Foto: TB Ardi Januar/Okezone
KEKAYAAN budaya Tanah Air menghadirkan interpretasi beragam dari desainer busana muslim. Semuanya bersatu, membentuk simfoni budaya dalam napas religi.
Sebanyak 13 desainer busana muslim Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menjadi pembuka pergelaran mode akbar tiga tahunan, Fashion Exploration 2009. Pesta mode yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini merupakan panggung pembuktian para desainer APPMI akan kemajuan rancangannya, ujian bagi para perancang, apakah mereka bisa tetap konsisten mempertahankan garis desainnya. Acara ini sekaligus informasi terbaru bagi pencinta mode akan kecenderungan garis tren tahun mendatang.
"Pergelaran ini bisa dibilang sebagai ujian bagi desainer, kesempatan desainer daerah untuk unjuk gigi akan kreativitas mereka di panggung yang lebih luas," ujar Ketua Umum APPMI Taruna K Kusmayadi, dalam konferensi pers, sebelum acara. "Dari sini, kita bisa melihat siapa yang desainnya mengalami kemajuan, siapa yang tidak. Konsumen juga melihat itu dan itu akan menjadi tolak ukur bagi desainer daerah akan rancangan mereka, termasuk juga kategori busana muslim," tutur pria yang akrab disapa Nuna ini.
Menilik koleksi yang disajikan divisi busana muslim APPMI, terlihat keseragaman gaya rancang yang memang diakui Nuna telah menjadi kultural perancang lokal. "Saya melihat hal itu sebagai problem kultural. Mereka (desainer) belum percaya diri menyuarakan apa yang mereka percaya. Padahal seharusnya mereka bisa menyasar pasar yang berbeda dengan ide yang berbeda," sebutnya.
Namun kenyataan yang terjadi di atas catwalk adalah sisi "seragam" yang justru diungkap para desainer busana muslim. Kendati demikian, beberapa perancang bisa memperlihatkan komitmen garis rancang mereka sekaligus menyertakan inovasi baru nan inspiratif.
Pergelaran dibuka dengan pertunjukan koleksi terbaru Hannie Hananto. Desainer yang terkenal dengan napas art deco-nya ini tetap konsisten menghadirkan desain futuristik, kental dengan garis geometris sebagai aksen. Hannie mengatakan, garis-garis geometris tersebut diambilnya dari bentuk berundak sawah terasering Bali yang kemudian disesuaikannya dengan ritme penari Bali nan gemulai. Semua itu menciptakan pemandangan unik, harmonisasi warna-warna solid, juga padu padan aksesori berukuran jumbo yang menarik. Awal peragaan yang fresh, tanpa permainan motif batik yang mulai tampak membosankan di atas catwalk.
Selanjutnya, giliran Monika Jufry unjuk aksi dengan menghadirkan "Pa'Pollo Gayang". Dalam keterangan tertulisnya, Monika menjelaskan pa'pollo gayang merupakan ragam hias seni pahat Tana Toraja, sekaligus simbol kekayaan. Ragam hias etnik itu kemudian dikombinasikan bersama garis desain kontemporer berpalet tembaga. Sebagai aksen, Monika menambah aplikasi logam serta permainan tambal sulam (patchwork). Dalam rancangannya gaya Timur Tengah terasa mendominasi. Monika mengatakan, itu mengikuti kecenderungan tren 2009 yang memang mengarah ke gaya busana Timur Tengah.
Iva Lativah mencoba menyuguhkan pendekatan yang berbeda dengan menghadirkan busana muslim bergaris kimono Jepang. Sisi budaya ditampilkan secara gamblang melalui penggunaan kain-kain batik mentah, nyaris tanpa potongan. Inspiratif memang, tapi rancangannya terkesan unfinished, kontras dengan gaya Iva yang rapi, manis, dan penuh warna.
Desainer asal Sumatera Barat, Ade Listiani menyuguhkan permainan batik Tanah Liek, yang dikombinasikan bersama bahan lembut nan feminin. Putih menjadi palet dasar bagi batik berwarna cerah. "Rancak Pasisia" adalah bahasa Ade untuk mengungkapkan cerita tentang akulturasi budaya di pesisir Sumatera, di mana budaya China, India, dan Arab berpadu kental, mencipta ranah budaya baru yang etnik dan eksotik.
Ida Royani menghadirkan koleksi serbahitam dengan hiasan payet dan manik di bagian lengan, leher, pinggul atau dada. Sementara Hennie Noer menyuguhkan ragam koleksi moslem evening wear dari kain tenun Troso. Toera Imara berusaha menampilkan glamorama melalui korsase, payet, dan manik-manik.
Motif unik diperlihatkan Lia Afif yang konsisten menggunakan bentukan sulur dan ukel-ukel ala tato. Jenny Tjahyawati mencoba menampilkan keragaman budaya dari tenun ikat Flores dan tenun Baduy yang ditambah aplikasi patchwork. Adapun Merry Pramono mempersembahkan citra elegan Maharani Mesir yang dikombinasikan bersama busana wanita India Modern.
Irna Mutiara menyuguhkan ragam gaun pengantin muslim yang terinspirasi kelembutan embun pagi. Detail crochet dan macrame menjadi aplikasi cantik sekaligus memperlihatkan ketelitian pengerjaan handmade perajin lokal. Di sisi lain, Savitri menghadirkan padu padan tenun dengan teknik lukis serta cetak yang disarikannya dari kekayaan etnik Dayak dan Melayu. Terakhir Nuniek Mawardi menutup pergelaran dengan menyajikan kreativitas teknik reka kain. Dari lurik nan sederhana menjadi busana muslim trendi, paduan dua kutub tradisional-modern, juga Timur-Barat.
