Foto: Ist
SETELAH era stent salut obat untuk penyakit jantung koroner, kini muncul balon salut obat. Selain mencegah penyempitan ulang pembuluh darah, teknologi terbaru ini cocok untuk orang Indonesia.
Selain otak, jantung adalah pusat kehidupan. Organ ini bekerja memompa oksigen dan nutrisi melalui darah ke seluruh tubuh setiap hari tanpa henti. Jantung berdetak 100.000 kali per hari, atau memompa sekitar 2.000 galon per hari.
Setiap detakan menandakan jantung sedang beraktivitas memompa darah melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh. Pembuluh-pembuluh elastis ini bisa membawa darah ke setiap ujung organ tubuh. Namun, aliran darah dapat terhambat bilamana dinding pembuluh darah menyempit atau tersumbat oleh "kerak" (plak).
Agregasi, yakni proses pembekuan darah yang terlalu cepat, dapat menyebabkan darah menjadi lebih "kental" sehingga alirannya melambat. Namun, faktor dari luar seperti pola konsumsi makanan berkolesterol tinggi dapat menyebabkan naiknya kadar lemak darah (lipid) yang lambat laun memicu terbentuknya "karat" lemak pada dinding pembuluh darah. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, risiko terkena penyakit jantung koroner (PJK) pun mengintai.
PJK merupakan penyakit kronis di mana aliran darah yang kaya oksigen terhambat saat melewati arteri jantung. Hambatan ini disebabkan kondisi yang disebut aterosklerosis atau yang terkadang disebut "pengerasan arteri". Menurut WHO, PJK merupakan penyebab utama kematian yang meliputi 12,2 persen (7,2 juta) kematian di seluruh dunia.
Ahli jantung dan pembuluh darah, Prof Dr dr Teguh Santoso SpPD KKV SpJP FIHA FACC FESC, mengungkapkan, obat dan operasi bypass jantung merupakan golden standard penanganan PJK. Namun, permasalahannya tidak semua pasien PJK mau menjalani operasi.
Teguh mencontohkan kasus seorang pasien PJK berusia 71 tahun, sebut saja Tomi (bukan nama sebenarnya). Pada Oktober 2002, Tomi berobat ke Malaysia dengan keluhan nyeri dada yang acap timbul saat berjalan. Tes elektrokardiogram (EKG) menyatakan normal, tapi saat dites berjalan di atas treadmill hasilnya abnormal.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan lainnya, diketahui adanya penyempitan pada pangkal pembuluh koroner utama (left main) sehingga dokter menyarankan Tomi menjalani operasi bypass jantung.
Jika tidak dioperasi dan suatu saat timbul serangan dapat berakibat fatal, yakni mati mendadak. Namun, Tomi menolak dibedah dengan alasan takut.
Untuk pasien yang mengalami stenosis (penyempitan arteri koroner akibat timbunan plak aterosklerosis) dan tidak mau dioperasi seperti kasus tersebut, upaya yang bisa ditempuh adalah dengan pengerokan plak.
"Setelah dikerok, kondisi umumnya membaik. Namun, risiko kekambuhan bisa mencapai 30 persen. Untuk itu, alternatif solusinya adalah dengan intervensi koroner perkutan," ujar Teguh dalam acara temu media yang diselenggarakan PT B Braun Medical Indonesia dan RS Medistra di Jakarta, belum lama ini.
Intervensi koroner perkutan (Percutaneous coronary intervention/ PCI) atau dikenal sebagai angioplasti, merupakan upaya melebarkan saluran pembuluh darah dengan memasukkan pipa kateter yang dilengkapi balon atau stent (kawat penyangga). Setelah balon dikembangkan, otomatis penyempitan akan hilang. Jika stent ada pada balon, maka stent akan di-implant-kan (ditinggalkan dalam tubuh) untuk mendukung arteri dari dalam agar tetap mengembang.
Di kalangan pasien PJK, penggunaan stent sudah sedemikian populer hingga muncul istilah Stentomania alias "kegilaan stent". Kelemahannya, pasien yang telah menjalani pemasangan stent tidak tertutup kemungkinan mengalami penyempitan kembali di tempat stent tersebut (in stent restenosis). Pasalnya, stent yang terbuat dari logam biasanya masih menyisakan celah untuk timbulnya kerak baru.
Penyempurnaan pun dilakukan dengan dikeluarkannya stent bersalut obat (drug eluted stent/DES). Saat stent dipasang, pembuluh darah dapat mengalami trauma seperti robek sehingga memicu peradangan dan akibatnya timbul kerak baru. Nah, keberadaan obat di dalam stent ditujukan untuk mencegah timbulnya kerak baru sehingga angka penyempitan dapat diturunkan menjadi 80 persen lebih rendah dibanding stent biasa (tanpa obat).
Pemasangan DES, yang berbentuk cincin kawat yang dilapisi obat, saat ini merupakan prosedur paling lazim dan terbukti efektif digunakan bagi pasien PJK untuk memperlebar jalur arteri. Namun, risiko terjadinya pengentalan darah dapat muncul dalam jangka panjang setelah pemasangan stent.
