Fashion


Economical Fashion

Minggu, 28 September 2008 - 12:07 wib
text TEXT SIZE :  
Foto : Corbis

MELEMAHNYA ekonomi global memengaruhi industri mode. Jumlah buyer potensial pun berkurang, bahkan beberapa garmen besar melakukan pemangkasan karyawan.

Pasca kejatuhan institusi keuangan raksasa Lehman Brothers, dunia mode mulai merasakan guncangan ekonomi. London Fashion Week yang biasanya dipadati buyer Amerika Serikat (AS), kini sepi. Buyer potensial justru datang dari Timur Tengah. Sementara di Milan, buyer lokal mendominasi.

Ketua British Fashion Council (BFC) Harold Tillman mengatakan, terdapat peningkatan kunjungan buyer dari Timur Tengah.

"Tahun ini jumlah buyer asal Timur Tengah bertambah, mungkin dikarenakan industri mode di sana tengah berkembang, banyak mal-mal dan pusat perbelanjaan yang dibangun dan membutuhkan produk mode berkualitas," terang Tillman, seperti dilansir Reuters.

Penurunan jumlah buyer AS jelas membuat beberapa desainer kebat-kebit. Mereka ragu bisa mencapai target penjualan tahun mendatang, terutama desainer muda. "Isu ekonomi ini sangat memengaruhi bisnis," tukas perancang baru Afshin Feiz.

"Saya memulai bisnis di New York dan kini harus kehilangan beberapa butik. Karena harga dolar melemah dan baju-baju saya menjadi terlalu mahal," tuturnya. Kendati demikian, hal itu justru mendorong semangat Feiz untuk mencari buyer potensial lainnya.

"Sekarang saya mencoba mendekati (buyer) Timur Tengah dan Rusia. Pasar mode di sana tengah berkembang, saya pun mempertimbangkan untuk membuka butik di beberapa kota besar seperti Dubai, Riyadh, Kairo, dan Kuwait," sambung Feiz.

Selanjutnya, dampak anjloknya ekonomi global juga memengaruhi desainer senior. Mereka pun sempat pesimistis menanti transaksi yang tak kunjung datang. "Kekhawatiran selalu ada," ungkap desainer veteran Inggris Paul Smith.

"Terlebih kali ini problem ekonomi semakin berat. Bank-bank besar berjatuhan, membuat banyak perusahaan besar pailit, tak terkecuali mereka yang bergerak di bidang mode, karena itu kami harus terus waspada," paparnya.

Untunglah, saat ini Smith masih bisa bernapas lega. Pasalnya,tingkat penjualannya tidak mengalami penurunan. "Masih di angka yang sama, saya harus bersyukur untuk itu," ujarnya, sembari mengatakan angka tersebut diraih berkat kontribusi lini aksesori.

Ekonomi yang lesu akhir-akhir ini juga membuat para peritel harus memutar otak, mencari celah lain agar industri mode tidak turut kolaps.

"Fast fashion menawarkan mode yang serbacepat, namun di dalamnya juga terjadi perputaran uang yang cepat dan itu sulit dilakukan dalam kondisi ekonomi sekarang ini," papar Leisa Barnett, Fashion Editor Vogue.com.

Barnett juga melihat peritel high street fashion mengatasi problem keuangan tersebut dengan memangkas biaya produksi atau sektor lain, sehingga bisa menjual produk dengan harga yang lebih murah. Namun sayangnya, pasar justru meminta produk yang lebih berkualitas dengan model klasik yang timeless.

"Bukan hal yang mengejutkan jika sekarang masyarakat lebih memilih busana klasik yang tak lekang waktu. Mereka membelanjakan uang secara bijaksana," tambah Barnett.

Hal senada diungkapkan direktur kreatif Jigsaw Louise Trotter. "Konsumen kini beralih pada kualitas dan menganggap mode sebagai investasi. Itu berarti memiliki kemeja putih dengan material bagus, mantel berkualitas premium, dan little black dress daripada busana musiman," terang Trotter.

Celah ini tentu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para desainer. Di Milan, koleksi yang ditampilkan hampir seluruhnya bernada simpel. Minimalis, tanpa detail rumit. Warna-warnanya pun terbilang "ramah". Biru, putih, hitam, dan cokelat. Palet yang akan selalu menjadi pilihan para wanita. Kendati beberapa warna terang dan motif floral juga ditawarkan sebagai alternatif. (sindo//nsa)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4