Gaya dengan Topi

Selasa, 1 April 2008 - 12:34 wib | sindo -

Foto: Corbis

Gaya dengan Topi
AKSESORI kepala yang paling populer ini dijadikan lambang mode dari waktu ke waktu. Topi juga mampu menyihir jutaan pencintanya untuk selalu setia bergaya.

Di dunia mode, topi memang memiliki pangsanya sendiri. Seakan tak pernah tergeser, layaknya busana, tiap tahunnya topi memiliki tren yang selalu berganti. Kini topi tak melulu dikenakan saat terik mentari membakar kulit, auranya yang kuat dan modelnya yang semakin beragam dari waktu ke waktu, tak ayal membuat beberapa kalangan tak pernah mau lepas dari aksesori yang satu ini.

Menurut perancang busana Jeanny Ang, selain sebagai penutup kepala, topi dari sudut mode dipandang sebagai faktor pelengkap atau aksesori dari baju yang dikenakan. "Apakah mau gaya 1960-an atau 1970-an yang harus dipakai. Untuk tren topi tahun ini, lebih ke arah topi yang kecil seperti Grace Kelly. Atau lazim disebut dengan topi fedora. Topi jenis ini akan memberi kesan simpel elegan dan minimalis," sebutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, baju yang pas dan cocok dikenakan saat memakai topi yaitu pakaian yang lebih ke semicocktail. Sementara itu, warna-warna natural seperti beige, cokelat, dan warna natural lainnya kerap jadi pilihan dewasa ini.

Sebenarnya, orang sudah mulai menutupi kepala dengan topi sejak zaman dahulu. Sekitar tahun 1400-1500-an, topi atau headwear dikenakan untuk melindungi kepala dari kecelakaan atau terluka, jatuhan batu, dan senjata. Seiring zaman yang semakin berkembang, topi dipergunakan sebagai simbol kekuasaan. Sekarang, topi mengalami perkembangan yang cukup pesat yang tak hanya dipakai untuk melengkapi sebuah seragam, juga untuk menciptakan cita rasa seni.

Dalam dunia mode, topi menjadi aksesori yang paling menonjol karena letaknya yang sangat menyita perhatian. Beberapa kalangan bahkan berujar, jika ingin terlihat menonjol dan diperhatikan, pakailah topi. Sekitar 85 persen panas tubuh terserap ketika mengenakan topi. Jadi, tak buruk bukan senantiasa menutupi kepala karena kepala merupakan aset yang paling berharga.

Setelah sempat vakum beberapa saat dan tak pernah dipakai secara universal sejak tahun 20-an, pencinta topi serasa terpuaskan dengan gaya Princess of Wales, Diana. Bagaimana tidak, pada awal 1980-an putri yang kerap dipanggil Lady Di merupakan pemakai setia pelindung kepala ini. Dia tampak percaya dire mengenakannya dalam berbagai acara yang ia datangi.

Melihat gelagat dan pasar yang cukup baik, semakin menggerakkan hati para desainer untuk menciptakan berbagai jenis topi yang menjadi tren. Harga yang dipatok pun cukup fantastis, apalagi kalau brand yang ditawarkan hasil keringat perancang maupun butik kenamaan. Sebut saja desain dari Burberry yang mengangkat citra anak muda dengan model topi fedora yang kini sedang gandrung di Tanah Air.

Pada dasarnya topi memiliki crown atau bagian puncak yang tinggi dan brim atau bagian samping yang mengeliling (ini bagian terluar dari topi). Serta trim, yaitu potongan topi. Model fedora atau lazim disebut topi tompi misalnya, memiliki crown yang tinggi, tapi sedikit melekuk pada bagian tengah dengan brim dan trim yang kecil. Sejumlah selebriti lainnya, seperti Dewi Sandra dan Ivan Gunawan juga kerap terlihat mengenakan model topi semacam ini. Jika penampilan klasik dan khas anak muda jadi pilihan Anda. Agaknya topi fedora ini layak dijadikan alternatif.

Beda lagi dengan mantan VJ dan penyanyi Shanty yang akrab dengan model topi koboi. Di mana topi jenis ini memiliki brim yang besar dan crown yang tinggi. Materialnya pun tak hanya dari kulit. Jerami dan anyaman pun banyak dijadikan material lainnya. Topi ini memang unik dan biasanya jika tampilan maskulin yang ingin dibangun, topi ini bisa dipilih.

Satu lagi yang jadi tren tahun ini model topi layaknya sang detektif Sherlock Holmes. Model topi ini memiliki brim di depan dan belakang yang memikat. Bahan katun dan tweed biasanya yang ditawarkan. Tampilan ini memberi kesan misterius dan dramatis.

Topi model baker atau newsboy cap akan jadi aksesori terbaik untuk penampilan gaya ketika bad hair day menyerang. Beberapa runway seperti Dior, Chanel, Hermes, dan Louise Vuitton misalnya sudah mengemasnya dalam replika yang menawan. Topi ala baker ini memang unik, crown-nya yang tak terlampau tinggi dikemas dengan brim pendek hanya di bagian depan saja. Bahan seperti katun dan tweed tanpa rangka, jadi ciri khasnya.

Baseball hat, lekat dengan topinya kaum lelaki. Bentuk crown yang pas di kepala dengan brim hanya di bagian depan yang sedikit memanjang merupakan topi yang paling tak lekang dimakan zaman. Topi yang dipopulerkan oleh bangsa Amerika ini nyatanya juga digemari kaum wanita.

Masih berada di jajaran atas tren tahun ini, model topi bean atau lazim disebut topi ala seniman tetap jadi pilihan untuk Anda yang bernapaskan seni tinggi dan ingin tampil beda.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Tidak Ada Seragam Keluarga, Jokowi Hemat