Getting Time...

Obesitas Anak

Tingkatkan Risiko Kecacatan

Koran SI - Koran SI
Senin, 4 Mei 2009 08:48 wib
detail berita
Foto: Corbis

JANGAN lagi menganggap anak kegemukan itu lucu. Riset terbaru menyebutkan,anak yang kelebihan berat badan apalagi obesitas lebih rentan mengalami cedera, bahkan kelumpuhan di kemudian hari.

Gemas dan ingin mencubit, itulah yang kerap dirasakan setiap orang jika melihat anak kecil yang gemuk dan berpipi chubby. Belum lagi saat si kecil yang kegemukan ini berjalan atau berlari, yang melihat pun acap kali terpancing untuk tertawa. Nah, mulai sekarang jangan lagi menganggap hal tersebut sebagai lelucon atau bahan tertawaan. Justru sebaliknya, bobot badan berlebih maupun obesitas yang terjadi sejak masa kanak-kanak merupakan keprihatinan tersendiri.

Sebuah penelitian terbaru di Amerika menyebutkan, anak-anak obesitas berisiko lebih tinggi mengalami cedera tulang dan otot tubuh bagian bawah dibandingkan teman sebayanya yang tidak obesitas. Penelitian yang bertujuan mencari hubungan antara bobot badan dengan kasus kecelakaan (cedera) pada anak-anak tersebut melibatkan data dari 23.000 anak yang berobat ke unit kedaruratan (emergency department) Rumah Sakit Anak Cincinnati antara tahun 2005-2008.

Diketahui bahwa keseleo pada pergelangan kaki atau kaki merupakan kasus paling umum dari cedera anggota tubuh bawah. Makin gemuk seorang anak, makin sulit dia bergerak dan keseimbangan badan juga terkadang kurang baik, misalkan kaki sering terkilir.

Lemak yang bertumpuk di daerah paha bisa menyebabkan gesekan dan lecet, tumbuh kuman sehingga badan anak mengeluarkan aroma tidak sedap. Lemak di area leher juga bisa mengganggu saluran napas, lalu timbul ngorok. Begitu pula penumpukan lemak di perut dapat menekan otot diafragma yang berakibat napas menjadi sesak.

"Mengingat pasien obesitas mengalami peningkatan massa tubuh dan tekanan, mereka cenderung lebih rentan keseleo atau terpeleset dibandingkan anak-anak berbobot badan ringan. Kasus lainnya yang umum dialami adalah patah tulang dan ruam kulit akibat gesekan," kata ketua tim penulis studi, Dr Wendy Pomerantz, seorang dokter spesialis emergency medicine dari Rumah Sakit Anak Cincinnati.

Studi yang dipresentasikan, Sabtu (2/5), dalam pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies di Baltimore tersebut lantas menyimpulkan, satu dari enam pasien anak cedera yang berobat di unit kedaruratan rumah sakit anak tersebut adalah obesitas.

"Proses pemulihan cedera pada anak obesitas biasanya lebih lama karena pertambahan bobot dan stres juga turut memperberat kondisinya," sebut Pomerantz.

Masih berkaitan dengan obesitas pada usia dini, sebuah penelitian terbaru lainnya melaporkan, orang yang saat masa kanak-kanak atau masa remajanya obesitas berisiko mengalami keterbatasan gerak (immobility) seperti gangguan berjalan atau rasa sakit saat menaiki tangga.

Lebih jauh lagi adalah kelumpuhan ataupun kecacatan di kemudian hari. Makin lama seseorang berada dalam kondisi kelebihan berat badan, makin besar pula risiko terbatasinya laju gerak orang yang bersangkutan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Epidemiologi Amerika tersebut melibatkan lebih dari 2.800 orang dewasa Amerika usia 70-an dalam kurun waktu 7 tahun.

Peneliti mencatat tiga poin berat badan, yaitu saat mereka berusia 25, 50, dan bobot saat ini. Secara umum, wanita yang mengalami kelebihan bobot badan pada tiga poin tersebut, kecenderungannya juga tiga kali lebih besar untuk mengalami keterbatasan gerak dibanding partisipan sebayanya yang berbobot normal.

Pada pria, risiko ini bahkan mencapai 61 persen. Peningkatan risiko ini juga berlaku bagi partisipan yang saat ini berbobot normal, tetapi pernah kelebihan berat badan sebelumnya. Menurut Dr Denise Houston dari Sekolah Kedokteran Universitas Wake Forest di Winston-Salem, Karolina Utara, hal tersebut mungkin karena penurunan berat badan pada orang dewasa acapkali disebabkan kesehatan yang memburuk.

"Temuan tersebut menggarisbawahi pentingnya mencegah peningkatan bobot badan berlebih sejak usia dini," ujar Houston yang menjabat kepala penelitian tersebut.

Berdasarkan data penelitian yang didapat, Houston mengemukakan bahwa upaya mencegah kelebihan berat badan ataupun obesitas pada remaja dan orang dewasa muda diyakini bermanfaat dalam mencegah atau menunda terjadinya gangguan gerak di kemudian hari.

Bagaimana mekanismenya? Kelebihan berat badan dapat berperan dalam ketidakmampuan atau keterbatasan gerak (disabilities) di kemudian hari dengan munculnya masalah gangguan sendi atau meningkatnya risiko ma-salah kesehatan kronis seperti penyakit jantung dan diabetes.

Orang yang sejak muda sudah kelebihan berat badan, umumnya disebabkan pola hidup "sedenter"alias kurang gerak, yang otomatis menjadikannya tidak bugar dan kekuatan ototnya lemah. Akibatnya, di kemudian hari mereka lebih rentan mengalami kelumpuhan atau kecacatan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/ CDC) Amerika mengungkapkan, selama ini obesitas juga diduga kuat menyebabkan peningkatan risiko terkena diabetes mellitus tipe 2, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi dan faktor lainnya yang mengarah pada penyakit terkait pembuluh darah jantung (penyakit kardiovaskular/ PKV).

Jauh sebelum berkembangnya ilmu kedokteran modern, Hipocrates yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran juga pernah meramalkan bahwa sudden death (kasus kematian mendadak) pada orang gemuk lebih sering terjadi dibanding mereka yang berbobot ideal.

"Jadi, perlu ditanamkan pemahaman, termasuk pada anak-anak bahwa kesehatan itu berhubungan dengan berat badan ideal," tandas spesialis anak dari RS Pondok Indah Jakarta, dr H Adi Tagor H SpA DPH. (nsa)

Beri komentar