Sadomasokis, Kelainan Seksual Dipengaruhi Kejiwaan

|

sindo -

Tamara Schlesinger/Cosmopolitan

Sadomasokis, Kelainan Seksual Dipengaruhi Kejiwaan
BANYAK cara untuk melampiaskan hasrat seseorang dalam melakukan hubungan seksual. Bisa dengan cara alami bahkan bisa juga dengan menyimpang seperti sadomasokis.

Konsultan seks, Dr Ferryal Loetan, ASC&T, Sp RM, MKes-MMR mengatakan, banyak sekali bentuk penyimpangan seksual yang terjadi pada seseorang. Misalnya, orang yang suka berhubungan seks dengan binatang (bestiality), orang yang suka berhubungan seks dengan mayat (necrophily), orang yang senang dengan benda-benda milik perempuan (fetishism) dan sebagainya

Salah satu penyimpangan seksual adalah sadomasokis. Ini merupakan bentuk penyimpangan seksual melalui penyiksaan. Kata sadomasokis itu adalah gabungan dari sadis dan masokis.

"Sadis itu adalah suatu kelainan saat seseorang akan mengalami kenikmatan penuh saat menyakiti lawan jenisnya secara fisik dan psikis. Sementara, masokis adalah lawannya yaitu seseorang yang mendapatkan kenikmatan saat disakiti oleh pasangannya," ujar dokter yang juga berpraktik di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta.

Ferryal menuturkan, sadomasokis ini berbahaya atau tidaknya dilihat apabila seorang sadistis bertemu dengan seorang masokis. Alasannya, karena keduanya klop dan saling mengisi. Tetapi jika salah satu bertemu dengan orang normal, barulah di sini akan menjadi masalah.

"Bahayanya, jika orang normal jelas akan tersakiti kalau dia bertemu seorang sadistis. Karena, dia akan mengalami kesakitan fisik maupun psikis. Kedua kondisi ini termasuk kelainan seksual yang berhubungan dengan kejiwaan," papar dokter yang juga berpraktik di Win Klinik, Kamar Sutera, Kelapa Gading Square Jakarta.

Dijelaskan Ferryal, penyebabnya bisa ditimbulkan dari berbagai hal. Tetapi umumnya ada suatu trauma kejiwaan yang berhubungan dengan aktivitas seksual saat si penderita dalam masa pertumbuhan.

Pada seseorang yang mempunyai penyakit sadomasokis, jelas Ferryal, jika dilihat dari segi fisik (luar) maka tidak akan tampak suatu kelainan. Kelainan akan terlihat saat masuk dalam fase aktivitas seksualnya sendiri. Psikolog yang juga seksolog dari Universitas Diponegoro Semarang, Dra Hastaning Sakti, Psikolog, M Kes, menjelaskan, sadomasokis termasuk salah satu gangguan deviasi atau penyimpangan seksual. Sado atau sadism biasanya dilakukan oleh pria terhadap wanita dengan cara menganiaya.

"Masokisme adalah kecenderungan yang tidak normal untuk mendapatkan kesenangan karena disakiti orang lain. Masokis adalah orang yang mendapat kesenangan karena atau dengan cara disakiti orang lain. Karena pada pelaksanaan hubungan seksual itu berpasangan (antara pria dan wanita), maka disebutlah sadomasokisme. Artinya, lebih pada wanita yang jadi korbannya," papar Hasta panggilan akrab Hastaning.

Menurut Hasta, apabila dari sudut pandang kesehatan reproduksi wanita, sadomasokis ini sangat berbahaya. Kenapa mau-maunya cewek atau wanita diperlakukan dengan cara diikat atau dipaksa dengan cara yang tidak wajar.

"Anehnya memang si wanitanya sendiri juga mau dan mampu memuaskan dan terpuaskan," papar Psikolog yang juga pengajar di Fakultas Psikologi UNDIP ini.

Dia juga menambahkan, kalau sudah begitu apakah bisa dikatakan berbahaya secara psikologis? Kalau mau sama mau dan itu pilihan mereka, maka secara psikologis tidak berbahaya. Namun, akan menjadi berbahaya manakala mereka tahu akan bahaya atau efek samping luka vagina dan kemungkinan tertularnya PMS, HIV, dan AIDS.

Hasta menjelaskan, dalam sadomasokisme, sepertinya tidak ada yang menderita dan tidak ada yang jadi korban. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka. Sadomasokis termasuk dalam gangguan penyimpangan seksual, karena dinilai secara sosial tidak wajar.

"Kalau dikatakan sakit jiwa saya rasa tidak, karena mereka pasti melakukan dengan berpasangan, baik berdua ataupun bertiga bahkan berempat sekalipun. Dan cara melakukannya pun tentunya telah mereka sepakati," paparnya.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Warna Urin Tentukan Kesehatan Anda