagi pramusaji perempuan.
(sindo//tty)
Era globalisasi juga menyerbu ranah kuliner. Selera masyarakat beralih dengan lebih menyukai makanan ala Barat dibandingkan kekayaan kuliner Nusantara.
Berangkat dari keprihatinan itulah, Sambara hadir untuk menggairahkan kembali pamor makanan asli Indonesia, khususnya makanan Sunda. Restoran ini memang mengajak pengunjungnya menikmati keragaman masakan Sunda melalui sajian prasmanan. Hampir puluhan jenis masakan Sunda tersaji di situ. Pengunjung bebas memilih, kemudian meminta pramusaji untuk menghangatkan. Selanjutnya, makanan pun diantarkan ke meja masing-masing dan siap disantap.
Pengalaman memilih hi- dangan seperti ini secara tidak langsung juga menjadi langkah resto yang pertama kali dibuka di Bandung untuk memperkenalkan keragaman hidangan Sunda.
"Sambara ingin menghadirkan kembali masakanmasakan tradisional Sunda yang sudah hilang ke tengah masyarakat. Selain itu, pihak pengelola ingin mengangkat masakan Sunda sejajar dengan makanan-makanan dari negara lain," kata Operational Manager Sambara Bobby Siswara.
Sederet menu bernuansa Sunda klasik tersaji seperti tumis genjer, orak-arik peda, nasi oncom, tumis terong, tumis daun walu, atau cumi balakutak. Aneka nasi semacam nasi songsong atau nasi claypot atau anglo bisa dipilih. Cara penyajian nasi songsong sangat unik. Bahan-bahan pembuat seperti beras dan beras ketan dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain, lalu ditambah oncom, lalu dimasukkan ke dalam bambu. Kemudian, bakar nasi di dalam bambu hingga matang.
Keklasikan menu bukan hanya dalam hal makanan. Pilihan minuman seperti bandrek, skuteng, bajigur, kopi tubruk, atau es cincau hijau mungkin sudah sangat susah Anda temui. Semakin mengentalkan ciri khas Sunda, aneka kreasi jus buah hadir dengan nama daerah di kawasan Jawa Barat, seperti jus cikajang, jus cikuray, kalangkang, dan cikaracah.
Pengunjung yang ingin menikmati menu ala carte bisa memilih bistik tempoe doeloe, gule iga sapi, dan sayur kacang iga sapi.
Cara penyajian pun sangat Sunda. Lihat saja, beragam makanan itu disajikan dalam wadah tembikar, seperti masyarakat Sunda zaman dulu ketika menyajikan makanan untuk keluarga.
Beralih ke tatanan interior, harmonisasi modern dan tradisional sangat manis juga nyaman. Akses tradisional seperti elemen kayu, bambu, motif tradisional pada dinding, serta peralatan makan yang diadaptasi dari gaya tradisional berpadu cantik dengan desain resto yang minimalis.
Masih ada lagi, pengunjung akan dibuai dengan alunan musik tradisional khas Sunda. Setiap akhir pekan, suasana Sunda semakin terasa dengan penggunaan kampret, baju ala Kabayan bagi pramusaji pria dan kebaya brukat dengan ikat pinggang bagi pramusaji perempuan.
