Keluarga


Mengapa Anak Harus Berkacamata?

Senin, 6 Oktober 2008 - 09:47 wib
text TEXT SIZE :  
Foto: Corbis

"MAMA, mataku kok kabur ya?" Bila ungkapan itu kerap dikeluhkan anak Anda, segera periksakan ke dokter. Siapa tahu si kecil memang sudah perlu kacamata.

Wah, tapi masak kecil-kecil sudah berkacamata? Apa tidak seperti orangtua?" Orangtua sebaiknya tidak melontarkan kalimat yang demikian. Jangan pula terlalu pesimistis bahwa anaknya akan minder kalau harus berkacamata.

"Masalah sering kali datang karena persepsi orangtua. Jangan dibilangin: ?Nanti anaknya minder!'. Padahal, siapa tahu si anak sebetulnya tidak merasa minder. Orangtua seharusnya menanamkan mental yang baik agar anak siap dan mau berkacamata," kata psikolog anak di RS Pluit Jakarta, Rosdiana Tarigan MPsi MHPEd.

Saat ini, banyak anak-anak yang sejak usia TK atau bahkan balita yang "bermata empat" alias mengenakan kacamata. Di Amerika Serikat misalnya, tak kurang dari 60 juta anak-anak menggantungkan penglihatannya pada lensa kacamata.

Gangguan penglihatan pada anak umumnya disebabkan kelainan refraksi, yaitu mata tidak bisa memfokuskan penglihatan tepat di retina. Ketidakmampuan melihat jauh atau myop merupakan kasus tersering terjadi pada anak, dan kacamata berlensa negatif (minus) menjadi solusi.

"Gangguan refraksi atau gangguan kacamata biasanya paling sering terjadi pada anak-anak usia sekolah. Ini diketahui dari keluhan si anak atau kadang gurunya yang melapor ke orangtua bahwa anaknya kalau melihat tulisan di papan tulis suka maju ke depan atau sering kali salah dalam menulis," ungkap spesialis mata dari Jakarta Timur Eye Center, dr Setiyo Budi Riyanto SpM.

Selain di sekolah, orangtua juga seharusnya mulai curiga bila saat anak menonton televisi di rumah sering kali bergeser mendekat ke televisi. "Jarak normal nonton TV sekitar lima meter. Bagi anak yang matanya terganggu mungkin terlihat kurang jelas,sehingga dia akan terus mendekat," ujarnya.

Jika tanda-tanda tersebut berulang kali terlihat, apalagi bila disertai keluhan langsung dari si anak, sebaiknya orangtua segera membawanya ke dokter mata untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan yang mengharuskan anak memakai kacamata, sebaiknya kacamata dipakai terus agar pada saat dewasa tidak terjadi lazy eyes atau ambliophia," tegasnya seraya mengingatkan bahwa ambliophia tidak bisa dikoreksi dengan lensa ukuran berapa pun.

Memiliki mata yang sehat dan normal tentu menjadi harapan semua orang. Untuk menjaganya, perlu penerapan pola hidup dan kebiasaan sehat sejak dini seperti tidak membaca di tempat gelap dan menonton TV tidak terlalu dekat. Namun, itu saja tidak cukup. Pasalnya, kelainan mata juga bisa disebabkan faktor keturunan.

"Orangtua harus memastikan pada dokter apakah kelainan mata disebabkan keturunan atau karena kebiasaan yang buruk. Kadang pada kasus keturunan, perubahan pola hidup pun tidak berpengaruh," tukas Rosdiana.

Pernyataan Rosdiana diperjelas oleh dr Setiyo yang mengatakan bahwa ke-lainan mata seperti minus tidak bisa diobati dengan rajin minum jus wortel sekalipun. Namun, pola hidup yang menjaga mata tidak cepat lelah dapat mengurangi risiko kerusakan mata yang lebih parah.
(sindo//tty)