Saatnya Pria Bergaya

|

sindo -

Koleksi Giorgio Armani (Foto:FWD)

Saatnya Pria Bergaya
TAHUN 2008, industri mode dunia memasuki lembaran baru. Dari kota Milan, fashion show pun mulai digelar. Lini busana pria mengawali perhelatan mode bergengsi di Italia.

Awal tahun selalu menjadi kejayaan bagi busana pria. Pasalnya, pada waktu itulah pergelaran lini busana pria terbesar dihelat. Milan pun selalu menjadi panggung langganan, sebelum perhatian khalayak mode berpindah ke Paris, akhir bulan ini.

Pergelarann yang diselenggarakan mulai 12-15 Januari tersebut menampilkan koleksi yang menunjukkan bagaimana seharusnya pria bergaya. Meskipun begitu, jadwal pertunjukan yang dirasa terlalu padat membuat semua orang harus bekerja ekstrakeras. "Semua orang bekerja sangat cepat demi memenuhi jadwal," keluh Direktur Kreatif BottegaVeneta Tomas Maier. Padahal, konsumen dan pihak buyer butuh waktu untuk memahami masing- masing koleksi.

Di sisi lain, keluhan Maier sepertinya tidak mempengaruhi pergelaran. Buktinya, koleksi yang dihadirkannya mengundang banyak respons positif. Barisan busana bergaya kasual-elegan mendominasi catwalk Maier. Membuatnya mendapat lebih dari sekadar acungan jempol. Rancangan Maier dipastikan memimpin tren di musim gugur mendatang.

Palet muram yang dihadirkannya pun tidak menghapus kesan sophisticated khas Bottega Veneta. Hitam, cokelat, kelabu, dan putih hadir beriringan, memberikan varian gaya yang lengkap mulai dari kesan kontemporer pria urban hingga citra mewah khas red carpet.

Selanjutnya, giliran Giorgio Armani yang menawarkan tren barunya. Koleksinya yang hadir bersih tanpa cela, sengaja ditujukan bagi pria yang gemar tampil rapi jali. "Terlalu banyak koleksi yang berkesan berantakan akhirakhir ini," tuturnya. Adapun kesan sportif diperlihatkan melalui segmen busana kasual yang diadaptasi dari gaya pengunjung resor ski. Karenanya, tidak heran bila panggungnya pun didominasi ragam busana rajut. Meski tidak simpel,koleksi milik Armani tampil eklektik dalam gaya tumpuk.

Nuansa berbeda disajikan rumah mode Gianfranco Ferre. Musim gugur mendatang, brand asal Italia tersebut tampil lain. Berkesan dingin dengan garis rancangan tajam. Koleksi debut Lars Nilsson untuk label itu memang terlihat kontras dengan rancangan s ebelumnya. Nilsson mengatakan ingin memberikan sentuhan baru pada brand, sepeninggal Ferre Juli lalu. "Ini adalah visi baru saya untuk Gianfranco Ferre," ujarnya.

Panggung Dolce & Gabbana hadir tak kalah semarak. Bukan hanya karena koleksinya terlihat membumi, tapi juga berdaya pakai tinggi dan selaras dengan nuansa dingin musim gugur. Ragam pullover, sweater, bahkan jas malam disajikan dalam gaya kontemporer khas masyarakat urban. Sophisticated, namun tetap simpel.

Stefano Gabbana,salah seorang desainer D&G mengatakan, koleksi musim gugur mendatang terinspirasi dari para gembala Sisilia. "Mereka memiliki karakter yang menarik. Menggunakan pakaian tebal saat menggembala dan berubah rapi saat menghadiri pertemuan bisnis di kota," ceritanya.

Sementara itu, Burberry Prorsum memilih tampilan yang lebih halus. Sang desainer, Christopher Bailey, rupanya sedang terpengaruh mood romantis. Mood tersebut terlihat dari kombinasi nuansa klasik ala Paris serta sentuhan preppy look khas Inggris. Ragam koleksinya pun terlihat lembut, seperti kemeja sutra, rompi, sweater, serta kardigan, yang dipadankan bersama celana ketat serupa legging. Untuk luarannya, Bailey memberikan alternatif yang lebih mewah, berupa trench coat kulit dengan motif animal prints.

Namun, tidak ada yang mampu mengalahkan desainer Rusia Denis Simachev dalam hal pertunjukan unik.Koleksinya yang bergaya Cossack berhasil membuat kejutan. Simachev mendandani para modelnya dengan gaya militer yang dingin namun penuh warna. Selaras dengan koleksi Vivienne Westwood yang juga memancing decak kagum para penonton. Permainan warna serta motif abstrak yang diperkaya sentuhan punk rock memberi efek eksentrik, namun tetap wearable.

Gaya militer juga mewarnai koleksi milik Donatella Versace. Koleksinya yang berpalet muram didominasi bentukan overcoat dengan sabuk sebagai aksen. "Mantel dengan panjang mencapai lutut merupakan representasi kemewahan, terlebih bagi pria," sebutnya usai pergelaran.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Susi Pudjiastuti "Ketularan" Jokowi Batal Bicara