Getting Time...

Menuju Pusat Mode Busana Muslim

Nsa Lesthia K - Sindo
Jum'at, 25 Juli 2008 14:36 wib
detail berita
Foto: Yulianto/Sindo

Islamic Fashion Festival (IFF) kembali digelar. Di periode kelima ini, sekali lagi Jakarta menjadi tuan rumah. Memantapkan langkah menuju pusat mode busana muslim dunia.

Bertempat di Hotel Dharmawangsa Jakarta, IFF V berlangsung meriah. Sebanyak 300 tamu undangan baik dari Malaysia maupun Jakarta memenuhi ballroom yang telah disulap menjadi gala dinner venue. Di bawah lampu kristal raksasa, terbentang catwalk panjang, menjadi panggung pertunjukkan para model yang melenggang cantik sepanjang makan malam berlangsung.

Alya Rohali, yang didaulat menjadi pembawa acara malam itu, tampak cantik dalam balutan busana muslim koleksi Sebastian Gunawan. Dalam sambutannya, Founder & Chairman IFF Dato' Raja Rezza Shah mengatakan, penyelenggaraan IFF V ini menjadi bukti langkah maju yang dilakukan pihak penyelenggara guna menjadikan Jakarta, Kuala Lumpur, dan Dubai sebagai pusat mode busana muslim dunia, seperti halnya Paris, Milan, dan New York bagi brand-brand Eropa.

"Saya harap ke depannya, Kuala Lumpur, Jakarta, dan Dubai akan menjadi pusat mode bagi busana muslim," sebutnya.

Di atas catwalk, desainer papan atas Indonesia, Biyan Wanaatmadja, membuka pergelaran dengan menyajikan 10 koleksi busana muslim. Mengambil inspirasi dari gaya berpakaian para wanita Timur Tengah, pria yang lebih dikenal sebagai desainer busana kontemporer ini menghadirkan rangkaian abaya, gamis, dan long dress glamor, penuh detail kristal, manik-manik, serta embroidery yang menjadi ciri khas seorang Biyan.

Dengan menggunakan warna-warna gelap, layaknya biru pekat, hitam, juga kelabu, Biyan seolah menggambarkan kemewahan malam dalam outfit elegan yang kerap dikenakan wanita-wanita bangsawan. Sementara untuk siluetnya, Biyan tampaknya mengikuti pakem dan kaidah busana muslim. Pasalnya, rangkaian koleksinya hadir dalam potongan loose, oversized, serta longgar. Sama sekali tidak membentuk tubuh, melainkan jatuh dengan elegan di tubuh pemakainya.

Selanjutnya perancang kenamaan Malaysia, Dato' Tom Abang Saufi, menghadirkan koleksi bertema "Amber". Wanita ramah ini menjelaskan, rancangannya terinspirasi kecantikan batu amber. Karena itu, koleksinya tampil bergaya muda yang dikemas dalam warna-warna cerah. Padu-padan tunik panjang, celana pipa, gamis, serta long dress terlihat semakin cantik dengan detail lace dan motif lukisan tangan.

Albert King, yang juga berasal dari negeri jiran, mempersembahkan rangkaian evening dress glamor dalam tema "Al Mutheerah". Ragam gaun-gaun malam dari material mewah layaknya organza, sifon, tafeta, dan tulle hadir silih berganti dalam berbagai nuansa. Terkadang dinamis, manis, hingga ekstravagan.

Kontras dengan koleksi milik Itang Yunasz, yang justru mengetengahkan desain khusus ibadah alias mukena.
Tema "Spiritual Journey" yang dihadirkannya tampak selaras dengan 30 koleksi yang memenuhi catwalk malam itu. Mukena besutan Itang, tampil dalam berbagai gaya berbeda, terutama pada hiasan bordir, kerancang, serta renda yang semakin mempercantik rancangannya. "Saya hanya berusaha memperkenalkan detaildetail segar pada mukena," tutur Itang singkat.
Dia juga mengatakan, sebenarnya ingin menghadirkan 99 desain mukena, sesuai dengan Asmaul Husna. "Karena keterbatasan tempat, jadinya hanya 30 yang ditampilkan," sambungnya.

Adapun Kirana asal Malaysia menyajikan revolusi dalam berbusana bagi wanita muslimah modern melalui ragam prints serta bentukan busana kontemporer. Warna-warna cerah yang digunakan Kirana berpadu manis dengan potongan ringan serta detail mewah, layaknya kristal, beads, serta sequin. Sesekali siluet oversized hadir memberi alternatif gaya, begitu juga dengan sentuhan retro, yang semakin memperkaya rancangannya.

Terakhir Sebastian Gunawan menutup pergelaran dengan cantik. Gaun-gaun bermotif paisley dalam warna-warna gelap hadir memikat. Siluet oversized, loose, serta asimetris mendominasi catwalk, menciptakan gaya berbusana baru bagi para muslimah. Bukan hanya itu, desainer yang akrab disapa Seba ini juga "mendandani" muslimah modern agar lebih berani dalam bergaya melalui cutting-cutting unik yang jauh dari busana muslim pada umumnya, yakni berupa gamis, tunik, maupun abaya.

Islamic Fashion Festival dirumuskan pertama kali di Kuala Lumpur tahun 2006 dengan tujuan memopulerkan islamic fashion di panggung mode dunia. Seiring berjalannya waktu, IFF berkembang dan semakin meluas hingga ke Asia Barat, dan pada akhirnya Dubai menjadi tuan rumah pelaksanaan IFF selain Kuala Lumpur dan Jakarta. Kendati sudah dikenal dalam skala yang lebih luas, tujuan utama IFF tidak bergeser.
(tty)

Beri komentar