(sindo//tty) Sebanyak 13 desainer busana muslim Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menjadi pembuka pergelaran mode akbar tiga tahunan, Fashion Exploration 2009. Pesta mode yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini merupakan panggung pembuktian para desainer APPMI akan kemajuan rancangannya, ujian bagi para perancang, apakah mereka bisa tetap konsisten mempertahankan garis desainnya. Acara ini sekaligus informasi terbaru bagi pencinta mode akan kecenderungan garis tren tahun mendatang.
"Pergelaran ini bisa dibilang sebagai ujian bagi desainer, kesempatan desainer daerah untuk unjuk gigi akan kreativitas mereka di panggung yang lebih luas," ujar Ketua Umum APPMI Taruna K Kusmayadi, dalam konferensi pers, sebelum acara. "Dari sini, kita bisa melihat siapa yang desainnya mengalami kemajuan, siapa yang tidak. Konsumen juga melihat itu dan itu akan menjadi tolak ukur bagi desainer daerah akan rancangan mereka, termasuk juga kategori busana muslim," tutur pria yang akrab disapa Nuna ini.
Menilik koleksi yang disajikan divisi busana muslim APPMI, terlihat keseragaman gaya rancang yang memang diakui Nuna telah menjadi kultural perancang lokal. "Saya melihat hal itu sebagai problem kultural. Mereka (desainer) belum percaya diri menyuarakan apa yang mereka percaya. Padahal seharusnya mereka bisa menyasar pasar yang berbeda dengan ide yang berbeda," sebutnya.
Namun kenyataan yang terjadi di atas catwalk adalah sisi "seragam" yang justru diungkap para desainer busana muslim. Kendati demikian, beberapa perancang bisa memperlihatkan komitmen garis rancang mereka sekaligus menyertakan inovasi baru nan inspiratif.
Pergelaran dibuka dengan pertunjukan koleksi terbaru Hannie Hananto. Desainer yang terkenal dengan napas art deco-nya ini tetap konsisten menghadirkan desain futuristik, kental dengan garis geometris sebagai aksen. Hannie mengatakan, garis-garis geometris tersebut diambilnya dari bentuk berundak sawah terasering Bali yang kemudian disesuaikannya dengan ritme penari Bali nan gemulai. Semua itu menciptakan pemandangan unik, harmonisasi warna-warna solid, juga padu padan aksesori berukuran jumbo yang menarik. Awal peragaan yang fresh, tanpa permainan motif batik yang mulai tampak membosankan di atas catwalk.
Selanjutnya, giliran Monika Jufry unjuk aksi dengan menghadirkan "Pa'Pollo Gayang". Dalam keterangan tertulisnya, Monika menjelaskan pa'pollo gayang merupakan ragam hias seni pahat Tana Toraja, sekaligus simbol kekayaan. Ragam hias etnik itu kemudian dikombinasikan bersama garis desain kontemporer berpalet tembaga. Sebagai aksen, Monika menambah aplikasi logam serta permainan tambal sulam (patchwork). Dalam rancangannya gaya Timur Tengah terasa mendominasi. Monika mengatakan, itu mengikuti kecenderungan tren 2009 yang memang mengarah ke gaya busana Timur Tengah.
Iva Lativah mencoba menyuguhkan pendekatan yang berbeda dengan menghadirkan busana muslim bergaris kimono Jepang. Sisi budaya ditampilkan secara gamblang melalui penggunaan kain-kain batik mentah, nyaris tanpa potongan. Inspiratif memang, tapi rancangannya terkesan unfinished, kontras dengan gaya Iva yang rapi, manis, dan penuh warna.
Desainer asal Sumatera Barat, Ade Listiani menyuguhkan permainan batik Tanah Liek, yang dikombinasikan bersama bahan lembut nan feminin. Putih menjadi palet dasar bagi batik berwarna cerah. "Rancak Pasisia" adalah bahasa Ade untuk mengungkapkan cerita tentang akulturasi budaya di pesisir Sumatera, di mana budaya China, India, dan Arab berpadu kental, mencipta ranah budaya baru yang etnik dan eksotik.
Ida Royani menghadirkan koleksi serbahitam dengan hiasan payet dan manik di bagian lengan, leher, pinggul atau dada. Sementara Hennie Noer menyuguhkan ragam koleksi moslem evening wear dari kain tenun Troso. Toera Imara berusaha menampilkan glamorama melalui korsase, payet, dan manik-manik.
Motif unik diperlihatkan Lia Afif yang konsisten menggunakan bentukan sulur dan ukel-ukel ala tato. Jenny Tjahyawati mencoba menampilkan keragaman budaya dari tenun ikat Flores dan tenun Baduy yang ditambah aplikasi patchwork. Adapun Merry Pramono mempersembahkan citra elegan Maharani Mesir yang dikombinasikan bersama busana wanita India Modern.
Irna Mutiara menyuguhkan ragam gaun pengantin muslim yang terinspirasi kelembutan embun pagi. Detail crochet dan macrame menjadi aplikasi cantik sekaligus memperlihatkan ketelitian pengerjaan handmade perajin lokal. Di sisi lain, Savitri menghadirkan padu padan tenun dengan teknik lukis serta cetak yang disarikannya dari kekayaan etnik Dayak dan Melayu. Terakhir Nuniek Mawardi menutup pergelaran dengan menyajikan kreativitas teknik reka kain. Dari lurik nan sederhana menjadi busana muslim trendi, paduan dua kutub tradisional-modern, juga Timur-Barat.
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad