Guesthouse, Alternatif Pintar selain Hotel

Guesthouse, Alternatif Pintar selain Hotel

Foto: Reni Susanti

JIKA bosan tinggal di hotel ketika pergi ke luar kota, tak ada salahnya menginap di guesthouse. Sesuai namanya, guesthouse menawarkan suasana yang lebih akrab dan hangat layaknya sebuah rumah.

Di Bandung, terdapat beberapa guesthouse. Sebut saja Cassadua, Rumah Asri, Rumah Ebo dan lainnya. Setiap guesthouse memiliki keunggulan masing-masing. Namun, bagi mereka yang suka dengan suasana tua, rasanya harus menginap di Rumah Ebo.

Rumah Ebo terletak di Jalan Imam Bonjol No 27 Bandung. Terlihat dari luar, rumah ini sama sekali tidak mirip penginapan, apalagi pengelola tidak memasang plang nama di depan rumah. Yang terlihat hanyalah bangunan tua yang asri dengan rimbunnya pepohonan.

Teras rumah ini sangat adem. Dengan lantai berwarna merah dan dinding putih serta padu padan kusen kayu, selaras dengan taman di depannya. Sebuah pemikul yang terpajang di teras depan mampu menunjukkan pemilik guesthouse adalah orang Madura.

"Ebo merupakan panggilan untuk ibu dalam bahasa Madura," ujar pengelola guesthouse, Kiki.

Dalam sejarahnya, bangunan ini didirikan pada zaman Belanda dengan gaya arsitektur yang berkembang di masa itu, art deco. Jika melihat sejarah art deco, kemungkinan guesthouse Ebo sudah ada sejak awal abad 19 yang terus berkembang di Indonesia pada pertengahan abad 19.

Rumah ini, beberapa kali pindah tangan. Awal mulanya rumah ini merupakan tempat tinggal orang Belanda yang dalam perkembangannya pindah kepemilikan ke ekspatriat Jerman. Mereka adalah pengajar di Goethe Institute. Dari sana beberapa kali pindah kepemilikan hingga jatuh ke Hadi Husni Mancanegara, yang merupakan keturunan asli dari Madura.

Sepeninggal kedua orangtuanya, kelima anak Hadi berkumpul sambil bermusyawarah dan kewalahan dengan biaya perawatan rumah tersebut. Saat itu, sempat berencana dijadikan tempat kosan, tapi khawatir tidak terawat. Akhirnya tahun 2006, dengan bantuan Kiki, rumah tersebut diubah menjadi guesthouse.

Awalnya, tamu di rumah Ebo berasal dari Jakarta dan Malaysia. Namun, tanpa sengaja lewat sebuah agen perjalanan, rumah Ebo menjadi rumah orang Malaysia ketika datang ke Bandung.

"Harga sewanya jauh lebih murah sehingga cocok dengan bujet orang Malaysia," tutur Kiki.

Orang Malaysia, sambung Kiki, doyan belanja dan itu tujuan utamanya datang ke Bandung.

"Makanya, buat mereka tempat menginap tak perlu bagus, yang penting bisa buat istirahat. Itu pula yang menyebabkan tamu Malaysia tidak serewel tamu Indonesia," ungkapnya.

"Tamu kami di weekday rata-rata dari Malaysia, dan hingga Juni 2010 sudah penuh," sambung perempuan kelulusan sekolah perhotelan ini seraya menyarankan untuk reservasi dua pekan sebelum menginap.

Selain Malaysia, Rumah Ebo juga menerima tamu backpacker dari Amerika, Finlandia, Australia, dan negara Eropa lainnya.

Backpacker ini biasanya menghabiskan waktu selama sepekan hingga sepuluh hari dengan mengambil kamar paling murah yakni single, tanpa kamar mandi di dalam. Meski begitu, dari kebanyakan tamu yang datang, mereka rata-rata menginap di guesthouse untuk mencari ketenangan (rileks).

Karena itu, dalam memberikan pelayanan, Rumah Ebo menekankan para pegawainya untuk membuat tamu merasa di rumah sendiri.

"Kita tetap menawarkan pada tamu untuk minum, jika ia ingin buat sendiri, kami akan menunjukkannya. Begitupun ketika tamu ingin masak sendiri, maka Rumah Ebo akan meminjamkan dapur beserta perlengkapannya. Bahkan jika musim duren tiba pada November-Desember, tamu bisa merasakan duren yang ditanam di guesthouse," promosi Kiki.
(nsa)

Baca Juga

Donald Trump Pantau Jejaring Sosial Whulandary

Donald Trump Pantau Jejaring Sosial Whulandary