Sekolah Broadcast, Lumbung yang Belum Dilirik

|

sindo -

Foto: Corbis

Sekolah Broadcast, Lumbung yang Belum Dilirik
INDUSTRI broadcast menjanjikan peluang besar. Namun, pertumbuhan sekolah broadcast terkendala mahalnya biaya peralatan dan kurangnya pengajar profesional.

Dunia broadcast, baik televisi maupun radio, bertumbuh pesat setelah orde reformasi. Sayang, pertumbuhan itu belum disertai dengan penyediaan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional. Pertumbuhan itu bisa dilihat dengan munculnya banyak stasiun radio dan sejumlah stasiun televisi baru dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan ini berdampak pada sengitnya persaingan, di mana media siaran dituntut untuk membuat program yang berkualitas. Tanpa program yang berkualitas, media-media itu tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar atau menjadi corong pihak-pihak tertentu.

Untuk membuat program yang berkualitas, diperlukan orang-orang dengan kompetensi tertentu. Sayang, kebutuhan ini yang belum digarap secara optimal. Kondisi ini yang melatarbelakangi didirikannya School for Broadcast Media (SBM).

"Kami ingin menciptakan orang-orang di media siaran atau jurnalis itu yang fair, profesional, dan berintegritas," kata Patar Simatupang, Program Development Manager SBM.

Semula, saat didirikan pada 2005, SBM didanai dari Komunitas Eropa (EC), BAPPENAS, dan UNDP. Namun, setelah setahun, mereka diminta untuk jadi mandiri.

Menurut Patar, permintaan yang tinggi untuk menyediakan para pelaku dunia siaran yang profesional memang memberikan peluang yang besar. Namun, peluang itu masih belum dilirik sepenuhnya karena mahalnya peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sekolah broadcast yang bermutu.

"Karena peralatan mahal, biaya untuk sekolah broadcast pun jadi mahal. Sulit untuk dijangkau kebanyakan orang di Indonesia," tukas mantan jurnalis televisi di sebuah stasiun televisi swasta itu.

Patar mengungkapkan, karena mahalnya ongkos itu, sekolah broadcast terpusat di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. Penyebaran yang tidak merata ini pula membuat sekolah yang berada di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur ini lebih banyak memberikan pelatihan pada orang-orang dari luar Jakarta.

Jika SBM fokus pada pemenuhan para praktisi media siaran di lingkup pemberitaan, maka Indonesian Commercial Jockey (ICJ) lebih menitikberatkan pada bidang yang lebih komersial di radio. Sekolah yang bertempat di Jalan Timo Terusan Kompleks PLN Duren Tiga, Jakarta Selatan, ini ingin menyediakan tenaga commercial jockey (profesional pengisi suara iklan), profesional radio DJ (penyiar), serta profesional radio program & produksi. Tenaga ini banyak dibutuhkan dengan makin tumbuhnya industri siaran.

Menurut Muhammad Dive, pendiri ICJ, selain untuk memenuhi tenaga profesional, pendirian sekolah ini juga untuk melakukan regenerasi. Menurut Dive, minimnya para tenaga profesional bidang ini membuat para praktisi berputar pada orang yang itu-itu saja.

"Belum lagi soal pandangan bahwa untuk jadi penyiar yang penting adalah tampang dan ngocol serta keberuntungan. Padahal, diperlukan banyak kompetensi lain untuk jadi profesional di bidang penyiaran," katanya.

ICJ, ungkap Dive, punya banyak jaringan dengan industri media siaran. Hampir seluruh lulusannya bisa masuk ke media siaran tanpa halangan berarti. Karena itu, tidak semua orang bisa mendaftar di sekolah ini. Sekolah ini melakukan seleksi yang cukup ketat. Setiap kelas hanya berisi maksimal 6 orang.

"Ini terkait soal perlengkapan. Kami membatasi pendaftar agar mereka bisa optimal belajar karena tidak harus bergantian dengan terlalu banyak orang," tuturnya.

Karena kecilnya kelas itu, para alumni sekolah yang didirikan sejak 2004 itu saling mengenal. Malah, beberapa di antaranya menyempatkan diri untuk mengajar di sela-sela kesibukan sebagai profesional di dunia penyiaran.

Sementara itu, Next Academy yang terletak di Jalan Pejaten, Jakarta Selatan, lebih fokus untuk menyiapkan orang-orang profesional yang akan membuat program televisi. Mulai berita, kuis, film dokumenter, sinetron, film, hingga acara lainnya.

Bilal Daulay, Director Next Academy melihat kebutuhan tenaga yang mampu untuk membuat program tersebut sangat besar. Tantangan utama pengembangan bidang ini, lanjut Bilal, selain peralatan yang mahal adalah kesulitan dalam merekrut tenaga pengajar yang profesional. Para profesional di bidang ini lebih tertarik untuk fokus di bidang mereka saja.
(tty)

berita terkait

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Makanjara, Tarian Orangtua Wakatobi