Menurut teguh, risiko tersebut karena stent yang dipergunakan selama ini mengandung polimer yang berpotensi menginduksi trombosis (late stent thrombosis), terlebih jika didukung ketidakdisiplinan pasien pasca-pemasangan stent dalam melanjutkan pengobatan dual antiplatelet (sejenis obat pengencer darah).
"Masalah lainnya, ukuran stent paling kecil adalah 2,25 mm. Ini menjadi masalah jika pasien yang akan dipasang stent memiliki pembuluh darah yang kecil," tukasnya.
Inovasi terbaru lantas menawarkan balon salut obat (drug eluted balloon/DEB). Menurut Teguh, teknik teranyar ini menggunakan teknik stent tanpa dilapisi polimer, melainkan dengan suatu matriks yang bersifat bioabsorbel.
DEB akan menempelkan paclitaxel (sejenis obat anti proliferatif yang mengurangi pertumbuhan sel-sel jahat) di permukaan pembuluh darah dan akan diserap dengan cepat.
"Keunggulan teknik ini adalah mempersingkat masa terapi dual antiplatelet dan telah melalui beberapa penelitian klinis. DEB juga cocok untuk orang Indonesia yang pembuluh darahnya kecil-kecil," kata alumnus FKUI itu.
SeQuent Please dari B Braun adalah balon salut obat pertama di Indonesia yang diluncurkan pekan lalu. Pengembang dan peneliti SeQuent Please, Martin Unverdorben MD PhD (Tenure), mengungkapkan sejumlah keunggulan DEB jika dibandingkan DES.
Menurut dia, pada DES biasanya masih terdapat area di pembuluh darah yang tidak terkena obat. Pelepasan obat pada DES juga lebih lama dan dosisnya kecil. "Sementara pada DEB, pelepasan obatnya lebih cepat, dosisnya lebih besar, dan memapari hampir seluruh dinding pembuluh darah," beber ahli jantung yang telah menangani lebih dari 10.000 operasi jantung itu.
Studi kasus yang membandingkan secara langsung antara DES dan DEB menunjukkan bahwa para pasien yang mendapatkan DEB mengalami tingkat penyumbatan arteri dan gangguan jantung utama (major adverse cardiac events/MACE) yang lebih rendah dan durasi terapi pasca operasi yang lebih singkat.
(Koran SI/Koran SI/tty) Selain otak, jantung adalah pusat kehidupan. Organ ini bekerja memompa oksigen dan nutrisi melalui darah ke seluruh tubuh setiap hari tanpa henti. Jantung berdetak 100.000 kali per hari, atau memompa sekitar 2.000 galon per hari.
Setiap detakan menandakan jantung sedang beraktivitas memompa darah melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh. Pembuluh-pembuluh elastis ini bisa membawa darah ke setiap ujung organ tubuh. Namun, aliran darah dapat terhambat bilamana dinding pembuluh darah menyempit atau tersumbat oleh "kerak" (plak).
Agregasi, yakni proses pembekuan darah yang terlalu cepat, dapat menyebabkan darah menjadi lebih "kental" sehingga alirannya melambat. Namun, faktor dari luar seperti pola konsumsi makanan berkolesterol tinggi dapat menyebabkan naiknya kadar lemak darah (lipid) yang lambat laun memicu terbentuknya "karat" lemak pada dinding pembuluh darah. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, risiko terkena penyakit jantung koroner (PJK) pun mengintai.
PJK merupakan penyakit kronis di mana aliran darah yang kaya oksigen terhambat saat melewati arteri jantung. Hambatan ini disebabkan kondisi yang disebut aterosklerosis atau yang terkadang disebut "pengerasan arteri". Menurut WHO, PJK merupakan penyebab utama kematian yang meliputi 12,2 persen (7,2 juta) kematian di seluruh dunia.
Ahli jantung dan pembuluh darah, Prof Dr dr Teguh Santoso SpPD KKV SpJP FIHA FACC FESC, mengungkapkan, obat dan operasi bypass jantung merupakan golden standard penanganan PJK. Namun, permasalahannya tidak semua pasien PJK mau menjalani operasi.
Teguh mencontohkan kasus seorang pasien PJK berusia 71 tahun, sebut saja Tomi (bukan nama sebenarnya). Pada Oktober 2002, Tomi berobat ke Malaysia dengan keluhan nyeri dada yang acap timbul saat berjalan. Tes elektrokardiogram (EKG) menyatakan normal, tapi saat dites berjalan di atas treadmill hasilnya abnormal.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan lainnya, diketahui adanya penyempitan pada pangkal pembuluh koroner utama (left main) sehingga dokter menyarankan Tomi menjalani operasi bypass jantung.
Jika tidak dioperasi dan suatu saat timbul serangan dapat berakibat fatal, yakni mati mendadak. Namun, Tomi menolak dibedah dengan alasan takut.
Untuk pasien yang mengalami stenosis (penyempitan arteri koroner akibat timbunan plak aterosklerosis) dan tidak mau dioperasi seperti kasus tersebut, upaya yang bisa ditempuh adalah dengan pengerokan plak.
