Puasa Sehat dengan Food Combining

|

Chaerunnisa - Okezone

Foto : Corbis

Puasa Sehat dengan Food Combining
MENUNAIKAN ibadah puasa saat Ramadan selalu diawali dengan rutinitas sahur dan berbuka puasa. Berderet-deret aneka macam hidangan yang sangat menggugah selera kala waktu sahur dan berbuka selalu menggiurkan mata. Bagi Anda yang tidak memiliki pantangan, makanan atau minuman jenis itu tetap dapat dikonsumsi. Tapi, bagaimana dengan Anda yang menganut Food Combining (FC)?

Wied Harry Apriadji, host Harmony di Trans TV, yang menerapkan food combining sejak tahun 2000, mengungkapkan dengan menerapkan pola makan FC maka harus sehat alami yaitu sesuai dengan teori keseimbangan asam-basa tubuh.

Menurut Wied, prinsip FC itu adalah disesuaikan dengan siklus tubuh kita yang terdiri dari tiga macam. Yaitu pagi hari saat membuang, makanya buang air besar (BAB) itu pagi hari. Untuk siang hari adalah siklus mencerna. Pada saat itulah kita makan yang berat. Pada pukul 20.00-21.00 WIB kita seharusnya tidak makan lagi, karena pada pukul 06.00 WIB itu proses asimilasi tubuh (pemanfaatan nutrisi untuk membangun sel).

Nah, pada saat sahur dan berbuka puasa penerapan pola sehat itu tetap harus diterapkan dengan prinsip tersebut. Apalagi saat Ramadan merupakan kesempatan melakukan detox secara holistik untuk psikis dan fisik. Jadi benar-benar dilakukan dengan spirit.

"Food combining bisa tetap berpuasa dengan penerapan saat berbuka disamakan dengan makan siang, yaitu tidak mencampurkan makanan hewani dan nabati. Sementara untuk membatalkan puasa, disarankan makan yang manis-manis. Tapi harus bijaksana menerapkannya, yaitu manis yang alami, semisal kurma. Kurma baik karena dalam kandungan gulanya terdapat zat gizi dan mengandung serat. Gula yang terdapat dalam kurma tidak menaikkan kadar darah, berbeda dengan gula dalam teh manis, kolak, atau es buah. Karena itu, kurma untuk gula darah itu baik, kolak atau es buah bukan pilihan yang terbaik," papar Wied kepada okezone saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu (14/9/2008).

Saat kurma tidak ada, alumni jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB Bogor itu menyarankan untuk menggantinya dengan buah kering yang lain semisal kismis atau apricot. Kendati ketiga jenis buah-buahan itu sehat, tetapi Anda yang menderita maag harus hati-hati karena bisa memicu gas lambung. Lalu, bagaimana mengatasinya?

"Agar produksi asam lambung tidak terlalu tinggi, buah-buahan kering itu dapat dikunyah dengan kencang sampai kena air liur baru ditelan," ungkap pria yang mengambil Program Magister Manajemen di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini.

Selain buah kering, bagi Anda yang menerapkan FC dapat berbuka dengan jus buah yang bukan berasal dari suhu dingin. Jus yang dihasilkan bisa diblender dengan daging buahnya. Setelah berbuka puasa, salat dulu, buah yang dikonsumsi pun sudah turun ke lambung.

Sementara untuk makan sahur, pria ramah ini menuturkan untuk mengikuti prinsip jam makan pagi, yaitu sarapan buah.

"Kita bisa mengonsumsi buah potong atau jus buah. Bisa juga ditambah makanan lain yang mudah dicerna semisal yoghurt putih, telur yang direbus atau digoreng dengan sedikit minyak dan dicampur dengan sedikit sayuran," kata pria yang telah mengeluarkan banyak buku mengenai food combining ini.

Masih menurut Wied, mereka yang menerapkan FC tetap dapat berpuasa sehat, bahkan tidak lemas. Menurutnya, mereka yang lemas saat berpuasa karena sahur dan berbuka puasa dengan mengonsumsi berbagai macam jenis makanan yang banyak.

"Yang membuat kita lemah itu makan banyak dan dicampur dengan protein, karbohidrat, dan lemak yang banyak. Kondisi lemas terjadi karena energi kita terpakai untuk mencerna makanan. Tapi untuk FC, jenis makanannya mudah dicerna, sehingga tidak membutuhkan banyak energi yang dilepaskan untuk mengolah makanan tersebut," pungkasnya.
(nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pariwisata, Tulang Punggung Indonesia