Fashion


Easy Milan

Senin, 6 Oktober 2008 - 08:52 wib
text TEXT SIZE :  
Koleksi Missoni (Foto: FWD)

PEKAN mode Milan sukses dihelat. Para desainer punya strategi jitu menghadapi kelesuan ekonomi. Mereka menyajikan busana-busana ringan, simpel, namun chic.

Seperti layaknya pergelaran mode New York maupun London, Milan pun tak terlepas dari dampak melemahnya ekonomi global. Ancaman berkurangnya buyer serta menurunnya tingkat penjualan musim semi mendatang, masih menjadi awan hitam yang menggantung di benak para perancang.

Kendati demikian, koleksi mereka boleh dibilang menjadi strategi tersendiri dalam menghadapi keterpurukan ekonomi. Tidak menampilkan gaya-gaya muram, Milan justru tampil ekstraringan. Semua serbasimpel dan minimalis, tanpa detail berlebihan.

Milan goes easy, bila dibandingkan dengan New York dan London. Di kedua fashion capital tersebut, melemahnya ekonomi global dicerminkan lewat koleksi busana yang cenderung muram. Nuansa ceria musim semi diberi sedikit sentuhan gloomy ala musim gugur. Hitam berdampingan dengan palet cerah, sementara garis-garis geometris kaku padu bersama motif floral nan manis. Namun di Milan, para desainer punya cara tersendiri. Iklim buruk ekonomi tidak lantas direfleksikan pada busana, melainkan gaya.

Perancang papan atas Milan mengambil jalan tengah, menjadikan fashion sebagai investasi. Kualitas premium tetap dipertahankan, namun garis rancangan berubah ke arah klasik. Clean, tanpa embellishment maupun aplikasi manis yang kerap menjadi ciri busana musim semi dan musim panas. Mereka rupanya tanggap terhadap pasar yang menginginkan produk berkualitas dengan model timeless.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Kreatif Jigsaw Louise Trotter. "Konsumen kini beralih pada kualitas dan menganggap mode sebagai investasi. Itu berarti memiliki kemeja putih dengan material bagus, mantel berkualitas premium, dan little black dress daripada busana musiman," terangnya.

Kendati mengusung gaya klasik, tidak berarti Milan Fashion Week berjalan hambar. Catwalk-nya justru diwarnai dengan berbagai nuansa. Mood bahagia menguasai pergelaran, mengingatkan kembali akan golden age of fashion di era 50-an.

Hari pertama pekan mode yang jatuh pada Senin (22/9) mempersembahkan rangkaian koleksi besutan desainer kelas wahid. Giorgio Armani, Missoni, dan Burberry menyajikan ragam koleksi yang membuat lidah berdecak. Simpel, elegan, namun tetap ringan. Warna yang dipilih pun tidak berasal dari jajaran palet muram, melainkan tone klasik seperti beige, cokelat, putih, dan hitam, dengan sentuhan manis dari pink ataupun hijau yang menyegarkan.

Armani bahkan menyebut koleksinya sebagai "a joy to wear". Dia ingin menjadikan mode sebagai cara bersenang-senang. Karenanya, seluruh rancangannya ditampilkan ringan, jatuh, melayang, namun tetap memiliki karakter tangguh ala Armani. Terlihat dari ragam jaket, setelan, maupun cocktail dress yang hadir dengan potongan tajam.

Mood ringan juga menguasai pertunjukkan Missoni. Angela Missoni, sang perancang memilih gaya sporty-elegan lewat bentukan rok panjang, celana lebar, dan terusan simpel. Teknik rajut yang menjadi signature style Missoni tetap hadir sebagai detail pada atasan yang diperkaya dengan sentuhan sequin maupun payet.

Sementara Burberry Prorsum tetap menyajikan gaya khasnya, yang kental akan tradisi Inggris. Trench coat masih menjadi andalan Christopher Bailey musim panas mendatang, namun dalam material berbeda. Tidak hanya menggunakan katun, Bailey juga menyajikan mantel dari sutra berbordir.

Musim panas mendatang, Frida Giannini menampilkan batu-batu mulia sebagai aksesori untuk Gucci. Adapun untuk day wear, Giannini memilih tampilan santai dengan gaya boyish. Jaket, celana capri dan kemeja ringan dipadukan bersama topi serta tas punggung kulit. Stylish, sophisticated, dan sangat wearable.

Koleksi boyish Gucci tampak kontras dengan gaya feminin Roberto Cavalli. Gaun-gaun mini dengan aplikasi bordir serta prints mewarnai runway Just Cavalli. Kesan seksi yang biasanya terasa kental di tiap rancangan Cavalli kini terasa berkurang.
(sindo//tty)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4