"Setelah dikerok, kondisi umumnya membaik. Namun, risiko kekambuhan bisa mencapai 30 persen. Untuk itu, alternatif solusinya adalah dengan intervensi koroner perkutan," ujar Teguh dalam acara temu media yang diselenggarakan PT B Braun Medical Indonesia dan RS Medistra di Jakarta, belum lama ini.
Intervensi koroner perkutan (Percutaneous coronary intervention/ PCI) atau dikenal sebagai angioplasti, merupakan upaya melebarkan saluran pembuluh darah dengan memasukkan pipa kateter yang dilengkapi balon atau stent (kawat penyangga). Setelah balon dikembangkan, otomatis penyempitan akan hilang. Jika stent ada pada balon, maka stent akan di-implant-kan (ditinggalkan dalam tubuh) untuk mendukung arteri dari dalam agar tetap mengembang.
Di kalangan pasien PJK, penggunaan stent sudah sedemikian populer hingga muncul istilah Stentomania alias "kegilaan stent". Kelemahannya, pasien yang telah menjalani pemasangan stent tidak tertutup kemungkinan mengalami penyempitan kembali di tempat stent tersebut (in stent restenosis). Pasalnya, stent yang terbuat dari logam biasanya masih menyisakan celah untuk timbulnya kerak baru.
Penyempurnaan pun dilakukan dengan dikeluarkannya stent bersalut obat (drug eluted stent/DES). Saat stent dipasang, pembuluh darah dapat mengalami trauma seperti robek sehingga memicu peradangan dan akibatnya timbul kerak baru. Nah, keberadaan obat di dalam stent ditujukan untuk mencegah timbulnya kerak baru sehingga angka penyempitan dapat diturunkan menjadi 80 persen lebih rendah dibanding stent biasa (tanpa obat).
Pemasangan DES, yang berbentuk cincin kawat yang dilapisi obat, saat ini merupakan prosedur paling lazim dan terbukti efektif digunakan bagi pasien PJK untuk memperlebar jalur arteri. Namun, risiko terjadinya pengentalan darah dapat muncul dalam jangka panjang setelah pemasangan stent.
Menurut teguh, risiko tersebut karena stent yang dipergunakan selama ini mengandung polimer yang berpotensi menginduksi trombosis (late stent thrombosis), terlebih jika didukung ketidakdisiplinan pasien pasca-pemasangan stent dalam melanjutkan pengobatan dual antiplatelet (sejenis obat pengencer darah).
"Masalah lainnya, ukuran stent paling kecil adalah 2,25 mm. Ini menjadi masalah jika pasien yang akan dipasang stent memiliki pembuluh darah yang kecil," tukasnya.
Inovasi terbaru lantas menawarkan balon salut obat (drug eluted balloon/DEB). Menurut Teguh, teknik teranyar ini menggunakan teknik stent tanpa dilapisi polimer, melainkan dengan suatu matriks yang bersifat bioabsorbel.
DEB akan menempelkan paclitaxel (sejenis obat anti proliferatif yang mengurangi pertumbuhan sel-sel jahat) di permukaan pembuluh darah dan akan diserap dengan cepat.
"Keunggulan teknik ini adalah mempersingkat masa terapi dual antiplatelet dan telah melalui beberapa penelitian klinis. DEB juga cocok untuk orang Indonesia yang pembuluh darahnya kecil-kecil," kata alumnus FKUI itu.
SeQuent Please dari B Braun adalah balon salut obat pertama di Indonesia yang diluncurkan pekan lalu. Pengembang dan peneliti SeQuent Please, Martin Unverdorben MD PhD (Tenure), mengungkapkan sejumlah keunggulan DEB jika dibandingkan DES.
Menurut dia, pada DES biasanya masih terdapat area di pembuluh darah yang tidak terkena obat. Pelepasan obat pada DES juga lebih lama dan dosisnya kecil. "Sementara pada DEB, pelepasan obatnya lebih cepat, dosisnya lebih besar, dan memapari hampir seluruh dinding pembuluh darah," beber ahli jantung yang telah menangani lebih dari 10.000 operasi jantung itu.
Studi kasus yang membandingkan secara langsung antara DES dan DEB menunjukkan bahwa para pasien yang mendapatkan DEB mengalami tingkat penyumbatan arteri dan gangguan jantung utama (major adverse cardiac events/MACE) yang lebih rendah dan durasi terapi pasca operasi yang lebih singkat.
Bagi pembaca yang ingin bertanya dalam rubrik konsultasi di kanal lifestyle, dapat mengirimkan pertanyaan ke email: konsultasi.lifestyle@okezone.com atau kirimkan via pos ke alamat redaksi okezone: Gedung Bimantara Lt 4, Jl Kebon Sirih Kav 17-19, Jakarta 10340, atau fax: (021) 390.2295. Penanya wajib mencantumkan nama dan alamat lengkap. Redaksi dapat mengedit materi pertanyaan tanpa mengubah maksud dan substansinya.