HIDANGAN Nusantara tak pernah lekang oleh zaman. Siapa pun orang yang merantau atau bekerja di luar kota pasti merindukan hidangan asal kampung halaman. Sepanjang Ramadan ini, boleh dikata restoran ataupun warung-warung pinggir jalan menyajikan aneka hidangan yang lebih marak dan beragam.
Wajar saja, selepas seharian berpuasa, tentu orang ingin berbuka dengan ragam pilihan sajian istimewa. Kafe Teluk Jakarta yang berlokasi di Hotel Santika Jakarta juga tak luput menawarkan ragam menu spesial Ramadan.
Selain takjil corner yang berisi aneka jajanan tradisional seperti cente kacang hijau, pisang ijo, pisang rebus, kolak, dan wedang jahe, kafe semi resto yang terletak di area mezanin floor ini juga menyuguhkan pilihan hidangan berbasis kuliner Nusantara. Salah satu yang spesial adalah nasi minyak Riau.
Menu ini praktis, namun mengenyangkan, setara dengan hidangan paket nasi yang biasa terdapat di restoran-restoran cepat saji. Satu paket nasi minyak Riau isinya cukup komplet, terdiri atas nasi liwet, ayam panggang Riau, pakang balado, kacang tanah goreng, lalapan, serta sambal terasi.
Bila diamati, nasi minyak rupanya mengacu pada menu nasi liwet yang ditanak dengan santan sehingga agak berminyak. Tampilan dan rasanya yang gurih mirip nasi uduk atau nasi lemak. Sedangkan ayam panggang Riau diolah dengan bumbu kuning yang ditumis, lalu dipakai untuk mengungkeb daging ayam, serta mentega yang memberi rasa gurih saat proses pembakaran.
Dua kali proses memasak (mengungkeb dan membakar) ini menjadikan daging ayam terasa empuk dan meresap bumbunya. Kondimen (pelengkap) lainnya yang tak kalah nikmat adalah pakang balado. Pakang merupakan sejenis teri atau ikan asin, tapi rasanya cenderung tawar.
Ikan bernama lain kapasan ini biasanya dibelah hingga tipis, lalu digoreng hingga garing. Rasanya renyah dan tidak terlalu asin sehingga cocok juga dijadikan camilan. Menurut Chef De Partie Hotel Santika, Suhendra, teri pakang ini biasa diolah menjadi balado di rumah makan Padang.
"Maka dari itu, kami rasa menu pakang balado cocok dijadikan pelengkap nasi minyak Riau. Kan sama-sama dari Pulau Sumatera," ungkapnya.
Di samping nasi minyak Riau, kreasi istimewa lain yang ditawarkan Suhendra dan tim dapur Kafe Teluk Jakarta adalah ayam kare hijau.
Tidak seperti namanya, menu ini justru sama sekali tak mengandung rasa kare. Ternyata, kare hijau yang dimaksud adalah campuran bumbu rempah tradisional yang ditambahkan ulekan cabai hijau.
"Jadi sama sekali tak memakai bubuk kari. Hanya rempah biasa dicampur cabai hijau dan tanpa kunyit, sehingga warnanya berubah hijau," terang Suhendra.
Masih seputar olahan ikan, gindara saus ketumbar menawarkan bumbu yang lebih pekat dan gurih. Maklum, daging ikan diolah dengan dua kali pemberian bumbu. Pertama, bumbu kuning yang ditumis lalu dibalurkan ke badan ikan. Setelah ikan dibakar setengah matang, badannya dilumuri lagi dengan bumbu poles yang terdiri atas campuran ketumbar, margarin, kecap manis, dan perasan jeruk limau.
Beralih ke menu pembuka yang segar, selada ayam nenas menawarkan cita rasa "rame", yaitu campuran pedas, asam, asin, dan gurih. Rasa pedas bersumber dari bubuk merica dan saus worchester, asam dari nenas dan tomat, serta asin-gurihnya daging ayam. Ditambah mayones kental, rasanya jadi semakin mantap!
(sindo//nsa)
Food & Resto
Menu Komplet Nasi Minyak
Senin, 29 September 2008 - 14:18 wib
Berita Lain
-
Senin, 01/12/2008 17:12
Minuman Segar ala Kafe -
Minggu, 30/11/2008 13:11
Mencicipi Hidangan Negeri Laskar Pelangi -
Sabtu, 29/11/2008 17:11
Sensasi Olahan Gurame -
Jum'at, 28/11/2008 16:11
Kreasi Hidangan Barat -
Kamis, 27/11/2008 17:11
Pedas-Asam Khas Celebes -
Rabu, 26/11/2008 15:11
Jus Buah Jadi Lebih Sehat -
Selasa, 25/11/2008 17:11
Kuliner Vietnam ala Celebrity Chef -
Senin, 24/11/2008 16:11
Berpetualang Menu Asia
